begini-cerita-subar-penjaga-toilet-umum-malioboroPengguna toilet umum di ujung selatan Jalan Margomulyo Malioboro Yogyakarta kadang harus antre, seperti pada hari Rabu (18/12-2019) pagi. (arie giyarto/koranbernas.id)


arie-giyarto

Begini Cerita Subar, Penjaga Toilet Umum Malioboro

Akrab dengan Bau Pete dan Jengkol
SHARE

KORANBERNAS.ID, JOGJA - Rasa ingin buang air kecil sering tiba-tiba muncul saat sedang jalan-jalan. Namun, apa jadinya jika fasilitas umum (fasum) kamar kecil ternyata tidak tersedia? Jengkel, sudah pasti. Mau kencing di sembarang tempat? Pasti tidak elok. Itulah mengapa kemudian fasum untuk buang hajat tersebut banyak dibangun di tempat orang-orang berkumpul.

Salah satunya ada di ujung selatan penggal jalan Margomulyo Malioboro. Persisnya di selatan Pasar Beringharjo Yogyakarta, sebelah timur Tempat Penitipan Anak. Selain dimanfaatkan sebagian pedagang dan pengunjung Beringharjo lantai 1 sayap barat, juga Pasar Senthir di sore hari. Trotoar seputaran tempat itu juga tidak pernah sepi dari pejalan kaki, apalagi saat liburan.


Baca Lainnya :

Bersih

Menurut Subar, penjaga fasum tersebut, sudah tidak zamannya lagi kamar kecil kotor dan berbau pesing seperti dulu. Meski diakui fasum tersebut sudah saatnya direhab lagi agar lebih nyaman seperti di lantai 2. Sebab, bangunan ini ada sejak tahun 2003 saat walikota Jogja masih dijabat Hery Zudianto. Bangunannya relatif pendek. Ada kaca, tapi sudah buram. Untuk sementara, Subar hanya menjaganya agar tetap bersih.


Baca Lainnya :

Subar, penduduk Depokan Kotagede Yogyakarta ini membenarkan, perilaku pengguna fasum kamar kecil itu berbeda-beda. "Ya ada yang (maaf-red) tidak menyiram setelah selesai buang hajat. Kadang juga meninggalkan aroma pete atau jengkol, karena kurang menyiram," kata Subar.

Menghadapi seperti ini Subar yang berhati sabar itu tetap legawa. Segera membersihkannya. Di bawah meja tugasnya dia selalu menyiapkan pewangi. Sehabis dipakai, Subar selalu mengontrol dan menyemprotkan pewangi, ditempatkan di botol bekas air mineral yang tutupnya dilubangi. Tinggal pencet, lantai pun jadi wangi. Bukan hanya Subar, pedagang pasar yang jadi pelanggannya, banyak yang secara otomatis mengambil botol pewangi sebelum masuk kamar kecil.

Tidak pernah sepi

Fasum ini tidak pernah sepi pengunjung. Ketika koranbernas.id ada di sana Rabu (18/12-2019) pagi, orang datang dan pergi silih berganti. Bahkan kadang harus antre karena hanya ada lima kamar kecil.

Berapa pengunjung yang memanfaatkan fasum itu setiap hari, Subar menyebut tidak pasti. Apalagi kalau sore hujan sampai malam, Pasar Senthir tutup, dia juga ikut tutup.

Setiap pemakai kamar kecil dipungut Rp 2.000. Boleh kencing sepuasnya atau BAB sampai lega, dengan catatan tidak boleh mandi. Subar wajib setor pendapatan ke bank hari itu secara online. Semua terbuka.

Populer

Karena setiap hari bertemu, Subar begitu akrab, bahkan cikup pupuler di kalangan para pedagang langganannya. Mungkin tidak hafal nama, tetapi wajah cukup familiar. "Wis maem durung?," (sudah makan belum?) tanya seorang pedagang usai memakai kamar kecil.

Dialog itu menggambarkan betapa kedekatan Subar dengan pelanggan. "Soalnya pak Subar memang ramah dan tidak pandang bulu pada pelanggannya. Apakah dia juragan atau karyawan seperti saya," kata salah seorang karyawan lapak yang rata-rata dua sampai tiga kali ke kamar kecil setiap harinya.

Bagi Subar, mantan pekerja "glidhig" sebelum menunggu fasum tersebut, harus bisa merangkul semua kelompok pengguna jasa kamar kecil. Termasuk ada pula para pemabuk. Prinsip dia harus bisa membawa diri merangkul semuanya.

Dari pekerjaan ini, cukup kah dia menghidupi keluarga dengan tiga anak? "Ya cukup atau tidak, itu relatif dan selalu saya syukuri," katanya.

Rezeki itu yang mengatur Allah, itu sangat diyakini. Tinggal bagaimana mengatur dan membelanjakannya agar bisa cukup. Kerja ini harus dijalani dengan penuh rasa syukur.

Di tempat Subar mengurus toilet umum tersebut semua menggunakan kloset jongkok. Kenapa tak ada kloset duduk, yang memudahkan lansia menggunakannya? "Dulu memang ada satu yang duduk, tapi ada pemakai yang jatuh dan kemudian dibongkar, diganti kloset jongkok," katanya.

Bisa jadi, jatuh karena tidak tahu cara menggunakannya. Sangat mungkin orang tersebut jongkok di atas kloset duduk, kemudian terjatuh. Pemahaman orang berbeda-beda. Dan Subar sangat memahami pengguna jasa toilet itu sangat beragam. (eru)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini