“Channel 710 Indo VWT”, Jalur Mudah Pantau Merapi bagi Pemegang Android

368
Nugroho Apriono dan Mbah Suro, mengawal jalur 710 Indo VWT. (Surya Mega/koranbernas.id)  

PUKUL 08.20 WIB, 1 Juni 2018, warga kembali dikejutkan oleh kolom asap setinggi 6.000 meter di puncak Merapi. Ini adalah letusan  freatik terdahsyat dalam beberapa hari terakhir. Dalam hitungan menit, di berbagai kanal medsos berseliweran foto-foto letusan Merapi itu, lengkap dengan berbagai komentar.

Spekulasi terus berkembang. Di antaranya adalah tulisan-tulisan yang mencoba mengaitkan aktivitas Merapi terkini, dengan letusan dahsyat Merapi 2010 lalu.

Di tengah hiruk pikuknya pemberitaan dan arus informasi Merapi di media sosial, Mbah Suro, terlihat sibuk dengan dua ponsel androidnya. Di atas meja di sebelah kirinya, nampak sebatang perangkat HT tergeletak dalam posisi on dan sesekali dari speakernya, terdengar bunyi seseorang di seberang sana.

Namun Mbah Suro terlihat tetap serius dengan androidnya. Sesekali pria setengah baya itu, menekan tombol hijau bertuliskan PTT di bagian bawah layar ponselnya. Setelahnya, Mbah Suro ikut berbicara merespon berbagai informasi dan pertanyaan yang masuk dalam percakapan.

“Roger…10,4…baik ada pertanyaan dari Bung Sapto di Solo, tentang kondisi Merapi yang pagi tadi sempat erupsi freatik. Ok, langsung saja saya teruskan pertanyaan ini ke kawan-kawan yang posisinya ada di Sleman atas. Silakan dijawab ..Ganti,” timpal Mbah Suro dengan suaranya nan empuk.

Sembari terus memantau dan sesekali ikut bermodulasi atau berbicara di perangkat androidnya, anggota dan juga salah satu pengurus RAPI Wilayah 05 Kabupaten Sleman yang mempunyai panggilan udara JZ12SS ini memberi penjelasan tentang kanal di android tersebut.

Mbah Suro dan rekan-rekannya menyebut kanal tersebut adalah channel 710 Indo VWT. Nama yang sesuai dengan frekwensi dan nama aplikasinya.

Indo VWT sendiri, sejatinya adalah singkatan dari Indonesia Virtual Walkie Talkie. Sebuah aplikasi ciptaan anak Jogja, yang sebagian kanalnya kemudian didedikasikan untuk komunitas dari Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI). Sedangkan RAPI, sebagaimana diketahui, adalah organisasi nirlaba di Indonesia yang beranggotakan pengguna perangkat radio komunikasi.

Organisasi ini biasa bergiat pada kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Juga pada kegiatan-kegiatan tertentu seperti membantu koordinasi saat arus mudik dan balik lebaran serta saat terjadi kebencanaan.

Mbah Suro dan ribuan anggota RAPI di Sleman serta puluhan atau mungkin ratusan ribu anggota lainnya di seluruh Nusantara, sejak beberapa tahun silam mulai aktif menggunakan Channel 710 Indo VWT ini. Langkah yang dimaksudkan untuk memperluas kanal komunikasi, khususnya dalam melayani kebutuhan publik atas informasi tertentu yang dibutuhkan.

Baca Juga :  JNE Resmikan Dua Gerai Baru di Jogja

“Ini aplikasi mas. Disebut Indo VWT yang bisa diunduh di playstore secara gratis. Bisa kita gunakan seperti halnya kita memakai handy talkie atau HT. Jadi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi tertentu dan urgent, seperti misalnya aktivitas Merapi, arus mudik Lebaran dapat mengakses channel ini,” kata Mbah Suro yang bernama asli Y Suhardi.

Sekretaris RAPI Wilayah 05 Kabupaten Sleman, Nugroho Apriono JZ12FCV berharap, keberadaan channel 710 Indo VWT dapat saling melengkapi informasi jaringan komunikasi dengan perangkat HT yang mobile dan perangkat base station berpemancar yang dimiliki para anggotanya.

Aktivitas dari para personel RAPI di Pos Komunikasi yang mereka dirikan untuk membantu masyarakat. (dokumentasi RAPI untuk koranbernas.id)

Masing-masing perangkat memiliki kelebihan atau keunggulan sendri-sendiri. Dengan penggunaan channel 710, dirinya berharap jaringan infromasi yang dibangun dengan nilai-nilai JELAS , AKURAT, BERTANGGUNGJAWAB dan DAPAT DIPERCAYA, dapat didistribusikan dengan lebih luas dan mudah bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Sekarang ini, masyarakat dapat memonitor dan bahkan berinteraksi atau berbagi informasi tanpa harus memiliki HT. Mereka bisa mengunduh aplikasi ini gratis. Kendalanya hanya satu, kalau sinyal seluler tidak terjangkau, ya otomatis tidak dapat menggunakan aplikasi berbasis data ini,” kata Nugroho.

Menyadari aplikasi ini bisa diunduh oleh siapapun, dan hanya dengan beberapa langkah yang mudah pengunduh aplikasi bisa ikut bermodulasi, maka Admin di ch 710 sejak awal mengatur lalulintas bermodulasi di channel ini. Di udara, Admin ch 710 yang dimotori oleh beberapa anggota RAPI dengan pengembang aplikasi, menempatkan personel-personel yang 24 jam mengawal komunikasi atau yang biasa disebut Star Operator.

Merekalah yang bertugas menyaring dan menghimpun informasi yang dibutuhkan pengakses, termasuk melakukan kros cek dan memvalidasi informasi sebelum diudarakan. Demi menjaga kualitas informasi, personel RAPI juga menjalin komunikasi dengan berbagai komunitas relawan lain yang berkompeten, termasuk instansi-instansi terkait yang berwenang.

“Kalau ada pengakses atau user yang kita tengarai menyampaikan informasi meragukan, bisa kita kros cek. Kalau masih nekat, kita bisa hentikan modulasinya. Masih terus mengganggu, kita bisa block. Jadi kami tidak tolelir informasi yang gak jelas. Apalagi hoax,” tambah Mbah Suro.

Sejak 2016

Saat erupsi freatik Merapi 1 Juni 2018 lalu, user channel 710 Indo VWT mengalami lonjakan. Dari rata-rata hanya 40-60 personel, tiba-tiba langsung mengalami peak hingga 1.700 user. Hal ini, bagi Mbah Suro cukup mengejutkan karena belum pernah selama 2-3 tahun sejak channel ini diluncurkan, menerima akses sebesar itu.

Baca Juga :  JNE Resmikan Dua Gerai Baru di Jogja

Namun lompatan user, bagi Mbah Suro merupakan sinyal positif, bahwa kanal ini memang mulai menjadi kebutuhan bagi masyarakat umum untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.

“Kami sampai kewalahan menghandle jalur ini. Makanya kalau kawan-kawan user yang baru masuk mungkin heran, topiknya Merapi tapi yang menghandle koq kebanyakan kawan-kawan dari luar kota. Itu karena personel kami yang di Jogja justru sibuk menjaring informasi dari bawah atau dari lapangan supaya informasi yang kita udarakan bisa valid,” kata Mbah Suro.

Dwi Indarto, JZ12BM yang juga Ketua RAPI Wilayah 01 Kota Jayapura yang sejak awal mengawal kanal ini menyebut, Channel 710 Indo VWT sesungguhnya bukan kanal di android yang pertama dioperasikan oleh RAPI. Sebelumnya, ia bersama kawan-kawannya sudah mengoperasikan Channel 700 sejak 2014. Tapi pemanfaatan kanal ini mengalami pasang surut. Baru 8 Juni 2016, Channel 710 kemudian diluncurkan dan eksis sampai dengan sekarang.

“Awalnya memang lebih untuk koordinasi kegiatan-kegiatan social kemasyarakatan. Tapi perkembangannya sekarang, channel ini juga banyak diakses oleh masyarakat yang ingin berbagi informasi-informasi khusus, seperti aktivitas Merapi, kecelakaan, kondisi lalulintas jalan, dan lain sebagainya. Ya tidak masalah, selama informasi itu memang dibutuhkan, dan Valid, Jelas serta bisa dipertanggungjawabkan,” kata Indarto.

Azam Kurniawan selaku pihak pengembang aplikasi pun menyambut baik progress dari channel ini. Kepada koranbernas.id, Azam aplikasi ini merupakan hasil pengembangan aplikasi sebelumnya. Terkait pemanfaatan, pihaknya menyerahkan kanal ini sepenuhnya kepada RAPI. Pihaknya hanya mengawal dari sisi teknis.

“Kami senang kalau karya kami bisa dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak dengan penuh tanggungjawab,” kata Azam.

Secara teknis, mengakses aplikasi ini sangatlah mudah. Azam menerangkan, pemakai android segala kelas, cukup mengunduh di playstore dan kemudian mengikuti tutorialnya yang juga sederhana.

Soal biaya, juga begitu terjangkau. Penggunaan aplikasi ini berbasis data, dengan perhitungan hanya 3 kb per 1 detik untuk bermodulasi. Sedangkan saat hanya memonitor, maka penggunaan datanya hanya 0,01 kb. (Surya Mega)