Bazar Durian Tak Pernah Sepi

Catatan Ringan dari Pukhet Island (4-Habis)

421
Phi Phi Beach, pusat oleh-oleh makanan di Phuket Island. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Ada persamaan antara orang Indonesia dan Thailand. Sama-sama suka durian. Ke Thailand pasti kebayang durian montong yang manis berdaging tebal. Atau jambu Bangkok yang dagingnya tebal dengan sedikit isi.

Ternyata bulan ini durian montong sedang tidak banyak berbuah. Artinya, harganya mahal. Masuk di bazar durian dekat mal, aroma durian begitu menyengat.

Pedagang memajang durian kupas dalam kap plastik. Isi tiga pongge ditawarkan 300 Bath. Akhirnya harga jadi 200 Bath atau sekitar Rp 90.000. Tapi enaknya bukan main.

Menurut Yamin, pemandu wisata, di Thailand ada sekitar 20 jenis durian. Termasuk durian kampung, yang rasanya belum tentu enak tetapi harganya jauh lebih murah dibanding durian montong.

Apabila lagi musim dan panen raya harga durian montong  relatif lebih murah. Meski mahal, pendatang biasanya tidak sayang mengeluarkan uang untuk membeli durian di tanah aslinya ini.

Bazar durian tak pernah sepi pembeli. Selain dijual dalam bentuk kupas, durian juga dijual dalam bentuk olahan. Dikeringkan dalam bentuk kotak-kotak seperti permen. Atau dikemas dalam aluminium foil berisi 10 plastik harganya kalau dirupiahkan sekitar Rp 140.000.

Durian kemasan itu di lidah terasa durian asli tanpa campuran. Hanya saja kemasannya terkesan begitu besar karena melembung, isinya tidak seperti dibayangkan.

Durian juga dibuat berbagai makanan olahan, termasuk kopi durian. “Wuiiih, rasa duriannya nendang betul,” kata Wahyu, seorang wisatawan asal Indonesia saat sedang minum kopi durian yang dibelinya di pusat oleh-oleh.

Baca Juga :  Dibagikan Gratis, Dua Kuintal Duku Kalikajar Langsung Habis

Selain di bazar, durian montong juga dijual pedagang buah di pinggir-pinggir jalan, masih dengan kulitnya. “Harganya berkisar 140 Bath per kilogram termasuk kulitnya,” kata Farida, tour leader itu menjelaskan. Kalau dirupiahkan tinggal dikalikan 450, kurs rupiah saat ini.

Buah lain yang sedang musim adalah mangga. Warna kulitnya kuning cenderung oranye ngejreng,  bentuknya agak lonjong. Kalau di Yogya mirip dengan mangga kepodang. Rasanya manis. Satu buah yang lumayan agak besar, siap dikupas dan iris, tinggal makan harganya sekitar Rp 13.500.

Karena kurs rupiah tak begitu njomplang sehingga kesannya murah. Mangga jenis inilah yang dipakai penjual ketan mangga. Selain diiris, mangga juga dibikin saus.

Buah nanas juga melimpah. Ukurannya besar-besar, berbeda dengan nanas madu Pemalang yang banyak dijual di Jogja. Tapi tak semanis nanas madu. Kebunnya sangat luas di jalur keluar dari Phuket menuju Panga.

PKL ala Thailand dengan sepeda motor modifikasi. (arie giyarto/koranbernas.id)

Di Phuket pendatang sangat gampang mencari angkutan umum. Salah satunya Tuk Tuk. Mirip angkot di Jakarta, catnya warna merah. Bisa numpang atau carter. Tetapi kalau numpang harus siap berdesak-desakan.

Tuk Tuk tetap berseliweran sepanjang malam sehingga mereka yang nongkrong di kafe sampai larut malam tak perlu khawatir angkutan pulang.

Baca Juga :  Bupati Sleman Sayangkan Aksi Brutal di ST Lidwina

Atau juga nonton bareng Piala Dunia yang banyak digelar di berbagai tempat. Buah manggis meski tidak melimpah tetapi ada. Juga leci yang manis segar.

Meski banyak sekali mendapatkan devisa melalui pariwisata, ada hal yang pantas mendapat perhatian. Thailand rakyatnya dikenal teguh menjaga sopan santun.

Lihat saja pemain bulu tangkis misalnya, setiap mendapat shuttle cock pengganti, sang pemain akan merunduk dengan tangan ngapurancang.

Kini di jalanan terlebih di pantai banyak sekali wanita mengenakan bikini sangat mini tanpa rasa risih. Jangan sampai devisa dan kemakmuran rakyatnya  harus ditebus sangat mahal dengan mengorbankan budaya bangsa.

Patung Sang Buddha Gautama dalam posisi tiduran melengkapi destinasi wisata Phuket Island. (arie giyarto/koranbernas.id)

Lima hari di Phuket memang belum cukup. Namun kami harus berpisah setelah makan siang terakhir di Restaurant Halal Food Pantai Kalim Beach yang cita rasanya luar biasa.

Hingga kini pun, rasa tomyam, ikan asam manis dan capjay sayuran yang penuh udang-udang-besar dan bertaburan cumi masih tersisa rasanya di lidah.

“Anda seyogianya menginap tambahan meski hanya semalam di hotel di pulau karang tengah laut. Sangat sensasional,” kata Yamin berharap.

Semoga suatu saat nanti saya bisa kembali ke sana. Tapi saya yakin bahwa Phuket sudah berubah, semakin maju dan lengkap dengan sarana pariwisatanya. (sol/selesai)