bening-pandanganku-lebih-jelasPemberian kacamata gratis dalam rangka milad ke-21 Baznas dan Milad ke -10 Rumah Sehat Baznas Yogyakarta di Jalan Imogiri Barat, Senin (17/1/2022). (sariyati wijaya/koranbernas.id)


Sariyati Wijaya
Bening, Pandanganku Lebih Jelas..

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Ucapan itu terlontar dari mulut Ahmad Maulana Akbar (7) pelajar kelas 1 SD Muhammadiyah Pandeyan Sewon Bantul usai menerima kaca mata gratis di Rumah Sehat Baznas Jalan Imogiri Barat, Senin (17/1/2022).


Akbar bersama empat temanya menerima kacamata secara simbolis dari Bupati Bantul Abdul  Halim Muslih dalam rangkaian Milad ke-21 Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan milad ke-10 Rumah Sehat Baznas Yogyakarta.


Kegiatan ini bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia  (Perdami),  RSUP Dr Sardjito serta Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM). Total penerima kacamata gratis 59 anak SD, MI dan Kelompok Bermain (KB).

Ahmad menerima kacamata ukuran  minus 0,25 berdasarkan hasil pemeriksaan. "Dulu kalau lihat tulisan jauh blur. Sekarang sudah jelas lagi," kata Ahmad dengan riang.


Dokter Dina Arisonaningtyas selaku Kepala  Rumah Sehat Baznas Yogyakarta menjelaskan rangkaian kegiatan milad sejak satu  bulan lalu berupa skrining mata. Sasaran untuk 1.200 anak dari 15 SD dan KB. "Dari jumlah tersebut ada 59 anak  yang hasilnya  harus memakai kacamata," katanya.

Pihaknya  mengundang guru untuk pelatihan bagimana cara memeriksa refraksi  mata pada anak didik. Refraksi mata merupakan proses masuknya cahaya dari bagian depan mata (kornea, pupil, retina) untuk dibiaskan tepat pada retina (bagian belakang mata). Dengan begitu, obyek dapat terlihat jelas.

Masalah penglihatan yang paling sering terjadi adalah kelainan refraksi mata.Usai pelatihan, guru dibawakan alat snellen chart (tes mata rabun jauh)  ke sekolah masing-masing di bawah supervisi dari RS Baznas.

Hasilnya 59 yang diketahui minus. "Kemudian 59 anak dicek ulang oleh dokter dari Perdami dan memang dinyatakan harus memakai kacamata," terangnya.

Menurut dokter Dina, dari hasil skrining anak-anak ini mayoritas  mengalami gangguan penglihatan jarak jauh atau miopi. Karena anak-anak ini banyak menggunakan gadget atau handphone.

"Perubahan metode pembelajaran ke online dibanding tatap muka, maka anak juga semakin sering menggunakan gadget, HP ataupun laptop. Akhirnya mempengaruhi kesehatan mata," katanya.

Selain pemberian kacamata gratis, dilakukan juga  foto skrining mata pada penderita deabetes melitus (DM)  guna mendeteksi retinopati diabetik. Ini adalah terganggunya penglihatan akibat rusaknya retina pada mata yang disebabkan oleh komplikasi penyakit diabetes melitus.

Retinopati diabetik merupakan salah satu pemicu utama kebutaan. Penderita retinopati diabetik bisa memulihkan penglihatannya dengan penanganan yang tepat diabetika.

Bupati menyampaikan apresiasi kepada Baznas, Perdami , RSUP Dr Sardjito dan  FKKK UGM atas  bantuan yang diberikan. "Semoga ini memberikan manfaat bagi anak atau siswa yang menerima. Juga mampu menunjang prestasi belajarnya," kata bupati.

Dia bercerita, dulu saat duduk di bangku sekolah pandangannya pernah kabur saat duduk di kursi belakang. Oleh gurunya dipindah ke bangku depan sehingga tulisan pada papan tulis lebih terlihat.

"Jadi pandangan yang terganggu, betapa ini sangat berpengaruh kepada proses pembelajaran di sekolah bagi anak. Maka saya mewakili pemerintah daerah mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada anak-anak Bantul," katanya. (*)


TAGS: Baznas  Bantul 

SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini