empat-orang-meninggal-karena-kencing-tikusAdi Utarini (tengah) menunjukkan ember wadah telur nyamuk ber-wolbachia dalam jumpa media di Balaikota Yogyakarta, Kamis (15/11/2018). (w asmani/koranbernas.id)


asmani
Empat Orang Meninggal karena Kencing Tikus

SHARE

KORANBERNAS.ID -- Angka kematian akibat penyakit Leptospirosis di Yogyakarta cukup tinggi. Selama tahun 2018 terdapat 17 kasus. Empat orang meninggal dunia.


Penyakit yang disebabkan oleh kencing tikus itu diawali gejala panas tinggi, menggigil, kepala pusing, badan sakit dan mata kuning.

  • Sandi Launching Teh Wangi Produk UMKM Jogja
  • Pemkot Buka Perpustakaan Baru, Semoga Tidak Tutup

  • Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta, Agus Sudrajat,  dalam jumpa media di Kantor Kominfo dan Persandian komplek Balaikota Yogyakarta, Kamis (15/11/2018), menjelaskan kasus demam berdarah (DB) tercatat dari Januari hingga 2 November 2018 sejumlah 87 kasus.

    “Korban meninggal dunia dua orang. Dibandingkan 2016 terdapat 1.420 kasus DB dan tahun 2017 dengan 397 kasus, maka di tahun 2018 hanya 87 kasus. Dari angkat tersebut kasus DB pada 2018 mengalami penurunan,” paparnya.

  • Polbatang Menuju Kampus Bertaraf Internasional
  • Karet Celana Impor Pak..

  • Dia mengingatkan, memasuki musim penghujan atau musim pancaroba, masyarakat agar waspada terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh virus dan bakteri.

    Penyakit yang mungkin timbul di musim pancaroba di antaranya demam berdarah, diare dan leptospirosis.

    Pencegahan penyakit DB harus dilakukan dengan cara memutus mata rantai kehidupan nyamuk melalui gerakan 3 M, menguras, menutup dan menimbun benda-benda yang bisa dijadikan tempat bertelur nyamuk.

    Bak penampungan air bisa diberi ikan.  Talang air perlu juga dicek untuk mengetahui ada tidaknya indukan nyamuk di dalamnya.

    "Untuk mengantisipasi DB supaya tidak terlambat penanganannya, Pemkot Yogyakarta sudah menyiagakan Puskesmas," jelas Agus.

    Pihaknya akan cepat mengambil tindakan jika terdapat pasien yang terindikasi DB, kemudian segera ditangani agar tidak berkelanjutan.

    "Untuk penyakit leptospirosis disebabkan kencing tikus di tempat kotor. Kalau hotel bersih tidak akan ada tikus di dalamnya," kata dia.

    Peneliti utama World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta, Adi Utarini,  menambahkan pihaknya sudah melepas nyamuk ber-wolbachia. Tidak kurang 8.000 ember berisi telur nyamuk ber-wolbachia dititipkan di rumah-rumah warga sejak November tahun lalu.

    "Kami melakukan pemantauan persentase wolbachia dengan menitipkan 437 BGTrap (alat perangkap nyamuk dewasa) di wilayah penelitian," terang dia.

    Nyamuk yang terperangkap diambil sepekan sekali untuk keperluan identifikasi selanjutnya diperiksa kandungan wolbachia-nya. Hasil dari aktivitas tersebut, persentase nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia kini stabil di atas 80 persen di seluruh wilayah pelepasan. (sol)



    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini