atas1

Aparat Tidak Boleh Jadi Bagian dari Konflik

Selasa, 21 Mei 2019 | 22:37:37 WIB, Dilihat 1716 Kali - Oleh Redaktur

SHARE


Aparat Tidak Boleh Jadi Bagian dari Konflik Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi SE MM melaksanakan kunjungan ke Satkowil. (istimewa)

Baca Juga : Saat Anggota TNI Bagikan Takjil Gratis


KORANBERNAS.ID – Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi SE MM melaksanakan kunjungan ke beberapa Satuan Komando Kewilayahan (Satkowil), Selasa-Rabu (14-15/5/2019).

Dia mengingatkan, apabila terjadi konflik di masyarakat aparat harus bisa berdiri di antara dua pihak yang bertikai. “Aparat harus netral dan bukan menjadi bagian dari konflik,” tegas Pangdam.

Terkait hal itu, Aparat Komando Kewilayahan (Apkowil) dituntut mampu mengantisipasi serta mengatasi setiap permasalahan yang muncul di wilayah sesuai dengan kewenangannya.

“Optimalkan peran deteksi dan cegah dini harus menjadi salah satu fungsi agar setiap potensi konflik yang terjadi di wilayah tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius,” kata dia.

Pangdam meminta satuan jajarannya selalu memonitor perkembangan situasi di wilayahnya serta melakukan deteksi dan cegah secara dini terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi tanpa harus bertindak represif.

"Laksanakan komunikasi dan koordinasi secara intensif dengan aparat terkait, serta jaga soliditas dan sinergitas. Aparat harus bisa jadi contoh," tambahnya.

Selain itu, Apkowil juga harus bisa meningkatkan ketokohannya saat melaksanakan pembinaan teritorial. Masing-masing harus bisa menjadi teladan dalam sikap dan perbuatannya. Apkowil juga harus peduli dan memiliki kedekatan dengan rakyat.

"Kehadiran Apkowil harus bisa menjadi panutan dan dapat memberikan rasa aman, nyaman dan damai, sehingga kehadirannya selalu dinantikan, dihormati dan disegani bukan sebaliknya," pinta orang nomor satu di Kodam IV/Diponegoro ini.

Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi SE MM menyampaikan pengarahan di lapangan. (istimewa)

Sekali lagi Pangdam menegaskan, jangan sampai Apkowil menjadi korban konflik karena rakyat tidak mengenal Babinsa-nya, apalagi menjadi bagian dari konflik.

Oleh karena itu, aparat yang berdinas di wilayah harus berwawasan luas, mau menjadi partner dan pendengar yang baik serta peka terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya, agar dapat berkontribusi terhadap kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah binaan.

"Dengan situasi dan kondisi yang ada saat ini, kehadiran Apkowil diharapkan mampu meredam konflik secara persuasif dan damai. Hal itu bisa dilakukan bila setiap permasalahan dapat diketahui dan diselesaikan sedini mungkin serta para Apkowil memiliki kedekatan dengan rakyat sehingga kehadiran dan omongannya disegani dan dipatuhi masyarakat binaannya," tegas Jenderal bintang dua di pundaknya.

Menurut dia, para aparat kewilayahan harus bisa menunjukkan komitmen serta jati dirinya sebagai tentara yang bersapta marga dan bersumpah prajurit serta selalu menjalankan 8 wajib TNI.

Bila aparat kewilayahan memiliki sikap dan perilaku sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku serta mampu menjaga dan memegang teguh komitmen netralitas maka dirinya akan menjadi  aparat sekaligus tokoh yang dihormati dan disegani.

Aparat sekaligus tokoh masyarakat akan memiliki pengaruh besar, dihormati dan disegani masyarakatnya karena aktivitasnya, kecakapannya dan sifat-sifat baik yang dimilikinya. (iry)



Selasa, 21 Mei 2019, 22:37:37 WIB Oleh : Redaktur 271 View
Saat Anggota TNI Bagikan Takjil Gratis
Selasa, 21 Mei 2019, 22:37:37 WIB Oleh : Nila Jalasutra 225 View
Jadi CPNS Tidak Boleh Seenaknya
Selasa, 21 Mei 2019, 22:37:37 WIB Oleh : Sari Wijaya 245 View
Generasi Terbaru AKSes Diluncurkan

Tuliskan Komentar