atas1

Pesan Puisi Lima Menit Langsung Jadi

Selasa, 23 Jul 2019 | 12:30:51 WIB, Dilihat 770 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Pesan Puisi Lima Menit Langsung Jadi Lapak kolaborasi Puisi Seketika milik Thoyib Norcahyo dengan sket wajah tidak mirip milik sahabatnya di Pasar Seni FKY 2019. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Batik Giriloyo Dipasarkan secara Online


KORANBERNAS.ID -- Adalah Thoyib Norcahyo, pria kreatif yang puitis di balik lapak Puisi Seketika di Pasar Seni Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 (FKY2019). Lapak itu khusus untuk membuat bait-bait puisi di atas kertas secara spontan atau seketika.

Penggemar cukup datang mengutarakan tema yang mau dirangkai menjadi puisi. Tak lebih dari  lima menit, Thoyib selesai membuat larik puisi apik yang tertulis di atas secarik kertas daur ulang beraneka ragam pilihan warna dan tekstur.

Ini merupakan proyek seni perseorangan milik Thoyib yang fokus dalam bidang puisi sejak 27 Juli 2017. Mengusung konsep pelanggan memberi tema secara bebas (satu kata atau lebih) kemudian tema tersebut dijadikan puisi secara cepat, tak lebih dari lima menit.

"Sehari ada belasan pengunjung datang ke lapak Puisi Seketika ini, bahkan mencapai puluhan di saat akhir Minggu. Memang kebanyakan berasal dari luar kota," aku Thoyib.

Pemesan cukup membayar minimal Rp 10.000 untuk secarik puisi yang mereka pesan. Namun tak jarang ada yang memberi lebih karena merasa puas dengan karya Thoyib.

Ragam tema yang disodorkan pemesan tak membuatnya kesulitan. Mulai dari kata mantan hingga senja.

Lahir di Yogyakarta 26 tahun silam, Thoyib menemukan konsep dan merealisasikan Puisi Seketika, setahun selepas dari pendidikan formalnya jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Kiprahnya menggeluti Puisi Seketika ini semacam pembuktian bahwa mesin ketik yang dianggap sudah tidak ada gunanya di masa sekarang tetap bisa menghasilkan.

Usaha kreatif ini ternyata berawal karena ketertarikannya dengan bentuk mesin ketik manual di sebuah toko loak.

Bahkan dia sempat berselisih paham dengan sang ibu karena membeli sebuah mesin ketik bekas yang harganya cukup mahal. Bagaimana tidak, di era masyarakat atau rerata mahasiswa seusia Thoyib sudah hampir tidak ada yang menggunakan mesin ketik manual seperti itu.

"Saya sendiri nggak bisa kok menggunakan mesin ketik ini awalnya," ujar Thoyib menunjukkan mesin ketik Olympus yang dibelinya dalam kondisi bekas.

Bahkan waktu pertama buat lapak di FKY 2017, pelanggan pertama membuatnya grogi. “Dipencet-pencet mesin ketik ini nggak keluar tulisannya, eh ternyata kunci tombolnya belum dibuka," kenangnya.

Kini tak hanya nongkrong di Pasar Seni FKY saja, panggilan keluar kota juga sudah beberapa kali. “Banyak hal seru," aku Thoyib sewaktu diundang acara pernikahan dan membuat puisi secara live untuk tamu-tamu.

Setelah menemukan mesin ketik Olympus dengan jenis font italic dan cukup artistik untuk puisi-puisinya, kini Thoyib sedang mencari mesin ketik langka font bahasa Jawa. Kabarnya mesin ketik itu hanya dibuat terbatas, salah satu pemiliknya Keraton Yogyakarta.

FKY 2019

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019 yang berakhir 21 Juli 2019 sukses me-rebranding Festival Kesenian Yogyakarta menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta. Festival kebanggaan masyarakat Yogyakarta ini telah 31 tahun rutin diselenggarakan.

Festival ini  pertama kali diadakan 7 Juli 1989 bersamaan dengan peresmian Monumen Jogja Kembali. Pada 1990 FKY diadakan di Alun-alun Utara Yogyakarta, melibatkan 29 grup pawai seni, pameran seni rupa dengan 200 lukisan dari 200 seniman serta seni batik.

Juga ada panggung kesenian terbuka di Alun-Alun Utara melibatkan 57 grup anak SD, remaja, tari klasik, dagelan, keroncong dan ketoprak.

Lebih dari seperempat abad usianya, tahun ke-31 FKY mengangkat tema Mulanira: ruang | ragam | interaksi. Meski berpusat di Kampung Mataraman Panggungharjo Sewon Bantul, namun FKY 2019 tetap dilangsungkan di beberapa spot budaya di Yogyakarta.

Antara lain Museum Sonobudoyo, Pendapa Art Space, Pendapa Taman Siswa, Museum Pangeran Diponegoro, Panggung Krapyak hingga Museum Gunung Merapi.

Selain program-program tersebut, FKY 2019 masih menawarkan beragam kegiatan dan aktivitas lain untuk seluruh masyarakat.

Misalnya Pasar Seni terdiri dari 50 stan yang digelar tiap hari selama pelaksanaan festival di Kampoeng Mataraman. Itu masih ditambah lagi Pasar Tiban, terdiri dari 20 stan produk kreatif dan 10 stan produk kuliner, yang dibuka setiap akhir pekan, mulai Jumat hingga Minggu, di sekitar Telaga Julantoro.

Terdapat pula workshop, lokakarya, diskusi dan tidak ketinggalan panggung seni dan hiburan yang tidak hanya berlokasi di Kampung Mataraman saja, melainkan tersebar di beberapa titik di Desa Panggungharjo Sewon Bantul. (sol)

(Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 20 Juli 2019).



Selasa, 23 Jul 2019, 12:30:51 WIB Oleh : Sari Wijaya 466 View
Batik Giriloyo Dipasarkan secara Online
Selasa, 23 Jul 2019, 12:30:51 WIB Oleh : Putut Wiryawan 479 View
Ahli Geologi Diterjunkan Bantu Cari Sumber Air
Selasa, 23 Jul 2019, 12:30:51 WIB Oleh : Putut Wiryawan 397 View
Penghasilan Perajin Batik Hanya Rp 150 Ribu Per Bulan

Tuliskan Komentar