atas

Prof Mahfud MD Terus Terang Akui Dirinya Berkampanye

Rabu, 20 Feb 2019 | 01:05:32 WIB, Dilihat 426 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Prof Mahfud MD Terus Terang Akui Dirinya Berkampanye Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Moh Mahfud MD menyampaikan gagasannya pada Dialog Kebangsaan Seri V di Stasiun Tugu Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Senam Tera Bikin Lansia Tak Ringkih Kehilangan Keseimbangan


KORANBERNAS.ID – Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2018-2013 yang juga Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Prof Dr Moh Mahfud MD, terus terang mengakui dirinya saat ini sedang berkampanye.

Pernyataan tersebut dia lontarkan saat menjadi narasumber Dialog Kebangsaan Seri V, Selasa (19/2/2019) malam, di Stasiun Tugu Yogyakarta.

“Ada yang usil bilang ini kampanye. Terus terang kami datang untuk kampanye. Bukan kampanye politik praktis tetapi kampanye high politics, politik tataran tinggi bukan low politics,” ujarnya.

Dia menyayangkan kondisi perpolitikan tataran bawah saat ini memprihatinkan. Hanya gara-gara pemilu terjadi saling mengkafirkan, mengungkit-ungkit kesalahan, saling tuding pro-asing, pribumi, China, Arab.

“Kenapa karena pemilu kita harus bertengkar. Kami datang untuk kampanye mengingatkan bahwa pemilu itu ibarat pesta. Di dalam pesta yang sempurna, semua bergembira boleh memilih makanan apa saja. Saling tersenyum. Sesudah berpesta berpelukan lalu dengan haru berpisah, mudah-mudahan bertemu di pesta berikutnya,” paparnya.

Dia bersyukur, Indonesia sampai hari ini tetap bersatu. Negara berpenduduk 260 juta, terdiri dari 17.504 pulau, 1.360 suku, 702 bahasa dan enam agama ini merupakan anugerah Allah Yang Maha Kuasa.

“Indonesia bisa bangun dan merdeka karena semangat nasionalisme dan patriotisme. Semangat itu pula yang membuat Indonesia sekarang ini bisa nyaman,” ujarnya.

Salah satu wujud kenyamanan itu kini bisa dirasakan oleh para pengguna angkutan kereta api. “Saya mengapresiasi pimpinan KAI yang memfasilitasi Dialog Kebangsaan. Kereta api yang kami tumpangi nyaman, ada AC dan karaoke. Hidangan tersedia. Kemudian saya dikritik, saya jawab semua rakyat sekarang ini sudah naik KA,” ungkapnya.

Baginya, angkutan kereta api sekarang ini sangat jauh berbeda.  Prof Mahfud masih ingat ketika ke Jogja naik kereta api tidur di lantai, di bawah kursi.

Diaku atau tidak, PT KAI punya andil besar bagi perjuangan dan kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat, Bung Karno menggunakan kereta api dari Yogyakarta ke Jakarta sehingga lahirlah lagu Sepasang Mata Bola.

Prof Mahfud lantas menyanyikan lagu tersebut diiringi orgen tunggal. Sebelumnya dia bawakan pula lagu Tiga Malam. “Enak ta,” ujarnya bercanda mengomentari penampilan dirinya sendiri saat menyanyi.

Menurut dia, lagu-lagu itu termasuk lagu anak-anak maupun lagu daerah seperti Burung Kaka Tua, mengandung semangat patriotisme yang tinggi. Demikian pula lagu Ya Lal Wathon maupun Sang Surya yang sangat terkenal di kalangan NU dan Muhammadiyah.

Selain Prof Mahfud, dialog yang dipandu moderator Dr Siti Rohaini Zulhayat kali ini juga dihadiri narasumber GKR Mangkubumi, Alissa Wahid, Dr KH Malik Madani, Charis Zubair serta Romo Benny Susetyo Pr.

Narasumber Dialog Kebangsaan Seri V di Stasiun Tugu Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Di hadapan peserta yang terdiri dari tokoh agama, tamu undangan dari jajaran TNI dan Polri, tokoh masyarakat, seniman, budayawan, akademisi serta aktivis Gusdurian, GKR Mangkubumi memaparkan pandangannya mengenai kontribusi Yogyakarta bagi Indonesia.

Dia sepakat, ibarat kecepatan kereta api 85 kilometer per jam, merawat patriotisme dengan tujuan untuk kemajuan bangsa harus ditambah lagi kecepatannya.

Korelasinya dengan kondisi saat ini, generasi sekarang harus mengetahui sejarah di bumi Nusantara.

Putri dari Sri Sultan Hamengku Buwono X ini khawatir generasi muda melupakan sejarah terutama yang tidak terdapat pada buku sejarah tetapi faktanya ada di masyarakat.

Contoh, selain Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang pertama kali menyatakan bergabung NKRI saat merdeka, masih terdapat lebih dari 180-an kerajaan yang juga punya andil dan ikut berjuang untuk Indonesia.

“Itu banyak yang lupa. Mereka juga punya pahlawan. Negara perlu aktif mengetahui, termasuk mengetahui sejarah Jogja yang tidak dibukukan,” tuturnya.

Banyak kalangan mengakui Yogyakarta memang luar biasa. Dari kota ini lahir dan tumbuh beragam organisasi. Selain itu, atmosfer Yogyakarta juga membuat kangen. “Setelah minum air Jogja selalu kangen. Teman saya kalau tidak ke Jogja rasanya ada yang kurang,” kata GKR Mangkubumi.

Meski begitu Jogja tidak lepas dari permasalahan. Apabila masyarakat kota ini merasakan suasana kurang nyaman pasti bergeliat, dengan sendirinya masalah yang muncul tereliminasi tanpa harus demo, misalnya.

Menguatkan pernyataan GKR Mangkubumi, moderator Siti Rohaini Zulhayat mengakui siapa pun yang pernah menuntut ilmu di Jogja akhirnya bisa berbahasa Jawa.

Ini menunjukkan Jogja memiliki ruang publik yang nyaman dan aman. Meski akhir-akhir ini berdasarkan penelitian Jogja masuk list, terdapat guru-guru yang diindikasikan terpapar paham ekstrem, namun demikian dia yakin hal itu tidak akan berlangsung lama karena dengan sendirinya terbasuh oleh Jogja.

Tamu undangan Dialog Kebangsaan Seri V di Stasiun Tugu Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Membuka orasinya, KH Malik Madani yang mengutip ungkapan seorang tokoh agama dan ilmu keislaman terkenal dari Mesir, Syeh Mahfud Salqod, menyampaikan keindahan negeri ini dilukiskan sebagai sepotong surga yang sengaja dipindahkan oleh Allah SWT di atas bumi Indonesia.

“Sebagai bentuk rasa syukur atas karunia Allah SWT, kewajiban kita adalah merawat patriotisme dan semaksimal mungkin memajukan bangsa dan negeri yang gemah ripah loh jinawi ini,” ajaknya.

Dia menyambut gembira kegiatan yang digagas oleh Gerakan Suluh Kebangsaan, apalagi di tahun politik yang ditandai memanasnya gesekan sesama anak  bangsa di medsos setelah debat capres putaran dua.

“Merawat patriotisme sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Kita tidak terima apabila Indonesia tercabik-cabik seperti Timur Tengah,  Libya, Syiria dan Afghanistan yang penduduknya terpaksa mengungsi. Alhamdulillah kita hidup sangat nyaman di Indonesia,” katanya.

Menurut Kiai Malik Madani yang pernah menjadi Khatib Aam PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) bersama almaghfurlah KH Sahal Mahfudz waktu itu, gambaran mengenai Indonesia dengan alamnya yang indah menjadi sempurna karena kehidupan bangsa ini damai dan aman.

Ini karena Islam agama mayoritas di Indonesia selalu diresapi dan diyakini sebagai dinussalam, agama perdamaian dan bukan agama perang.

Menyambung pernyataan GKR Mangkubumi, kiai asal Madura itu merasa bersyukur hidup di Yogyakarta. “Alhamdulillah saya bisa hidup di Jogja. Ini sangat luar biasa. Saya tidak merasa asing di Jogja,” ungkapnya.

Dari Jogja pula lahir para tokoh yang memimpin NU. Setidaknya ketika dirinya menjabat Khatib Aam PBNU, sejumlah 50 persen pengurusnya berasal dari kota ini.

Dalam kesempatan itu, Allisa Wahid memaparkan gambaran masa depan Indonesia kaitannya dengan 17 agenda global yang disepakati PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa), di antaranya tidak ada lagi kemiskinan dan kelaparan ekstrem pada 2030.

Menurut dia, sekalipun tanpa tindakan progresif, pada 2045 Indonesia diyakini bisa masuk peringkat tujuh besar negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Jelajah Kebangsaan berlangsung 18-22 Februari 2019. Kegiatan yang difasilitasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Kereta Api Indonesia (Persero) ini bekerja sama dengan Gerakan Suluh Kebangsaan.

Executive Vice President (EVP) Daop 6 Yogyakarta, Eko Purwanto, menyampaikan PT KAI senantiasa mendukung kegiatan-kegiatan positif, mengingat acara ini bertujuan mengajak berbagai elemen masyarakat membangun kesadaran berbangsa dan bernegara dalam rangka memperkokoh NKRI.

Jelajah Kebangsaan dengan rute Merak-Banyuwangi berlangsung di sembilan stasiun, dimulai dari Stasiun Merak dilanjutkan Stasiun Gambir, Stasiun Cirebon, Stasiun Purwokerto, Stasiun Yogyakarta, Stasiun Solo Balapan, Stasiun Jombang, Stasiun Surabaya Gubeng dan berakhir di Stasiun Banyuwangi.

Para tokoh nasional melakukan lima hari perjalanan dengan kereta api menempuh jarak 1.314 kilometer.

“KAI senantiasa mendukung kegiatan positif dalam rangka memupuk rasa kebangsaan Indonesia melalui pendekatan yang ringan namun kreatif dan membumi,” ungkap Edi Sukmoro, Direktur Utama KAI.

Jelajah Kebangsaan ini juga dalam rangka menguatkan dan menyebarluaskan semangat positif kebangsaan Indonesia melalui jalur kereta api. (sol)



Selasa, 19 Feb 2019, 01:05:32 WIB Oleh : Arie Giyarto 640 View
Senam Tera Bikin Lansia Tak Ringkih Kehilangan Keseimbangan
Selasa, 19 Feb 2019, 01:05:32 WIB Oleh : Masal Gurusinga 329 View
Baru Selesai Dibangun, Jembatan Ini Ambles
Selasa, 19 Feb 2019, 01:05:32 WIB Oleh : Arie Giyarto 392 View
Tiket Gratis Ronggolawe Makar untuk 50 Peserta Awal Diskusi Kebangsaan

Tuliskan Komentar