cerita-margito-petugas-lapangan-saat-wabah-pmkMargito, pengelola kesehatan ternak besar kecil dan unggas wilayah Kecamatan Prambanan dan penanggungjawab kesehatan ternak pasar hewan Prambanan kabupaten Klaten. (istimewa)


Masal Gurusinga
Cerita Margito, Petugas Lapangan Saat Wabah PMK

SHARE

KORANBERNAS.ID, KLATEN -- Keberadaan petugas pengelola kesehatan ternak besar, kecil dan unggas atau ada juga yang menyebutnya dengan Mantri Hewan di satu wilayah berperan penting. Terlebih di saat ada penyakit yang menyerang ternak warga, petugas selalu siaga karena situasi dan kondisinya bersifat mendesak.


Begitu juga ketika wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) menyerang sejumlah ternak warga di wilayah Kabupaten Klaten beberapa hari terakhir, petugas di lapangan selalu siaga meski dihadapkan risiko.


Seperti dialami Margito, petugas pengelola kesehatan ternak besar, kecil dan unggas wilayah Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten dan penanggungjawab kesehatan ternak di pasar hewan Prambanan.

Sebagai petugas yang memiliki tanggung jawab serta tugas pokok dan fungsi (tupoksi), Margito menceritakan bahwa pemeriksaan terhadap kondisi semua ternak yang akan dibawa ke pasar hewan Prambanan sudah rutin dilakukan saat pasaran Pon dan Legi. Hanya saja sebelum ada wabah PMK, pemeriksaan ternak hanya dilakukan di tambatan di dalam pasar.


Ketika virus PMK menyerang ternak warga di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, dan Desa Tarubasan, Kecamatan Ngawen, pemeriksaan lebih ditingkatkan dan diintensifkan. Tujuannya, untuk mengetahui asal usul ternak, kondisi ternak dan sebagai upaya mencegah masuknya virus PMK.

"Sebenarnya pemeriksaan sudah rutin dilakukan setiap pasaran Pon dan Legi. Saat kami mengeluarkan ternak pun pasti ada secarik kertas tentang asal usul ternak dan kondisi kesehatan ternak yang menyatakan tidak terserang penyakit menular," katanya.

Alumni Diploma 3 Peternakan Universitas Terbuka bekerja sama dengan STPP Magelang ini menambahkan, ketika wabah PMK masuk Klaten dan ditandai dengan kunjungan Bupati Klaten, Hj Sri Mulyani, ke Pasar Hewan Prambanan, Selasa (17/5/2022) lalu, tim dari Puskeswan Jogonalan dan UPPT (Unit Pelayanan Peternakan Terpadu) Kabupaten Klaten juga ikut membackup tugas di pasar hewan.

"Makanya kemarin kelihatannya agak berbeda dibandingkan hari biasa. Alhamdulillah kemarin tidak ada temuan dan semua ternak yang masuk pasar dinyatakan sehat," ujar Margito.

Pria yang dikenal murah senyum dan komunikatif ini menjelaskan untuk saat ini, tepatnya ketika ada wabah PMK, di Pasar Hewan Prambanan diberlakukan standar operasional prosedur (SOP). Artinya, semua ternak yang masuk wajib diperiksa apakah ternak itu menunjukkan gejala PMK atau tidak. Kalau memang dinyatakan sehat maka ternak itu boleh masuk pasar. Sebaliknya, ternak tidak boleh masuk pasar dan langsung dibawa pulang kembali oleh pemiliknya jika memiliki gejala klinis PMK.

Pemeriksaan dilakukan petugas di atas kendaraan di pintu masuk pasar. Bilamana dipandang perlu mendapatkan hasil yang lebih teliti dan akurat, maka kendaraan yang mengangkut akan dipinggirkan agar tidak menggangu kendaraan lain yang hendak masuk pasar.

Saat ditanya suka duka bertugas di lapangan, Margito menjawab selaku petugas di lapangan tentu ada konsekuensi tugas dan jabatan yang diemban. "Anggap saja suatu dinamika kehidupan. Umpama ada wabah seperti flu burung, PMK. Itu hanya bentuk konsekuensi tugas dan jabatan yang harus dihadapi," ujarnya.

"Banyak sukanya. Kita bisa bertemu banyak orang dan teman-teman," kata Margito menambahkan.

Gejala klinis PMK pada sapi seperti demam tinggi suhu 39-41 derajat Celsius, air liur berlebihan dan berbusa, luka lepuh di lidah, tidak mau makan, sulit berdiri dan nafas cepat.

Pada bagian lain, Kepala Pasar Hewan Prambanan, Kusno Tri Junianto, menjelaskan untuk mencegah masuknya virus PMK di Pasar Hewan Prambanan, Kapolres Klaten juga telah menginstruksikan larangan masuk ternak dari daerah rawan seperti Boyolali. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini