Di Sini, Pejalan Kaki Seolah-olah Temukan Surga

252
Duduk di kursi taman, wisatawan menikmati suasana Malioboro sore hari. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID —  Jalan-jalan sore di Malioboro memang menyenangkan. Sejak proyek penataan pedestrian kawasan Malioboro selesai, pejalan kaki seakan-akan menemukan surga. Tak hanya nyaman jalan-jalan, jika capek mencari kursi kayu panjang untuk duduk istirahat.

Jika kursi penuh, di kawasan Titik Nol Kilometer itu masih ada tempat tersisa berupa penyekat kendaraan supaya naik trotoar. Sekat berupa “bola-bola” besar terbuat dari semen itu juga nyaman untuk tempat duduk.

Sedikit ke utara, di kawasan barat Pasar Beringharjo Yogyakarta banyak orang menikmati senja, duduk di kursi-kursi sambil menikmati aneka jajanan. Di sana setiap sore ada beberapa penjual ondhe-ondhe dan lumpia yang bisa disantap masih panas dari penggorengan.

Juga kue puthu bumbung, kelepon dan cethil, makanan tradisional yang mulai langka. Di sisi selatan ada penjual martabak dan terang bulan. Sedang bakpia, makanan ikon Yogyakarta digelar dengan tempat seragam. Semua menggunakan gerobak warna hitam ada nomor dan tertulis: Malam.

Ada pula penjual nasi pecel beserta kelengkapannya. Setelah matahari tenggelam muncul penjual gudheg. “Nyaman santai di sini. Suasana tidak begitu ribut,” kata Ny Bari dari Wirobrajan Kota Yogyakarta, Selasa (27/02-2018) sore itu duduk santai di kursi kayu panjang sambil menikmati ondhe-ondhe hangat seharga Rp 2.500  per bijinya.

Baca Juga :  Empat Desainer Siap Tampil di Ajang JHF 2018

Menjawab pertanyaan koranbernas.id, dia memang kerap datang ke Malioboro guna melengkapi kenangan nostalgik masa remajanya. Meski memang tidak sama, tetapi Malioboro yang dulu teduh oleh pohon-pohon asem besar serta tidak riuh oleh kendaraan. “Dulu sangat nyaman, maklum penduduk Jogja memang belum padat,” katanya.

Sementara Yuni yang datang bersama rombongan pelajar dari Madiun terkesan dengan Malioboro dan Pasar Beringharjo. Alasannya semua yang dicari ada di kawasan itu.

Meskipun ini merupakan kunjungan pertamanya di Kota Yogyakarta, hanya saja, katanya, harus pandai menawar karena kebanyakan pedagang utamanya di pasar dan kaki lima tidak mematok harga pas.

Sembari duduk, berseliweran para penjual minuman hangat maupun dingin. Mereka mendekatkan pada konsumennya agar tak perlu susah mencarinya. Hanya saja, menurut Yuni, kadang-kadang kenyamanan itu sedikit agak terusik oleh pengamen yang datang dan pergi silih berganti.

Wisatawan berjalan kaki di antara tenda-tenda PKL yang menjual jajanan tradisional, di dekat Pasar Beringharjo . (arie giyarto/koranbernas.id)

Suasana nyaman Malioboro berubah menjadi gegap gempita tatkala liburan sekolah atau long weekend tiba. Trotoar sisi timur Malioboro sampai Titik Nol dipenuhi wisatawan yang datang berombongan.

Baca Juga :  Ada Daftar Pemilih Tak Dikenal

Untuk mencari kursi buat istirahat saja amatlah sulit, karena pada saat-saat seperti itu kota ini selalu dibanjiri wisatawan terutama wisatawan domestik.

PBTY sepi

Suasana Malioboro petang itu bersamaan berlangsungnya Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) di kawasan Ketandan sebagai pusat kawasan Pecinan, terlihat berbeda.

“Tahun ini lebih sepi dibanding tahun-tahun lalu,” kata Wiwing. Dia bersama suaminya jualan mi dan nasi goreng di kawasan itu. Di luar event PBTY pun dia yang semasa (alm) Tun Yulianto aktif di Perwacy itu, setiap hari berjualan di sana pada siang hari.

Sebagaimana tahun-tahun lalu jalan masuk Ketandan didominasi bebagai penjual makanan khas Tionghoa maupun makanan umum seperti pisang goreng, ketela keju. Ada juga minuman jeruk babby murni yang diambil airnya saja.

Agak sepinya PBTY itu sudah terlihat dari ujung barat pintu masuk dari Malioboro, persisnya di utara toko Ramayana. “Dulu mau masuk saja susah, harus berhimpitan.  Sekarang lebih lega,” kata Cintya yang sore itu datang ke PBTY bersama teman-teman remajanya. (sol)