atas1

Cerita Lucu Penyair Keblasuk Saat Hendak Baca Puisi

Rabu, 08 Mei 2019 | 23:27:02 WIB, Dilihat 998 Kali
Penulis : Arie Giyarto
Redaktur

SHARE


Cerita Lucu Penyair Keblasuk Saat Hendak Baca Puisi Ekspresi Ely Widayati saat membaca puisi. (istimewa)

Baca Juga : Kontraktor Dilarang Menggoda Pegawai


KORANBERNAS.ID – Sejumlah 25 penyair dari 50 penyair yang puisinya diterbitkan dalam antologi puisi Membaca Hujan di Bulan Purnama,  Sabtu (4/5/2019), menghadiri acara Sastra Bulan Purnama edisi 92 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Km 8,5 Tembi Timbulharjo Sewon Bantul.

Ada cerita lucu di balik peluncuran antologi puisi tersebut. Salah satunya dialami Yoseph Yapi Taum, warga NTT (Nusa Tenggara Timur) yang sudah lama tinggal di Yogakarta.

Yosep Yapi Taum yang sehari-harinya mengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu memang belum pernah hadir di Sastra Bulan Purnama.

Tetapi nama Tembi akrab di telinganya. Apalagi dia sering melewati jalan di depan Tembi setiap kali dia hendak ke Imogiri atau Pleret.

Rupanya apes bagi Yapi, demikian panggilannya, saat hendak ke Tembi untuk membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, dia keblasuk alias kebablasan ke arah selatan sehingga melewati pertigaan Tembi.

Waduh, saya sampai jalan terus setelah melewati pertigaan Tembi, baru sadar setelah  melewati lampu merah Manding,” kata Yosep Yapi Taum.

Jarak antara pertigaan Tembi sampai Perempatan Manding cukup lumayan jauh. Jika diteruskan mungkin sampai Pantai Parangtritis. Dia akhirnya harus balik arah.

Lain lagi cerita tentang Suyitono Ethex dan Marlin Dinamikanto, keduanya datang dari kota yang berbeda. Ethex dari Mojokerto dan Marlin dari Jakarta.

Setiap keduanya tiba di Tembi selalu tidak lupa nongkrong di angkringan Tembi dan bisa dipastikan menikmati kopi.

“Ngopi dulu Om, biar mripat segar,” begitu Ethex selalu berkomentar soal kopi.

Mutia Senja. (istimewa)

Malam itu, 25 penyair yang hadir berasal dari berbagai kota seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Solo, Karanganyar, Sragen, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto.

Buku puisi setebal 316 halaman itu memuat sekitar 250 puisi yang ditulis oleh 50 penyair dari berbagai kota di Indonesia. Usia mereka berbeda, paling tua lahir tahun 1953 dan termuda lahir pertengahan 1990-an.

Antologi itu merupakan puisi-puisi yang selama satu tahun ditayangkan tiap Jumat di rubrik sastra tembi.net, tepatnya dimulai Mei 2018 sampai April 2019.

Peluncuran antologi Membaca Hujan di Bulan Purnama berlangsung saat cuaca cerah. Hujan tidak turun di Bantul. Masing-masing penyair membacakan dua puisi namun ada juga yang cukup membaca satu saja.

Yanti S Sastro. (istimewa)

Para penyair dari berbagai usia ini sebagian sering tampil di Sastra Bulan Purnama. Beberapa di antaranya baru sekali datang seperti Yuditeha dari Karanganyar, Mutia Senja dari Sragen, atau Polanco, Dalle Dalminto, Wahyu We, Yoseph Yapi Taum maupun Farikhatul ‘Ubudiyah yang tinggal di Yogyakarta.

Sulis Bambang, Yanti S Sastro dan Heru Mugiarso yang tinggal di Semarang sudah beberapa kali tampil di Sastra Bulan Purnama, bahkan Sulis Bambang, yang biasa dipanggil Bunda Sulis tampil bersama komunitasnya Bengkel Sastra Taman Maluku atau BSTM.

Penampilan para perempuan penyair seperti Ely Widayati, Yanti Sastro, Sulis Bambang, Sus Harjono, Ristia Herdiana, Yuliani Kumudaswari, terlihat ekspresif. Bahkan mimik muka dan gerak tangan menunjukkan mereka menghayati puisinya.

Ada juga lagu puisi yang ditampilkan oleh kelompok musik Akar Renjana yang menggarap dua puisi karya Yuliani Kumudaswari.

Indri Yuswandari. (istimewa)

Sastra Bulan Purnama edisi 92tampaknya sekaligus merupakan pertemuan antar-penyair. Masing-masing saling berkenalan. Bahkan ada penyair senior seperti Marjudin Suaeb dari Yogyakarta, kalau tidak dikenalkan dengan penyair yang lebih muda, dia tidak akan bisa saling mengenali.

Penyair senior lainnya yang tinggal di Yogyakarta dan sudah sejak tahun 1970-an menjadi redaktur rubrik sastra, terlihat tua sendiri, namun dia masih terus menulis puisi, bahkan bisa dikatakan masih produktif menulis puisi.

“Saya kira, saya paling tua di antara para penyair yang hadir dalam acara Sastra Bulan Purnama ini,” kata Eka, panggilan dari Sutirman Eka Ardhana.

Eka memberikan apresiasi kepada mahasiswi dari Mesir, Noha Mohamed Fathy, yang sedang belajar di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Noha membuka acara dengan membacakan puisi karya Eka berjudul Tentang Perjalanan. “Terima kasih Noha memilih puisi saya untuk dibacakan,” ujar Eka Ardhana. (sol)



Rabu, 08 Mei 2019, 23:27:02 WIB Oleh : Endri Yarsana 707 View
Kontraktor Dilarang Menggoda Pegawai
Rabu, 08 Mei 2019, 23:27:02 WIB Oleh : Arie Giyarto 779 View
Mahasiswa UAD Gelorakan Kampanye Ganti Plastik
Selasa, 07 Mei 2019, 23:27:02 WIB Oleh : Redaktur 700 View
Kontingen Woodball Banyumas Torehkan Sejarah Baru

Tuliskan Komentar