atas1

Hasil Cukai Rokok Tak Sebanding Biaya Kesehatan

Kamis, 14 Nov 2019 | 11:54:50 WIB, Dilihat 260 Kali
Penulis : W Asmani
Redaktur

SHARE


Hasil Cukai Rokok Tak Sebanding Biaya Kesehatan Fuad melakukan SEFT kepada Prayitno yang 40 tahun kecanduan merokok. (w asmani/koranbernas.id)

Baca Juga : Doa 100 Hari Bagi Mbah Moen


KORANBERNAS.ID -- Kebiasaan merokok memicu penyakit kronis yang mematikan di Indonesia seperti jantung dan pembuluh darah, diabetes militus, gagal ginjal, stroke yang berakibat kecacatan permanen dan kanker. Ironisnya ada slogan yang menyesatkan bahwa hasil cukai rokok untuk pembangunan negara.

"Hasil cukai masuk dengan biaya untuk kesehatan sangat jauh selisihnya. Hal itu membuat BPJS jebol," ujar Fuad Baraja, aktivis anti-rokok, dalam Seminar Mewujudkan Lingkungan Pemkab Purworejo Bebas dari Asap Rokok, Rabu (13/11/2019), di ruang Arahiwang, Setda Purworejo.

Menurut Fuad Baraja, aktivis anti-rokok yang pernah membintangi sinetron Jin dan Jun di era 90-an ini, hasil cukai rokok pertahunnya menghasilkan Rp 1,5 triliun. Sementara untuk pembiayaan kesehatan yang diakibatkan rokok mencapai Rp 500 triliun.

Fuad menyebut, ada satu juta lebih anak-anak di Indonesia yang kecanduan rokok. "Saya memberikan edukasi bahayanya merokok pada kesehatan, sekaligus terapi berhenti merokok," ujarnya.
 

Selain kampanye anti-rokok, pada kesempatan itu Fuad juga melakukan terapi berhenti merokok dengan metode Spiritual Emotion Freedom Technique (SEFT). Terapi dengan teknik akupuntur di titik-titik meridian, untuk berhenti merokok. "Pemerintah seharusnya melindungi warganya (dari korban asap rokok)," kata Fuad.

Perlindungan tersebut bisa berwujud Peraturan Daerah (Perda) anti-rokok. Namun sayangnya di Indonesia hal tersebut belum terwujud. "Enam Presiden di Indonesia tidak berdaya terhadap hal itu," ujarnya.
 

Fuad sangat menyanyangkan kesadaran pemerintah untuk anti rokok belum bisa diandalkan.

Pemateri lainnya, Dr Oryaati Hilman, MSc, CMFM, PhD SpDLP atau biasa disebut dr Icha, mengatakan sehat adalah kekayaan. “Sehat sangat penting, namun apa yang kita ucapkan berbeda dengan kenyataan. Perokok di Indonesia berjumlah sepertiga dari populasi penduduk. Dampaknya sangat bahaya bagi perokok pasif. Pertumbuhan remaja merokok sebanyak 16 persen," papar dr Icha.

 

Untuk itu, pihaknya berniat memberikan motivasi dan edukasi anti-rokok. “Pada akhirnya hidup adalah pilihan. Merokok atau tidak, dan menjaga kesehatan atau tidak,” ujarnya.

Sementara itu Ketua panitia Hari Kesehatan Nasional (HKN), dr Andang Antono Putra MSc, menyampaikan keresahannya dampak buruk akibat rokok. Menurutnya, rokok berpengaruh pada stunting, berakibat bayi bisa kerdil dalam pertumbuhan. Sebab, asap rokok menghambat pertumbuhan anak.

 

"Kalau bapaknya bisa menghentikan rokok, uang rokok bisa untuk tambahan pemenuhan gizi anak," ujarnya.
 

Dengan demikian, lanjut Andang, stunting bisa teratasi. Peran serta pejabat juga sangat dibutuhkan untuk perlindungan terhadap perokok pasif. "Misalnya dengan larangan merokok ditempat umum. Seperti di Jogja, ada aturan jika merokok di dalam rumah kena denda 100 ribu," kata dokter yang bertugas di Puskesmas Loano itu.

Peserta seminar adalah dua orang perokok aktif perwakilan dari masing-masing OPD dan perwakilan Puskesmas se Kabupaten Purworejo. Tujuannya, ada kesadaran bahwa mereka pemegang kebijakan anti-rokok, sekaligus memberi kesadaran bahwa berhenti merokok itu mudah.


Di akhir seminar dilakukan SEFT oleh Fuad Baraja. Tampil pertama adalah Prayitno yang sudah 40 tahun kecanduan rokok. "Pak Prayit iklas ya untuk berhenti merokok," kata Fuad.
 

"Ya, saya iklas," jawab Prayitno.
 

Fuad pun membimbing Prayitno untuk berdoa. Kemudian Prayitno harus membakar rokoknya terlebih dahulu. Terapi berlangsung dengan pasien sambil merokok.
 

Langkah berikutnya, Fuad menepuk-nepuk ubun-ubun Prayitno, turun ke bawah di sekitar wajah, dada dan di bawah ketiak. Pendekatannya dengan titik meridian akupuntur.

Selama proses tersebut, Prayitno terus mengisap rokoknya hingga merasa pahit, mual dan muntah. Setelaj proses tersebut Prayitno jika menghisap rokok akan merasakan pahit, dan mulailah enggan untuk merokok.
 

Pasien berikutnya adalah Supriyono dan 20 orang lainnya. Hampir semua peserta merasa hal yang sama yaitu rasa pahit dan mual serta muntah. Mereka berniat berhenti dari kebiasaan merokok. (eru)



Kamis, 14 Nov 2019, 11:54:50 WIB Oleh : Sari Wijaya 274 View
Doa 100 Hari Bagi Mbah Moen
Kamis, 14 Nov 2019, 11:54:50 WIB Oleh : Nanang WH 190 View
Warga Diminta Ikut Deteksi Dini Terorisme
Kamis, 14 Nov 2019, 11:54:50 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 254 View
Dibutuhkan Guru Matematika yang Friendly

Tuliskan Komentar