atas1

Minyak Kelapa Terbukti Lebih Sehat dan Tidak Keruh

Selasa, 23 Apr 2019 | 17:21:58 WIB, Dilihat 652 Kali - Oleh Nila Jalasutra

SHARE


Minyak Kelapa Terbukti Lebih Sehat dan Tidak Keruh Untung Suroso menunjukkan produk minyak kelapa murni merek "Perdana" di Dusun Barepan Sumberrahayu Moyudan Sleman. (nila jalasutra/koranbernas.id)

Baca Juga : Bupati Sleman Temui Empat Mantan Bupati


KORANBERNAS.ID – Kelapa, semua orang pasti tahu, buah ini bisa diolah menjadi minyak. Olahan minyak kelapa inilah yang menjadi fokus produksi warga Dusun Barepan Desa Sumberrahayu Kecamatan Moyudan Sleman.

Untung Suroso selaku Penanggung Jawab Produksi Minyak Kelapa "Perdana" berkisah tentang usahanya yang dimulai sejak tahun 1990-an bersama 30 orang anggotanya.

"Saat itu produksi kelapa begitu melimpah, termasuk di Dusun Barepan ini," kata Untung ketika menerima kunjungan awak media dan Humas Sleman di lokasi produksinya, Selasa (23/4/2019).

Saat itu, kelompok pengolah minyak kelapa langsung dibentuk. Sekitar tahun 2003 Kelompok Tani Perkebunan Barepan dikukuhkan.

Mereka bahkan mendapat fasilitas produksi dari Pemerintah Kabupaten Sleman hingga Pemda DIY.

Minyak kelapa murni ini memang berbeda dengan minyak goreng berbahan kelapa sawit, sebab secara fisik wujudnya lebih jernih. Dari sisi kesehatan pun lebih baik dari minyak kelapa sawit.

"Kalau minyak kelapa sawit, baru dipakai tiga kali sudah keruh. Sedangkan minyak kelapa murni hingga lima kali digunakan tetap jernih," kata Untung.

Untung mengatakan kelompoknya menggunakan semua jenis kelapa, terutama yang memiliki daging tebal.

Diceriterakan Untung, cara memasak minyak kelapa ini dimulai dari proses menguliti kelapa kemudian dipotong-potong dengan ukuran yang sesuai.

Warga Dusun Barepan Sumberrahayu Moyudan Sleman mengolah santan dibuat minyak kelapa. (nila jalasutra/koranbernas.id)

Setelah dipotong dan dicuci, potongan tersebut kemudian langsung diparut menggunakan mesin.

Hasil parutan dimasukkan mesin, untuk dipisah santan dan parutannya.

Setelah menjadi santan kemudian dimasak selama empat jam di atas tungku yang apinya berasal dari bara batok kelapa. Selanjutnya diproses hingga akhirnya siap dikemas.

Setelah dimasak beberapa jam akan terpisah minyak dan ampasnya yang disebut sebagai blondo.

Menurut Untung, kelompoknya menghabiskan setidaknya 10 hingga 12 butir kelapa per hari. Dan minyak yang dihasilkan sebanyak 35 liter, kemudian dikemas dalam botol ukuran satu liter.

Tidak hanya minyak, blondo hasil pengolahan masih bisa dimanfaatkan. Sehari diperoleh 35 kg, per kilonya dijual dengan harga Rp 40 ribu.

"Blondo ini bisa digunakan untuk bahan masakan gudeg," kata Untung.

Sedangkan minyak kelapa murni dijual dengan harga Rp 23 ribu per liter. Produk ini pun sudah mendapat sertifikasi halal dari MUI dan telah diuji oleh BPOM.

Diakui Untung, minyak kelapa Perdana telah dipasarkan melalui pasar tradisional hingga modern.

Bahkan sudah menerima penjualan secara online. Pemasaran  sampai saat ini sudah mencapai Jakarta, Kalimantan dan Sulawesi.

Produksi ini pun sangat membantu mengangkat perekonomian warga setempat. Setiap bulannya mereka berhasil menjual sebanyak 2 ton minyak.

Meski demikian, Untung menyatakan pihaknya masih membutuhkan bantuan distributor agar penjualan produk tetap stabil. (sol)



Selasa, 23 Apr 2019, 17:21:58 WIB Oleh : Nila Jalasutra 659 View
Bupati Sleman Temui Empat Mantan Bupati
Senin, 22 Apr 2019, 17:21:58 WIB Oleh : Sholihul Hadi 667 View
Dia Bisu dan Tuli Tapi Punya Cita-cita Tinggi
Senin, 22 Apr 2019, 17:21:58 WIB Oleh : Nila Jalasutra 471 View
Belajar dari Pengalaman USBN Terlaksana Lancar

Tuliskan Komentar