Bupati Kaget dengan Panen Perdana Timun Baby

226
Sri Purnomo melakukan panen perdana timun baby yang dikembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bintang 18, Selasa (13/03/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID–Bupati Sleman bersama Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, serta Camat Ngaglik melakukan panen perdana timun baby yang dikembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bintang 18 di area persawahan Dusun Clumprit, Desa Sardonoharjo Ngaglik, Sleman, Selasa (13/03/2018).

Direktur BUMDes Bintang 18, Haryono mengatakan bahwa pada tahun pertama program utama BUMDes yang dipimpinnya dititik beratkan pada agrobisnis dengan membudidayakan timun baby bekerja sama dengan 22 petani di Sardonoharjo. Dalam panen yang dilakukan pada demplot seluas 400 meter persegi tersebut mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp 4 juta.

“Modal awal penanaman timun baby di demplot ini sebesar Rp 2 juta dan ketika panen menghasilkan Rp 6 juta,” kata Haryono.

Diungkapkan Haryono, lahan seluas kurang lebih 3 hektar digunakan untuk mengembangkan timun baby tersebut dengan target panen perhari 5 kuintal sampai 1 ton. Timun baby mulai ceblok (tanam) hingga dapat dipetik pada hari ke 30.

Baca Juga :  Rela Antre Demi Bertemu Sultan

“Demplot timun baby di Clumprit ini panen pada hari ke 37, menggunakan bibit Vitany F1 yang mampu menghasilkan 3 Kg timun baby dalam satu tanaman,” katanya.

Lebih lanjut Haryono menjelaskan bahwa  timun baby dipetik sehari dua kali yaitu pada pagi dan sore. Dirinya mesimulasikan  dari  hasil panen  5 kuintal perhari dengan asumsi harga Rp 3.000,- per kilogram, omset yang diraih sebesar Rp 1,5 juta per hari. “Dari usaha timun baby ini kami proyeksikan meraih keuntungan sebesar Rp 180 juta di akhir tahun 2018 nanti,” kata Haryono.

Sementara Sri Purnomo usai acara panen menyampaikan apresiasinya pada BUMDes Bintang 18 yang telah berhasil mengembangkan budidaya timun baby sebagai salah satu usaha berbasis agrobisnis ini.

Baca Juga :  Pegawai Pengadilan Bersih dari Narkoba

“Timun baby nampaknya hasilnya sangat menjanjikan. Dalam kurun waktu 30 hari sudah bisa dipanen. Awal panen pertama sudah bisa mengembalikan modal dan selebihnya merupakan keuntungan petani,” kata Sri Purnomo.

Sri Purnomo mengatakan, membangun ekonomi daerah tidak bisa dilepaskan dari peranan para petani, pelaku usaha , lembaga di sektor keuangan dan pemerintah sendiri. Salah satu usaha yang memiliki eksistensi penting dalam pembangunan perekonomian daerah di Sleman adalah usaha pertanian.

“Sektor ini memiliki hubungan yang positif dalam program penurunan kemiskinan,” tambah Sri Purnomo. (SM)