atas1

Big Data Pahami Perilaku Masyarakat

Senin, 16 Mar 2020 | 23:45:29 WIB, Dilihat 338 Kali
Penulis : Yvesta Putu Sastrosoendjojo
Redaktur

SHARE


Big Data Pahami Perilaku Masyarakat Pemanfaatan big data (ilustrasi)

Baca Juga : Rektor UGM Tetapkan Tanggap Darurat Covid-19


KORANBERNAS.ID -- Data is the new oil. Sebuah kalimat yang tidak asing lagi di telinga masyarakat karena baru saja disebutkan oleh Presiden Joko Widodo. Kalimat ini juga menjadi pedoman bagi Grab dalam menjalankan bisnisnya, dalam memberikan layanan yang inovatif dan bersahabat.

Dengan menggunakan kemampuan big data, aplikasi serba bisa terkemuka di Indonesia ini mencoba untuk memahami perilaku masyarakat untuk dapat menghadirkan lebih banyak inovasi dan tentunya menjadi solusi bagi kebutuhan pelanggan dan juga 5 juta pengusaha mikro di Indonesia, mencakup mitra pengemudi, mitra merchant, dan mitra agen.

Berdasarkan laporan We Are Social 2020 - Digital 2020 Indonesia menunjukkan bahwa 75% pengguna internet Indonesia menggunakan aplikasi mobile yang berhubungan dengan pemetaan. Selain itu, laporan tersebut juga menyatakan bahwa ada 21,7 juta orang yang menggunakan layanan ride-hailing.

Melihat fakta tersebut, tidak heran bahwa ada puluhan terabyte data yang dihasilkan oleh aplikasi Grab setiap harinya. Sebagai platform yang terlibat di bidang transportasi, Grab juga berupaya menggunakan teknologi untuk menjawab tantangan kemacetan saat ini.

Ariek Wisnu Wibisono, Head of MapOps, Grab Indonesia menjelaskan, sebagai bagian dari tim pemetaan di Grab, data punya peran penting dalam menentukan inovasi apa yang akan kami ciptakan selanjutnya. Menjawab masalah kemacetan hingga akses bagi jutaan pengusaha mikro dan pelanggan merupakan target yang selalu ingin kami capai.

"Sejalan dengan komitmen GrabForGood, Grab ingin memastikan bahwa setiap orang dapat menikmati manfaat dari ekonomi digital. Menyediakan platform yang aman, nyaman dan terus berinovasi untuk menyesuaikan kebutuhan mereka menjadi hal yang paling penting,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Senin (16/03/2020).

Ada 4 pendekatan yang selalu menjadi tumpuan Grab dalam menggunakan teknologi untuk menghadirkan kebaikan yaitu: 1) mendengarkan dan memahami kebutuhan serta perilaku masyarakat, 2) menggunakan pendekatan hyperlocal untuk mengatasi kebutuhan serta permasalah yang berbeda di tiap wilayah, 3) meningkatkan efisiensi transportasi, serta 4) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk mendorong perubahan positif.

Sebagai contoh, pendekatan tersebut kami tuangkan dalam sebuah sistem mapping untuk dapat memberikan kesempatan mendapatkan penghasilan yang lebih efisien bagi mitra pengemudi dan pengalaman pemesanan yang lebih mudah bagi pelanggan.

Pertama modifikasi titik temu demi ketertiban. Bekerja sama dengan Dinas Perhubungan di beberapa kota, tim pemetaan Grab juga memodifikasi beberapa titik kemput di daerah rawan macet untuk memastikan mitra pengemudi dan penumpang dapat bertemu di area yang telah disediakan.

Saat ini, sudah terdapat beberapa titik jemput yang dimodifikasi termasuk, Grab Lounge Terminal Bungurasih, Stasiun Kutoarjo, Stasiun Malang Kota Baru, Stasiun Surabaya Gubeng, Stasiun Sudirman, dan Pasar Blora. Pilihan lokasi titik jemput atau titik pengantaran di dalam aplikasi Grab di daerah tersebut juga telah disesuaikan agar pelanggan hanya dapat memilih titik spesifik yang telah disediakan sebagai titik temu.

"Ini sebagai upaya untuk mengurangi penumpukan mitra pengemudi dan mengurai kemacetan," jelasnya.

Selain itu menemukan rute terbaik. Dengan menangkap data perjalanan mitra pengemudi, Grab dapat menemukan berbagai jalur baru yang dilewati oleh mitra pengemudi. Semua data perjalanan tersebut dikumpulkan sehingga Grab bisa memperkirakan jarak dan jalan yang akan ditempuh pengguna ke suatu tempat dengan memberikan rekomendasi rute terbaik. Selain perjalanan lebih efisien, kami juga dapat memberikan harga terbaik bagi pelanggan dan mitra pengemudi.

Alokasi pengemudi yang seimbang. Tidak hanya itu, Grab juga mengembangkan fitur Heatmap bagi mitra pengemudi dalam aplikasi super mereka. Melalui Heatmap, Grab dapat mengetahui, memantau, memetakan, dan menghitung metrik kebutuhan (permintaan) layanan Grab di lokasi tertentu. Selanjutnya, kami menginformasikan kepada mitra pengemudi secara efektif untuk memastikan adanya mitra pengemudi yang cukup untuk memenuhi permintaan di daerah tersebut.

Selanjutnya memberikan saran perjalanan otomatis sesuai pola pengguna. Big data tidak hanya digunakan untuk membuat inovasi yang terlihat besar. Terakhir memudahkan dan menertibkan proses penjemputan. Titik penjemputan juga menjadi poin penting dalam layanan Grab.

"Oleh karena itu, untuk mempermudah titik temu pengguna dan mitra pengemudi ataupun mitra GrabFood yang mencari restoran di sebuah lokasi, Grab telah menambahkan lebih dari 10 juta Point of Interest (POI) di Indonesia dan hampir 20 juta POI di Asia Tenggara," imbuhnya.(*/yve)



Senin, 16 Mar 2020, 23:45:29 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 301 View
Rektor UGM Tetapkan Tanggap Darurat Covid-19
Senin, 16 Mar 2020, 23:45:29 WIB Oleh : Sholihul Hadi 253 View
Dana Kelurahan Bermanfaat Ciptakan Lapangan Kerja
Senin, 16 Mar 2020, 23:45:29 WIB Oleh : Masal Gurusinga 526 View
Semua Perangkat UNBK Terpaksa Disimpan Lagi

Tuliskan Komentar