cerita-tentang-pohon-munggur-yang-jadi-rebutanPohon Munggur yang ada di Kalurahan Ngawis, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, yang jadi rebutan. (sutaryono/koranbernas.id)


Sutaryono
Cerita tentang Pohon Munggur yang Jadi Rebutan

SHARE

KORANBERNAS.ID, GUNUNGKIDUL -- Sebuah pohon Munggur yang berada di perbatasan wilayah Padukuhan Branjang dan Karang Talun, Kalurahan Ngawis, Kapanewon Karangmojo, menjadi rebutan antara warga dengan pedagang kayu yang sudah merasa membelinya.


Bahkan, kemarin, Minggu (10/4/2022), warga sempat bersitegang dengan pedagang kayu yang akan menebang pohon. Warga keberatan jika kayu Munggur yang umurnya sudah ratusan tahun ini ditebang. Karena di bawahnya ada sumber air dan warga setempat menyebutnya dengan belik atau sumur tua yang airnya masih digunakan untuk mengairi sawah.


"Kami khawatir jika pohon ditebang, sumber air di bawahnya akan mati dan mengering," kata Rasyid Ridlo, Ketua LPMP Padukuhan Branjang, Minggu (10/4/2022), saat ditemui di rumahnya.

Pohon Munggur ini, lanjut Rasyid, tumbuh di atas tanah yang berstatus Sultan Ground (SG). Di bawahnya ada sumur/belik tua yang dikenal sebagai Sumber Setro.


Rasyid kemudian menceritakan, awal dari sengketa atau perebutan hak dari pohon Munggur ini. "Ceritanya, di tahun 2005 kami membuat tugu Lar Badak perbatasan wilayah dusun, karena pohon tumbuh di perbatasan dua dusun, maka Padukuhan Branjang dan Karang Talun sama-sama merasa memiliki pohon ini," kata Rasyid.

Kebetulan juga, lanjut Rasyid, saat membangun tugu Lar Badak mereka kekurangan dana, sehingga ada usulan agar pohon Munggur dijual saja untuk membangun tugu.

"Waktu itu pak Toni, warga Branjang, mengatakan bahwa pohon jangan ditebang, biarkan sampai ngurak atau mati sendiri, lalu pak Toni memberikan uang 7 juta (rupiah)," lanjutnya.

Uang Rp 7 juta dari pak Toni ini, kemudian dibagi. Padukuhan Branjang mendapat Rp 3 juta, Karang Talun Rp 3 Juta dan Kalurahan Ngawis Rp 1 juta. Uang itu lalu digunakan oleh masyarakat untuk pembangunan, termasuk menyelesaikan pembuatan tugu Lar Badak.

Waktu Pak Toni memberikan uang itu, menurut Rasyid, tidak ada akad jual beli terhadap pohon. Pak Toni hanya mengatakan agar pohon jangan ditebang, biarkan sampai mati sendiri.

"Jadi tidak ada akad jual beli. Juga tidak ada bukti surat resmi dalam bentuk apapun. Tapi saat pak Toni mengatakan itu, banyak saksi warga masyarakat yang sedang kerja bakti ikut mendengar," imbuhnya.

Dalam perjalanan waktu, pak Toni yang disebut oleh Rasyid ini mengalami bangkrut usahanya. Dia kesulitan keuangan dan, menurut Rasyid, pak Toni menjual pohon Munggur ini ke seorang pedagang kayu di Wonosari yang bernama pak Sis.

"Itu terjadi tahun 2016. Katanya oleh pak Sis, pohon dibeli dengan harga 42 juta (rupiah). Oleh pak Sis, pohon itu kembali dijual lagi. Katanya laku 60 juta (rupiah)," lanjut Rasyid.

Pada tahun 2018, lanjut Rasyid, pohon ini pernah akan ditebang. Akan tetapi banyak warga yang memprotes dan menghalang- halangi, sehingga penebangan gagal.

Polemik ternyata belum berakhir. Pedagang kayu itu datang lagi untuk menebang pohon Munggur. Bahkan dua dahan dari pohon Munggur raksasa ini sudah dipotong dan berserak di bawah pohon.

Karena terdengar suara gergaji mesin yang digunakan menebang pohon, banyak warga berkerumun untuk mencegah penebangan. Warga dan penebang sempat bersitegang kembali.

Menurut Rasyid, pedagang yang sudah merasa membeli kayu sempat memperlihatkan surat jual beli yang ditandatangani pak Toni, tapi dokumen itu tidak lengkap. Banyak blangkonya yang kosong tidak diisi.

"Karena status tanah adalah milik Sultan Ground, kami mempertanyakan surat ijin penebangan dari keraton. Kata mereka, akan segera mengurusnya dan besok akan kembali lagi bersama pihak keraton," kata Rasyid.

"Kami, warga Branjang, sungguh sangat ingin mempertahankan keberadaan pohon ini. Kami mohon agar jangan sampai ditebang. Apalagi, menurut informasi, penebangan juga akan menggunakan alat berat, karena pohon Munggur akan diambil sampai bagian akarnya. Lalu, nanti Sumber Setro akan bagaimana nasibnya. Pasti rusak dan mengering. Padahal saat ini airnya masih dimanfaatkan," imbuh Rasyid lagi.

Senada dengan Rasyid, Hasyim, tokoh pemuda Padukuhan Branjang, sangat khawatir jika pohon ini benar-benar ditebang. Ia menyebut bahwa pohon yang terletak di pintu masuk dusun ini sebagai ikon Padukuhan Branjang. Hasyim juga mengkhawatirkan jika pohon ditebang, sumber air di bawahnya akan mati.

"Sayang kalau ditebang, karena pohon bersejarah. Kami juga baru merancang dan merencanakan Padukuhan Branjang menjadi desa wisata. Jika pohon itu ditebang, tentu salah satu yang akan kami jadikan ikon akan hilang," pungkas Hasyim. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini