atas1

Pelukis Ini Dikenali dari Karyanya yang Lembut

Rabu, 25 Des 2019 | 17:50:47 WIB, Dilihat 555 Kali
Penulis : Arie Giyarto
Redaktur

SHARE


Pelukis Ini Dikenali dari Karyanya yang Lembut Salah satu karya Yeni Fatmawati. (istimewa)

Baca Juga : BNNK Yogyakarta Mengandalkan Intuisi Intelijen untuk Mengungkap Kasus


KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Seorang perupa, penyair yang juga konsultan hukum yang tinggal di Jakarta, Yeni Fatmawati, mengadakan pameran tunggal di Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Km 8,5 Sewon Bantul.

Pameran yang dijadwalkan dibuka Jumat (10/1/2020) malam itu berakhir 17 Januari mendatang. Pembukan diisi pembacaan puisi dari 49 penyair yang ada di dalam buku Kepak Sayap Waktu.

Penyair Landung Simatupang membacakan tiga puisi karya Yeni Fatmawati. Selain itu ada penampilan  Dialog Puisi Terpasung oleh dua perempuan penyair yaitu Naning Pranoto dan Dhenok Kristianti. Komunitas Jazz mBensenin mengolah puisi Yeni Fatmawati menjadi lagu.

Pada pameran tunggal bertajuk Mozaik Kehidupan itu  ditampilkan lebih dari 10 karya lukis. Adapun kurator Suwarno Wisetrotomo, pengajar Pascasarjana ISI Yogyakarta.

Suwarno menyebut Yeni Fatmawati seorang penjelajah yang melintasi sekian banyak hobi dan profesi. Memahami latarnya yang demikian berlapis-lapis minat, kerja melukis merupakan semacam interupsi yang membetot energinya.

“Apa yang tak tertuliskan dalam puisi, tumpah menjadi bentuk dan warna dalam lukisan. Apa yang tak terwakilkan oleh bentuk dan warna, tertuliskan dalam larik-larik puisi,” ujarnya.

Yeni Fatmawati. (istimewa)

Drama lembut

Lukisan-lukisan Yeni menawarkan drama yang lembut. Dengan segera dapat dikenali bentuk-bentuk lukisan kucing, bebek, capung, kolam, kursi atau potret diri.

Kucing-kucing itu bukan sedang berkelahi, berebut makanan atau saling menyerang, tetapi tengah bercanda atau bercakap lembut.

Demikian pula bebek-bebek itu tampak normal dan bahagia. Capung meski dia ringkih dan terancam tetap saja memberikan keindahannya pada dunia.

“Pilihan Yeni terhadap jenis hewan dan cara mengolah warna menjadi sebuah pesan. Kita dapat bertanya mengapa ia tidak tertarik melukiskan singa, celeng, kerbau, atau ular misalnya. Mengapa pula Yeni demikian sungguh dan penuh mengolah warna-warna sebagai penanda tempat satwa-satwa itu berada?” papar Suwarno.

Pesan yang dapat diduga adalah Yeni menghadirkan jenis satwa yang sangat dikenali dan lebih dari sekadar kenal dia mendapatkan pencerahan nilai kehidupan tersembunyi dari satwa-satwa itu.

“Warna-warna itu mungkin gambaran suasana hati dan pikirannya atau merupakan upaya agar pesan-pesan tersembunyi itu sampai secara renyah dan gembira,” kata Warno

Ons Untoro selaku penyelenggara pameran menambahkan, pada pameran seni rupa ini sekaligus diterbitkan antologi puisi karya 49 penyair.

Sementara Yeni mengaku momentum kultural ini merupakan bentuk dari ucap syukur. Pada usianya ke-49 tahun dirinya ingin menyajikan karya lukis dan puisi. (sol)



Senin, 23 Des 2019, 17:50:47 WIB Oleh : Putut Wiryawan 319 View
BNNK Yogyakarta Mengandalkan Intuisi Intelijen untuk Mengungkap Kasus
Minggu, 22 Des 2019, 17:50:47 WIB Oleh : Sari Wijaya 445 View
Warga Muhammadiyah Diminta Jadi Pemilih Realistis
Sabtu, 21 Des 2019, 17:50:47 WIB Oleh : Arie Giyarto 1912 View
Begini Cerita Subar, Penjaga Toilet Umum Malioboro

Tuliskan Komentar