atas1

Catat, Ini Kelebihan Dukuh Perempuan

Jumat, 03 Jan 2020 | 20:10:25 WIB, Dilihat 576 Kali
Penulis : Sari Wijaya
Redaktur

SHARE


Catat, Ini Kelebihan Dukuh Perempuan Ketua Paguyuban Dukuh (Pandu) Bantul, Sulistyo Atmojo SH, berfoto bersama beberapa dukuh perempuan di Bantul. (istimewa)

Baca Juga : Kementrian Agama Sleman Gelar Peringatan Hari Amal Bakti ke-74


KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Seorang kepala dukuh bekerja 24 jam melayani masyarakat di wilayahnya. Tidak hanya siang, namun juga malam hari dan hari-hari libur. Dengan beban tugas yang  tidak mengenal waktu tersebut, tentu diperlukan dedikasi dan tekad yang kuat untuk menjalani pengabdian sebagai dukuh.

“Terlebih untuk  dukuh perempuan, kadang muncul kendala. Misalnya, saat harus berkegiatan larut malam atau keluar malam  karena ada permasalahan atau hal-hal lain. Namun secara umum, dukuh perempuan itu memiliki kemampuan untuk memimpin,” kata Sulistyo Atmojo SH, Ketua Paguyuban Dukuh (Pandu) Bantul, kepada koranbernas.id disela kegiatan pertemuan rutin dengan dukuh perempuan se-Bantul di RM Ibaba, Jumat (3/1/2020).

Dukuh perempuan, lanjut Sulis, memiliki beberapa kelebihan dan menjadi aset besar bagi pembangunan. Menurut Sulis, seorang dukuh perempuan lebih unggul dan tertib di bidang adminsitrasi. Seorang dukuh perempuan, menurut Sulis, juga tidak agresif saat menghadapi persoalan karena latar pendidikan mereka minimal tamat SMA.

“Potensi yang ada tersebut harus diberdayakan secara maksimal sehingga dukuh perempuan memiliki peran yang besar bagi perkembangan dan kemajuan  Bantul,” katanya.

Berdasar catatan Pandu, keberadaan dukuh prempuan tersebar di semua kecamatan di Bantul. Rinciannya, Srandakan 3 orang, Pandak 3 orang, Sanden 2 orang, Pajangan 2 orang, Kasihan 1 orang, Sedayu 1 orang, Sewon 4 orang, Bantul 3 orang, Jetis 1 orang, Pundong 1 orang, Kretek 3 orang, Imogiri 3 orang, Dlingo 1 orang, Pleret 3 orang, Banguntapan 4 orang, Piyungan 3 orang serta Bambanglipuro 2 orang.

“Dukuh diangkat berdasarkan SK lurah. Jadi, dukuh adalah ‘orangnya’ lurah. Maka menjadi dukuh harus bisa luwes,” katanya.

Artinya, ketika muncul persoalan di masyarakat, maka dukuh harus  berkomunikasi dengan lurah desa. Dalam membuat aturan atau keputusan, harus luwes selama tidak melanggar aturan yang ada.

Dalmini, salah satu dukuh, mengatakan sebagai perempuan tidak menghambat tugasnya sebagai dukuh di Dusun Pandak, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Bantul. “Meski malam hari, jika diperlukan untuk melaksanakan tugas sebagai dukuh, saya tetap keluar rumah. Selama ini tidak ada  hambatan yang berarti,” kata dukuh yang sudah menjabat selama 3 tahun ini. (eru)



Jumat, 03 Jan 2020, 20:10:25 WIB Oleh : Nila Jalasutra 206 View
Kementrian Agama Sleman Gelar Peringatan Hari Amal Bakti ke-74
Jumat, 03 Jan 2020, 20:10:25 WIB Oleh : Nila Jalasutra 208 View
Musim Hujan, Warga Diminta Tidak Sembarangan Menutup Saluran Air
Jumat, 03 Jan 2020, 20:10:25 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 278 View
Sempat Masuk ICU, Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas Wafat

Tuliskan Komentar