buku-setebal-363-halaman-ungkap-sisi-lain-gkr-mangkubumiGKR Mangkubumi memberikan sambutan pada acara peluncuran buku “GKR Mangkubumi: Penyambung Budaya Adiluhung dan Peradaban Indonesia Modern”. (istimewa)


Siaran Pers
Buku Setebal 363 Halaman, Ungkap Sisi Lain GKR Mangkubumi

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA—Sedikitnya 34 penulis dari beragam latar belakang ikut ambil bagian dalam buku “GKR Mangkubumi: Penyambung Budaya Adiluhung dan Peradaban Indonesia Modern”. Peluncuran buku di Ndalem Peonokawan Yogyakarta, Sabtu (26/2/2022) malam, sekaligus menjadi kado ulang tahun ke-50 untuk sang putri sulung Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu.


Di antara tokoh yang turut memberikan tulisannya, adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ada juga Menkopolhukam Mahfud MD, Ketua DPR RI Puan Maharani serta sutradara dan sineas Garin Nugroho. Bahkan, Sri Sultan HB X sendiri, juga ikut menyumbang tulisan untuk buku ini.

  • Saat Gareng Pegang Gagang Mikrofon

  • Dalam rilis yang dikirimkan panitia disebutkan, para penulis di buku ini, secara umum mengutarakan GKR Mangkubumi sebagai sosok yang simpel dan apa adanya. Bahkan ia kerap tampil dalam kesahajaan tanpa sapuan make up. Namun penampilan ini, tak mengurangi keberadaannya sebagai pribadi yang berkarakter kuat, hangat terhadap siapapun.

    Buku ini, secara umum mengulik kisah masa lalu Gusti Mangku saat masih bernama Raden Ajeng Nurmalita, kemudian berganti GKR Pembayun dan kemudian menyandang gelar GKR Mangkubumi.


    Mewakili penulis, Mengkopolhukam Mahfud MD mengisahkan awal mula perkenalannya dengan GKR Mangkubumi. Lewat buka setebal 363 halaman itu, ia menilai, predikat penyambung budaya adiluhung dan peradaban Indonesia modern layak diembannya.

    “Bagaimana dia lahir dan dibesarkan di pusat kebudayaan, lalu bergaul dan menjalani kehidupan sehari-harinya dalam nuansa modern. Itu murni saya tulis sendiri. Kalau cuma formalitas, saya bisa menyuruh staf buat nulis. Tapi, ini tidak, saya tulis sendiri,” ungkap Mahfud.

    Di dalam buku tersebut, dikisahkan pula tentang proses kelahiran GKR Mangkubumi, yang memiliki nama kecil RAj Nurmalitasari. Kisah tersebut, dipaparkan langsung oleh sang ibunda, GKR Hemas.

    Kemudian, rentetan kisah hidup dari muda hingga dewasa, disajikan para penulis lainnya.

    Personel Tim Penulis, Julius Felicianus menyampaikan, pasukannya yang beranggotakan tujuh orang, hanya butuh waktu tiga pekan untuk menyelesaikan buku tersebut.

    Ia pun tak menampik, untuk memilih penulis dari beragam latar belakang, memang bukan tugas yang gampang.

    “Prosesnya mulai 1 Februari 2022. Kita pilih 34 penulis. Tapi, masalahnya, mereka semua sibuk. Makanya, kita bersyukur, ternyata mereka berkenan dan menulisnya sendiri. Bahkan, Ngarsa Dalem memberikan tulisan tangannya, untuk kita tayangkan di buku ini,” terangnya.

    Namun, seperti yang sudah ia duga sebelumnya, proses penyelesaian tak selalu mulus. Bagaimana tidak, tulisan terakhir baru dikumpulkan dua hari menjelang deadline.

    Menariknya, meski waktu yang diberikan sangat mepet, tim penulis seakan memperoleh kekuatan tambahan.

    “Kita satu minggu terakhir cuma tidur dua tiga jam saja. Tapi, rasanya kita tidak lelah. Ada semacam kekuatan khusus untuk menyelesaikan buku ini. Saya rasa teman-teman yang mengedit, layout, juga merasakan hal serupa,” urainya.

    Alim Sugiantoro bersama GKR Mangkubumi di sela acara peluncuran buku. (istimewa)

    GKR Mangkubumi menuturkan, buku ini menjadi kado terindah di momen ulang tahunnya yang ke-50 tersebut. Menurutnya, apa yang ditulis oleh tokoh publik, rekan-rekannya semasa muda, hingga gurunya di bangku sekolah, sangat bermanfaat untuk refleksi diri.

    “Isinya kan sangat bermacam-macam. Tapi semuanya kesan-kesan yang baik. Saya sangat berterimakasih pada seluruh penulis dan tim penyusun. Buku ini menjadi refleksi bagi diri saya, agar ke depannya bisa lebih baik,” katanya.

    Kesan positif juga disampaikan pengusaha properti sekaligus pemilik Alimdo Regency di Jalan Gito Gati Sleman, Alim Sugiantoro. Ia yang turut hadir di acara ini mengaku terkesan dengan keseharian Gusti Mangku yang merakyat seperti ayah dan juga eyang-eyangnya. Sebagai pengusaha, Alim mengaku cukup paham kiprah putri sulung Gubernur DIY ini yang begitu mementingkan kemakmuran dan kedamian untuk rakyatnya. Sebagai pemimpin termasuk di Kadin DIY, Gusti Mangku tampil sebagai sosok yang tangguh, ulet dan rendah hati.

    “Ya kalau menurut saya, beliau ini patut menjadi tauladan bagi kita semua, termasuk para pengusaha. Masyarakat khususnya di DIY, kepemilikan rumah khususnya untuk rakyat berpenghasilan rendah masih menjadi persoalan tersendiri. Itulah, mengapa saya pun selama ini sangat serius dan menekuni penyediaaan rumah murah untuk rakyat kecil di Yogyakarta,” kata Alim yang dikenal sebagai pengembang perumahan MBR Godean Jogja Hills. (*)

     



    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini