atas1

Miris, Perangkat Desa dan Guru Produksi Uang Palsu

Selasa, 19 Mar 2019 | 20:00:45 WIB, Dilihat 1198 Kali - Oleh Rosihan Anwar

SHARE


Miris, Perangkat Desa dan Guru Produksi Uang Palsu Aparat Polsek Godean dibantu Satreskrim Polres Sleman berhasil membongkar sindikat produsen uang palsu yang diotaki tersangka utama Hadi Sucipto asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Uang palsu yang diproduksi dengan mesin printer itu berhasil disita oleh petugas. (rosihan anwar/koranbernas.id)

Baca Juga : Anak Muda, Jadilah Pemilih Berdaulat


KORANBERNAS.ID -- Aparat kepolisian berhasil membekuk sindikat produsen uang palsu setelah mendapat laporan dari masyarakat. Empat tersangka dibekuk oleh jajaran Polsek Godean yang dibantu Satreskrim Polres Sleman.

Keempat tersangka itu adalah Hadi Sucipto, 39 tahun, selaku pembuat uang palsu, warga Dukuh Dekem, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang berprofesi sebagai petani sekaligus Kepala Dukuh. Kemudian ada Indra Kurnianto (36), seorang guru honorer, asal Dusun Sendangrejo, Pati, Jawa Tengah yang bertugas mengedarkan uang palsu.

Selain itu, ada Eko Yulianto (51), warga Magelang Jawa Tengah, mantan sopir truk yang membantu pembuatan uang palsu bersama dengan tersangka keempat, Nuryanto (56) warga Magelang Jawa Tengah yang sebelumnya berprofesi sebagai petani.

Kabid Humas Polda DIY AKBP Yuliyanta kepada sejumlah media mengungkapkan, aparat mendapat laporan masyarakat, khususnya pedagang angkringan yang curiga dengan uang yang digunakan sebagai alat transaksi.

“Dari tersangka IK yang belanja di warung angkringan kemudian ada kecurigaan dan berkembang tersangka kedua HS diamankan juga hingga ke tersangka keempat yang diamankan juga,” kata Yuliyanta, Selasa (19/3/2019) siang, di Mapolsek Godean.

Menurut keterangan para tersangka yang ditangkap Senin 18 Maret, uang palsu itu baru sempat dibelanjakan ke angkringan selama lima kali dan juga bertransaksi di Pasar Godean. Mereka belum sempat membelanjakan uang palsu itu secara meluas.

“Karena ini uang palsu, jadi tidak ada nilainya, tapi kalau nominalnya sekitar 3,5 miliar. Tapi sekali lagi, tidak ada (nilai) rupiahnya,” tuturnya.

Otodidak dan Hutang

Menariknya dari pengakuan tersangka Hadi Sucipto alias HS, dirinya belajar otodidak dari laman youtube tentang cara mencetak uang dengan alat printer inkjet. “Belajarnya dari internet, otodidak,” sebut Yuliyanta.

Saat ditanya media, HS menyatakan dirinya terpaksa mencetak uang palsu akibat himpitan hutang. “Karena saya punya banyak hutang, Pak,” ucap tersangka menjawab pertanyaan yang diajukan media.

Kanit Reskrim Polsek Godean AKP M Darban SH MH menerangkan kepada media, tersangka Hadi Sucipto atau HS menjadi otak pembuatan uang palsu. Perangkat desa itu yang secara khusus mengontrak rumah di Godean untuk memproduksi uang palsu.

“HS itu merupakan otaknya, dari yang menyediakan alat, dan yang menyerahkan barang-barang hasil cetakan ini ke IK. Sementara E (Eko) dan N (Nuryanto) yang membantu untuk mencetak,” paparnya.

Terbongkarnya kasus ini, menurut Kanit Reskrim Polsek Godean, karena masyarakat curiga dengan uang yang dibelanjakan Indra Kurnianto atau IK yang tidak bercirikan uang asli. IK yang merupakan guru honorer itu sempat membelanjakan uang palsu dengan beragam pecahan.

“Pernah belanja di angkringan dengan uang Rp 5.000 kemudian di pasar dengan pecahan Rp 50.000 dan Rp 100.000,” katanya.

M Darban melanjutkan, sindikat produsen uang palsu ini ternyata berpindah-pindah. Para tersangka pernah mencetak dan mengedarkan uang palsu di Pati dan Magelang, Jawa Tengah.

“Baru satu bulan di sini, dan katanya pernah mencetak di Pati dan Magelang. Tapi kami belum bisa menyelidiki uang (palsu) yang sudah digunakan di sana,” tandasnya.

Kapolsek Godean Kompol Herry Suryanto kepada Koran Bernas menyatakan, keempat tersangka diancam pasal 36 ayat 2 dan 3 juncto pasal 26 ayat 2 dan 3 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. “Tersangka melanggar tindak pidana dengan meniru atau memalsukan uang negara, dana tau mengedarkan uang palsu sebagaimana dimaksud dalam pasal 244 dan 245 KUHP subside pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” tegasnya. (yve)



Selasa, 19 Mar 2019, 20:00:45 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 600 View
Anak Muda, Jadilah Pemilih Berdaulat
Selasa, 19 Mar 2019, 20:00:45 WIB Oleh : Nila Jalasutra 609 View
Baznas Punya Cara Khusus Berdayakan Mustahik Baznas
Selasa, 19 Mar 2019, 20:00:45 WIB Oleh : Nila Jalasutra 1057 View
FKDM Punya Peran Besar dalam Kewaspadaan Dini

Tuliskan Komentar