Cerita tentang Gajah Seharga Mobil Baru

Catatan Ringan dari Phuket Island (2)

121
Patong Beach salah satu pantai di Pukhet Island. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pukhet Island yang cantik itu ternyata sebagian pernah hancur diterjang tsunami bersamaan dengan tsunami Aceh lebih dari satu dasawarsa lalu. Tidak hanya bangunan-bangunan indah dan megah yang hancur. Tetapi korban nyawa pun cukup banyak juga di pulau Thailand.

“Perekonomian Phuket lumpuh total. Tak ada lagi wisatawan yang berani datang ke sini,” kata Yamin. Padahal seluruh penghidupan masyarakat Phuket bergantung pariwisata di segala lini. Dari hotel, resto, kafe, rental mobil, pedagang cenderamata, pusat oleh-oleh, suplayer berbagai keperluan, makanan kaki lima sampai pemandu wisata, semua tak bisa memperoleh penghasilan.

Pemerintah kerajaan Thailand dengan sigap segera membenahinya. Menurut Yamin, hanya dalam waktu delapan bulan pariwisata Phuket bangkit kembali.

Meski kini semua sudah tersedia, namun gemuruh pembangunan Phuket tak pernah terhenti. Sebagai pusat pariwisata, banyak sekali fasilitas pelengkap terus dibangun.

Malam hari truk-truk molen mengangkut adukan semen dan pasir untuk mengecor bangunan hilir mudik tiada henti. Tenggelam dalam hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur.

Di sana tinggal pilih mau ke mana. Biasanya wisatawan dalam kelompok besar atau kecil sudah terjadwal sesuai kesepakatan dengan travel agent. Ini lebih memudahkan karena semua urusan sudah ditangani, tinggal menyesuaikan jadwal saja.

Mau snorkling misalnya, dari hotel wisatawan  diangkut dengan mobil, minibus maupun bus besar menuju Phi-Phi Beach. Dari dermaga ini, wisatawan naik kapal besar dengan kapasitas sekitar 600 penumpang.

Sekitar satu jam perjalanan, sebagian dipindahkan ke kapal yang lebih kecil. Semuanya mengenakan baju pelampung, dan akhirnya turun di laut yang tak begitu dalam. Sedang kapal besar itu, menempuh perjalanan one way mengangkut wisatawan yang akan menginap di hotel di sebuah bukit di tengah laut.

Baca Juga :  Anggota PHRI Diminta Bersaing Secara Sehat

“Sayang ya snorkling-nya cuma sebentar,” kata Wahyu, wisatawan asal Indonesia  sedikit kecewa.  Wahyu memang bisa melihat ikan hias warna-warni  tetapi tidak sebanyak di Labuanbajo, NTT.

Bagi yang suka kano, jaraknya memang agak jauh. Melewati Pulau James Bond, sebuah gugusan pulau berbatu karang. Gua penuh stalagtit stalagnit tempat hampir semua wisatawan dari negara-negara di benua Asia, Afrika, Eropa, Amerika maupun  Australia mengambil foto kenangan.

Pulau itu diberi nama James Bond lantaran pernah dipakai lokasi syuting film bintang Roger Moore, sang James Bond pada tahun 1970-an selama kurang lebih setahun.

Dari Pulau James Bond, masih naik perahu lagi ke lokasi bermain kano di Pulau Kera (karena banyak keranya). Turun di dermaga, lalu ada pengarahan untuk keselamatan. Setiap dua orang turun ke kano. Sudah ada pendayungnya. Wisatawan tinggal duduk manis mengelilingi Pulau Kera yang cukup luas.

Diterpa semilir angin di perairan yang (saat itu)  tenang. Kemudian makan siang di restoran perkampungan muslim yang berada di atas air laut. Disangga kayu-kayu besar, demikian juga badan bangunan. Sangat luas dengan suasana cukup eksotis, karena bisa menikmati suguhan makan siang sambil menyaksikan kapal hilir mudik.

Bagi yang ingin menikmati indahnya matahari tenggelam di ufuk barat, ada pantai yang selalu dipadati pengunjung. Tapi sayang ketika koranbernas.id ada di sana hujan tiba-tiba turun. Pengunjung bubar mencari tempat berteduh.

Di tempat itu puluhan pedagang makanan siap melayani pembeli dari atas sepeda motor yang sudah dimodifikasi.

Fanta Beach juga merupakan salah satu pantai yang banyak menyedot pengunjung. Karena di tempat itu selalu berlangsung berbagai macam show. Sedang bagi yang tertarik Thai Boxing ada sebuah kampung yang menggelar pertunjukan itu.

Baca Juga :  Ada-ada Saja, Kaki Anak Ini Terperosok di Alun-alun
Yamin, pemandu wisata. Wajahnya mirip orang Indonesia. (arie giyarto/koranbernas.id)

Di Phuket masih bisa dijumpai orang-orang yang memelihara gajah. Kalau dulu menurut Yamin, gajah itu dipekerjakan di hutan, mengangkut kayu. Tapi kini gajah dimanfaatkan menunjang pariwisata.

Wisatawan bisa naik di punggung gajah dengan tarif tertentu. Tetapi tidak semua orang punya uang bisa membeli gajah yang harganya sama dengan mobil baru.

Kalau dirupiahkan ratusan juta rupiah. Mereka harus melewati skrining tertentu. Termasuk kepandaian menjadi pawang gajah. Di mana gajah itu akan dikandangkan dan sebagainya.

Dan keberadaannya di bawah pengawasan dokter hewan. Tak hanya di permukiman penduduk, gajah juga sering diajak jalan di jalan raya. Sementara lalu lintas cukup padat dan sang gajah tenang-tenang saja.

Karena penduduk bergantung hidup dari pariwisata, pemerintah sangat melindungi tenaga pariwisata. Termasuk kewajiban rombongan wisatawan yang datang ke sana menggunakan pemandu wisata asal Thailand.

Larangan merokok di tempat umum tetap terjaga. Bahkan di minibus pun tertempel peringatan larangan merokok. Bagi pelanggarnya akan didenda 5.000 Bath.

Menjadi pemandu wisata sangat lumayan hasilnya. Selain bisa bergaul dengan banyak orang, Yamin juga bisa menghidupi keluarga dengan dua anak. Tidak hanya biaya hidup tetapi juga bisa membeli rumah, mobil dan tentu saja ada tabungan.

Yamin belajar bahasa Indonesia melalui berbagai kursus. Dia bahkan pernah berkunjung ke Indonesia. Mengunjungi berbagai kota di antaranya Jakarta, Bandung, Yogyakarta. Juga ke pulau Bali, pusat pariwisata Indonesia yang mirip dengan Phuket.

Menurutnya, Phuket berhasil menjadikan wisatawan tak hanya merasa nyaman. Tetapi juga aman. Mobil parkir di pinggir jalan sampai beberapa malam tetap aman. Di sana juga tidak ada tukang parkir. (sol/bersambung)