atas1

BKKBN Serius Tangani Stunting, Jadi Program Prioritas Nasional

Senin, 20 Mei 2019 | 22:05:31 WIB, Dilihat 489 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


BKKBN Serius Tangani Stunting, Jadi Program Prioritas Nasional Direktur AdvokasI dan KIE BKKBN Pusat Sugiyono SPd MM bersama pejabat BKKBN DIY. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Masih Ada 31.355 KK Miskin di Sleman


KORANBERNAS.ID -- Saat ini satu dari tiga penduduk Indonesia stunting, yakni gagal tumbuh pada masa bayi dan balita dalam 1.000 hari pertama kehidupan.

Hal ini harus ditangani serius karena berkait dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) guna  membangun sumber daya manusia (SDM) berkualitas di masa mendatang. Oleh karenanya stunting merupakan salah satu program prioritas nasional.

Hal itu disampaikan Direktur Advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) BKKBN Pusat, Sugiyono SPd MM, sesaat sebelum membuka pertemuan Penguatan Advokasi Program KKBPK Melalui Promosi dan Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Bagi Kelompok Kegiatan di DIY, Senin (20/5/2019).

Menurut Sugiyono persoalannya tidak sepenuhnya berkait dengan kemampuan ekonomi keluarga tetapi lebih pada pola pengasuhan.

Ini karena proses reproduksi mengikuti seluruh siklus kehidupan manusia. Artinya, sejak ibu hamil harus mendapatkan perlakuan dan perhatian istimewa, kemudian berjenjang dilakukan sesuai tahapan.

Diawali dengan inisiasi ASI pertama begitu bayi lahir yang mengandung daya ketahanan tubuh. Dilanjutkan pemberian ASI eksklusif, makanan bergizi, imunisasi dan lain-lain. Juga perilaku hidup sehat.

Selain itu pola asuh ayah juga perlu diperhatikan. Ibu menurunkan kecerdasan dan kepandaian, sedangkan ayah menurunkan perilaku dan kebijakan.

Dengan pendekatan pola asuh seperti itu anak akan tumbuh kembang dalam suasana tak terlupakan.

Sugiyono menegaskan, angka stunting ini akan terus diupayakan menurun. Pada empat atau lima tahun lalu angkanya masih 37,6 persen kini menjadi 30  persen lebih dan tahun 2020 ditargetkan menjadi 27 persen.

Untuk menangani masalah ini BKKBN melibatkan hampir semua kementerian dengan bidang garapan masing-masing. Juga sudah tersedia modulnya Emas atau Eliminasi Anak Stunting sebagai acuan.

Peserta pertemuan penguatan advokasi dan KIE program KKBPK melalui promosi dan sosialisasi Kespro tingkat DIY, Senin (21/5/2019). (arie giyarto/koranbernas.id)

KB modern

Menurut Sugiyono, DIY sebagai daerah unggulan pencapaian program KKBPK sejak lama menjadi tempat banyak pihak untuk belajar.

Akan tetapi, lanjut dia, akhir-akhir ini angka kesertaan KB di provinsi ini menurun khususnya pemakai alat kontrasepsi (alkon) modern.

Sedang alkon tradisional angkanya justru bertambah. Ini perlu perhatian serius agar semua tetap dalam kontrol.

Sugiyono menambahkan, dalam membangun karakter manusia, Yogyakarta sejak dulu sudah melakukan dengan pendekatan budaya melalui tembang Macapat.

Diawali dari Mijil (lahir),  Maskumambang (tumbuh kembang), Sinom (remaja). Asmaradana (mengenal asmara), Kinanthi, Pangkur (meninggal) dan diakhiri Pocung (dipocong). “Kalau hal ini dikembangkan serius hasilnya akan maksimal,” kata dia.

Kasubid Kesehatan Reproduksi BKKBN DIY dr MZ Fathurrohman MSi dalam laporannya mengatakan, pertemuan yang berlangsung setengah hari ini diikuti 215 peserta.

Dari jumlah tersebut 200 di antaranya perwakilan Poktan BKB se-DIY yang merupakan kader tingkat lapangan. Peserta memperoleh berbagai materi yang terkait dengan sosialisasi ini. (sol)



Minggu, 19 Mei 2019, 22:05:31 WIB Oleh : Nila Jalasutra 399 View
Masih Ada 31.355 KK Miskin di Sleman
Minggu, 19 Mei 2019, 22:05:31 WIB Oleh : Arie Giyarto 623 View
Mahasiswa UAD Bukber Bersama Anak Panti Asuhan
Minggu, 19 Mei 2019, 22:05:31 WIB Oleh : Arie Giyarto 474 View
Trik Belanja Murah, Elus Jenggot Pedagang

Tuliskan Komentar