Selasa, 02 Mar 2021,

amsi-harus-menjaga-ekosistem-digital-yang-adil-bagi-media-onlineRakernas AMSI diselenggarakan secara virtual, Sabtu (23/1/2021). (istimewa)


Siaran Pers
AMSI Harus Menjaga Ekosistem Digital yang Adil bagi Media Online

SHARE

KORANBERNAS.ID, JAKARTA—Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wenseslaus Manggut mengatakan, organisasi ini punya kewajiban untuk ikut membantu menjaga agar ekosistem digital berkembang lebih fair untuk media online. Dia mengakui, lanskap media saat ini lebih rumit. Sisi bisnis dan distribusi menjadi komoditi terbesar yang tidak seluruhnya dikuasai oleh media, tapi menjadi ceruk bisnis bagi platform.

Manggut mengatakan hal ini, saat berbicara dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) AMSI, Sabtu (23/1/2021). Rakernas digelar secara virtual, dihadiri oleh 65 peserta yang menjadi perwakilan dari 21 AMSI wilayah se Indonesia, Pengurus Nasional AMSI, Majelis Etik serta Badan Pertimbangan dan Pengawasan Organisasi. Rakernas fokus membahas upaya pembenahan internal organisasi, agar ke depan bisa lebih profesional. Rapat juga membahas kondisi eksternal untuk mendorong ekosistem digital yang lebih sehat.


Meski diselenggarakan secara virtual, rapat kerja melibatkan partisipasi seluruh cabang. Setiap wilayah diminta menyampaikan paparan kondisi eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja organisasi di tingkat lokal, serta memaparkan kondisi internal AMSI wilayah dari aspek kepengurusan dan kondisi anggota.

Sekjen AMSI Wahyu Dhyatmika menambahkan, sinkronisasi kondisi eksternal dan internal AMSI Pusat dan wilayah, penting dilakukan untuk membangun persepsi yang sama antara pengurus pusat dan wilayah.


“Mensinkronkan kebutuhan program AMSI nasional dan AMSI wilayah diperlukan, agar terbangun persepsi yang searah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ingin dicapai,” ujar Pemimpin Redaksi Majalah Tempo ini.

Perwakilan Majelis Etik, Yosep Adi Prasetyo, mendorong AMSI mengubah cara berpikir sebagai organisasi perusahaan pers.

“AMSI perlu mengubah cara berpikir dari wartawan menjadi cara berpikir pebisnis untuk kesejahteraan pers. Karena itu diperlukan panduan dan prinsip etika bisnis perusahaan-perusahaan media siber,“ujarnya.

Mantan Ketua Dewan Pers ini mengatakan, panduan kelak tidak hanya berisi nilai-nilai, tapi juga mencakup kebijakan, etika dan prinsip bisnis anggota AMSI serta sanksi.

“AMSI perlu panduan dan prinsip etika bisnis yang mempertajam etika AMSI sebagai asosiasi perusahaan pers. Pada dasarnya AMSI adalah organisasi non profit, namun juga perlu meluaskan misi agar profitable,” ujarnya.

Perwakilan Badan Pertimbangan dan Pengawas AMSI I’in Yumiyanti menambahkan, sebagai organisasi pers, AMSI perlu melakukan inisiatif-inisiatif baru sebagai rintisan untuk memperkuat organisasi. Langkah strategis tersebut penting untuk membantu anggota agar survive dari krisis akibat pandemi Covid-19 dan tetap menjalankan marwah pers yang independen serta dapat dipercaya publik.

Ia menekankan, penguatan kapasitas anggota mencakup segi editorial, cek fakta, dan bisnis, perlu diluaskan sampai anggota yang berada di wilayah, agar tercapai pemerataan kualitas media dan keberlangsungan bisnis media anggota AMSI. Ia menambahkan untuk meningkatkan kredibilitas, program eksisting Cek Fakta AMSI menjadi brand “member Cek Fakta AMSI”, sehingga ke depan menjadi kuat sebagai “jaminan mutu” anggota AMSI.

Selain itu, I’in menekankan AMSI perlu tetap memberi perhatian serius terhadap kesejahteraan dan masalah-masalah penting wartawan.

“Meskipun AMSI beranggotakan perusahaan pers bukan beranggotakan wartawan, perlu diingat wartawan merupakan pilar utama pers,” ujar Wakil Direktur Detiknetwork ini. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini