atas1

Keteladanan Ibu

Selasa, 13 Agu 2019 | 22:26:35 WIB, Dilihat 71 Kali - Oleh Prof. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.

SHARE


Keteladanan Ibu Sudjito Atmoredjo

Baca Juga : Anggota DPRD Bantul 2019-2024 Dilantik


KEMATIAN itu misteri kehidupan. Otoritas, ilmunya, hanya pada Allah SWT. Dihadapkan pada mesteri ini, siapapun wajib mempersiapkan diri. Kesucian jiwa, kuantitas dan kualitas amalan saleh, merupakan sebaik-baik bekal pulang ke Rahmatullah. 

Ibuku (Simbok) telah berpulang ke Rahmattullah pada usia 96 tahun, hari Jumat 5 Juli 2019. Sungguh mengharukan ketika usia panjang sarat dengan amalan-amalan saleh. Begitu banyak keteladanan membekas di hati, menjadi inspirasi, dan motivasi untuk diaktualisasikan dalam kehidupan anak, cucu, dan keturunannya.

Simbok tergolong lugu, jujur, alamiah. Pribadi dan keteladanannya laksana alam pedesaan yang masih asli. Anak-anak diajari bertanam di ladang, pekarangan atau sawah. Pada saatnya benih-benih tumbuh besar, berbuah, dapat dipanen. Didapatlah keberlimpahan aneka buah dan sayur. Pohon jati, mahoni dan kelapa pun, semakin besar. Pola kehidupan alamiah, peduli lingkungan, dipraktikkan. Berhasil. Berkembang. Berkah.

Bakat Simbok sebagai penebas padi amat menonjol. Seantero kecamatan Imogiri dan sekitarnya, hampir semua petani mempercayakan penjualan hasil panen kepada Mbok Atmo Sibun – panggilan akrabnya. Hubungan dengan petani dan buruh tani sedemikian akrab. Keakraban dan silaturahmi terus terlanjut hingga anak-anak keturunan. Kami merasa terajut dalam  ikatan keluarga besar. 

Bakat sebagai pedagang dikembangkan pula. Jualan pakaian, wade, jarit, berlanjut ke usaha konveksi ditekuni. Tetangga-tetangga, diajari dan diangkat sebagai penjahit. Semua anaknya (6 orang) diwajibkan bisa menjahit, itik-itik baju, naptol pakaian, sejak usia dini. Tahun 1970-an, usaha konveksi berhasil. Produknya terjual di pasar-pasar tradisional skala kabupaten. 

Sayang, usaha konveksi domestik gulung tikar, karena kurang proteksi pemerintah. Mesin-mesin jahit menjadi harta warisan bagi anak-anaknya. Hingga kini, semuanya terawat, masih berfungsi baik, menjadi barang antik bernilai tinggi. 

Kejujuran menjadi prinsip kehidupannya. Suatu ketika sebuah jarit terjual. Sampai di rumah tersadarkan bahwa harganya kemahalan. Dengan susah payah, berhari-hari, dicarilah pembelinya. Uang kelebihan dikembalikan. Dinasihatkan kepada anak-anak, agar selalu jujur. Jangan ambil keuntungan lewat batas kewajaran. Jaga hubungan baik, kepercayaan dengan orang lain. Dari kejujuran diyakinkan rezeki terus mengalir dan berkah.

Simbok tergolong pekerja keras. Jam empat pagi sudah bangun tidur. Siap ke pasar atau kegiatan lain. Anak-anak dioprak-oprak bila malas. Pendidikan demikian, ternyata amat besar kemanfaatannya. Mentalitas sebagai orang mandiri, tahan-banting, pantang putus asa, tertanamkan sedari kecil. Dikatakan, kerja di sawah itu kotor, gatal, kena lumpur, panas kena terik matahari. Semuanya perlu dijalani sungguh-sungguh. Tanpa kerja keras, tak akan diperoleh biaya sekolah. Tanpa sekolah hanya menjadi pengembala kambing. Mau? Peringatan itu masih terngiang-ngiang.

Simbok mengenal, paham dan mampu mengamalkan ajaran agama Islam, melalui cara unik.  Pengajian ustad Mabarun dalam bahasa Jawa di radio swasta diikuti secara rutin dan disiplin. Radio kecil dan dialog dengan anak-anaknya menjadi sarana efektif masuknya hidayah Allah SWT. Simbok taat shalat, gemar sedekah, berkurban, dan amalan saleh lainnya. 

Pada usia senja, Simbok masih kuat ingatannya. Mampu bercerita detail kehidupan masa lampau. Selalu mendoakan kebaikan anak-cucunya. Gemar memasak, bersih-bersih rumah dan halaman. Aneh, unik, tetapi nyata. Beliau hobi mengecat perabot rumah dengan warna hijau dan menambal lantai dengan semen. Hampir semua sudut rumah terjamah oleh sentuhan kuas dan cethoknya. 

Ketika fisik sudah lemah, tongkat menjadi penopang tegaknya badan, bahkan harus jalan dengan merangkak, beliau masih tegar dengan kemandiriannya. Menolak ditolong orang lain. Hanya ketika benar-benar tak berdaya, uluran tangan orang lain diterimanya. Anak-anaknya sangat paham, sabar dan tabah merawatnya.

Pada penghujung hayatnya, dokter menginformasikan, tak ditemukan penyakit atau disfungsi organ. Semuanya normal. Faktor usia dan lingkungan kadang-kadang menjadikannya pusing, meriang, atau kurang fit. Segalanya terjadi dalam kewajaran. Beberapa hari terakhir, dagunya bengkak. Mulut sulit untuk mengunyah. Tenggorokan seakan tersumbat. Makan, minum dan bicara menjadi terkendala serius. Kami telah berusaha mengatasinya bersama dokter. Antara lain dengan memasukkan sari makanan melalui infus. Separoh isi botol yang diinsuskan tiba-tiba terhenti. Simbok diam, tenang, dengan wajah cerah. Ternyata, malaikat telah menjemputnya. 

Simbok … sungguh besar jasamu. Keteladananmu sungguh laur biasa. Peranmu tak tergantikan siapapun. Selamat jalan Simbokku. Istirahatlah dengan tenang dan nyaman di alam barzah. Insya Allah husnul khatimah, dan kita berkumpul lagi di surga. Alfatihah. Aamiiin. Aamiiin. Aamiiin. **

 

Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, SH, M.Si.

Guru besar ilmu hukum UGM

 

(Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 12 Augustus 2019)



Selasa, 13 Agu 2019, 22:26:35 WIB Oleh : Sari Wijaya 147 View
Anggota DPRD Bantul 2019-2024 Dilantik
Selasa, 13 Agu 2019, 22:26:35 WIB Oleh : Nanang WH 277 View
Tidak Ada Lagi Uang Ketuk Palu Penetapan APBD
Selasa, 13 Agu 2019, 22:26:35 WIB Oleh : warjono 199 View
Rayakan Kemerdekaan, PKL Malioboro Ziarah ke Makam Sultan HB IX

Tuliskan Komentar