Belajar ke Kampung Kopi, Sleman Ingin Kelola Kampung Salak

305
Sentot Tri Joko SE, menjelaskan produksi kopi di Kamoeng Kopi Banaran kepada sejumlah wartawan, Kamis (29/03/2018). (nila jalasutra/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Kabupaten Sleman tidak memiliki kebun kopi skala besar, namun demikian punya potensi kebun salak pondoh yang bisa dikelola menjadi kampung wisata sehingga bisa menarik wisatawan berkunjung.

Untuk mewujudkan mimpi tersebut, jajaran Pemkab Sleman mengadakan kunjungan Orientasi Kebijakan Daerah bersama sejumlah wartawan, Kamis (29/03/2018), di Kampoeng Kopi Banaran, Bawen Jawa Tengah.

“Kita dari Sleman mengadakan kunjungan ke Kampoeng Kopi Banaran untuk melihat dari dekat bagaimana pengelolan Kampoeng Kopi Banaran sehingga bisa banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah,” kata Dra Sri Winarti, Kepala Bagian Humas Sleman.

Harapannya dengan kunjungan ini Sleman bisa meniru pengelolaan Kampoeng Wisata Kopi Banaran.

Asisten Manajer Kampoeng Kopi Banaran, Sentot Tri Joko SE,  ketika menerima rombongan dari Sleman menyampaikan Kampoeng Kopi Banaran di wilayah Bawen Jawa Tengah dikelola PTP IX. Area kebun kopi seluas 400 Ha, dengan area wisata seluas area 40 ha.

Baca Juga :  Tokoh Muda NU Ingatkan Amien Rais

“Wisata kebun kopi di Banaran ini memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lain,” kata Sentot.

Kampoeng Kopi Banaran memiliki karyawan 235 orang dan karyawan 90 persen penduduk sekitar. Unit usaha yang dikelola Kampoeng Kopi Banaran berupa Wisata Agro Perkebunan Kopi, Resto Banaran 9 Coffee and Tea, Bawen, Gemawang, Semarang, Kudus, Resort Banaran 9 Resort Hotel, Wahana Wisata, Kebun buah, Laksita Spa.

Terdapat lahan seluas 400 ha dengan produk utama berupa kopi, kemudian agrowisata. Ada restoran di tengah kebun kopi dan resort. Dari sini, berkembang resto-resto di wilayah Jawa Tengah.

Sedangkan produksi kopi antara 1.900 sampai 2.500 kg per tahun per hektar dan pemasaran ke Rusia dan Eropa.

Baca Juga :  Penyakit Jantung Koroner Penyebab Kematian Tertinggi
Jurnalis dari Sleman di kebun kopi Banaran. (nila jalasutra/koranbernas.id)

Menanggapi keinginan Kabupaten Sleman untuk mengembangkan kampung wisata seperti Kampoeng Kopi Banaran, Sentot menyarankan Sleman kawasan kebun salak terpadu yang dimiliki Sleman bisa dibuat pondok-pondok supaya orang bisa menikmati suasana kampung salak.

Wisatawan dapat memetik salak, melihat pengolahan-pengolahan salak sehingga tidak sekadar memakan buah salak.

Menurut Sentot Sleman sangat potensial untuk pengembangan kampung wisata salak dengan meniru potensi-potensi yang ada di Kampoeng Kopi Banaran.

“Meski tidak semuanya ditiru, tetapi bisa dikembangkan misalnya wisata kebun salak, wisata memetik di kebun salak dan lainnya,” kata Sentot.

Sentot yakin Sleman bisa membuat kampung wisata salak. Kampung wisata ini perlu dikenalkan ke masyarakat melalui berbagai strategi termasuk menggunakan media sosial yang bisa dengan mudah diakses oleh masyarakat. (sol)