Kamis, 03 Des 2020,


gembok-kelenteng-kwan-sing-bio-dibuka-umat-khonghucu-tidak-lagi-beribadah-di-jalananSejumlah tokoh memberikan keterangan usai membuka gembok pagar Kelenteng Kwan Sing Bio di Tuban. (istimewa)


Warjono

Gembok Kelenteng Kwan Sing Bio Dibuka, Umat Khonghucu Tidak Lagi Beribadah di Jalanan


SHARE

KORANBERNAS.ID, TUBAN -- Penantian itu cukup panjang. Umat Khonghucu di Tuban akhirnya tidak lagi harus beribadah di jalanan. Kini mereka bisa kembali beribadah di dalam Kelenteng Kwan Sing Bio, kelenteng yang disebut termegah se-Asia.

Kembalinya kesempatan beribadah dengan nyaman dan tenteram ini setelah pagar kelenteng yang sebelumnya tergembok, Minggu (25/10/2020), bisa dibuka lagi.


Baca Lainnya :

Tiga tokoh berpengaruh berhasil mendamaikan dua kubu yang berselisih di internal Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio Kabupaten Tuban Jawa Timur.

Tiga tokoh itu adalah Alim Markus selaku bos Maspion Group, Soedomo Mergonoto owner Kopi Kapal Api dan Paulus Welly Afandi pengusaha Tionghoa asal Surabaya.


Baca Lainnya :

Hasil dari perdamaian itu, gerbang pintu masuk kelenteng yang digembok tiga bulan sejak 28 Juli 2020 akhirnya dibuka oleh tiga tokoh ini. Selanjutnya, umat bisa melakukan ritual seperti biasa dengan menerapkan protokol kesehatan yang diajukan pemerintah.

“Umat harus bersatu dan bangkit lebih besar, karena tempat ini terkenal. Jangan ada penggembokan lagi,” ungkap Alim Markus, sebagaimana rilis yang disampaikan salah satu sumber di internal TITD Kwan Sing Bio, Minggu, (25/10/2020).

Menurut Markus, kelenteng ini harus dibuka agar seluruh umat bisa sembahyang seperti biasanya. Semua orang tidak boleh melanggar ketertiban dan kehormatan.

“Kita ingin persoalan ini cepat selesai,” ungkap bos Maspion Group didampingi sejumlah pengurus Kelenteng Tuban.

Soedomo Mergonoto menambahkan, tempat ibadah kelenteng ini bukan milik orang per orang.  Kelenteng sampai kapan pun menjadi milik umat. Apabila kelenteng ditutup, itu akan merugikan masyarakat dan umat.

“Bisa saja terjadi selisih pendapat dari orang-orang yang duduk di kepengurusan atau pengelola, tapi itu bukan alasan untuk mengorbankan kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan umat. Apalagi kepentingan untuk beribadah. Itu tidak boleh terjadi lagi,” tegas Soedomo Mergonoto.

Bos kopi Kapal Api ini bersyukur, pihak-pihak yang berselisih dan terlibat konflik bersedia mendengarkan masukan kemudian menyelesaikan persoalan dengan cara damai. Mereka berkomitmen menyerahkan persoalan yang terjadi ke pihak yang netral. Tujuannya, agar segala persoalan yang ada di sini cepat ada titik terang.

“Saya bersama Pak Markus dan Pak Paulus akan berupaya maksimal membenahi kelenteng ini. Kedua kubu sementara kita minta tidak usah ikut-ikut lagi sampai ada titik temu yang bisa mendamaikan,” jelasnya.

Pembukaan gembok itu disambut baik oleh para umat termasuk Alim Sugiantoro selaku Ketua Penilik Domisioner Kelenteng Tuban. Dia mengaku sangat gembira karena ada tokoh yang peduli terhadap kelenteng dan umat dengan mendamaikan persoalan.

“Saya sangat gembira sekali, karena ada orang-orang yang peduli dengan kelenteng Tuban. Kelenteng ini aset negara. Harus bisa dijaga bersama. Persoalan ini kita serahkan kepada mereka agar kedamaian ini bisa lancar dan abadi,” tegasnya.

Alim Sugiantoro menyatakan benar saat ini pintu kelenteng telah dibuka dan umat bisa melakukan sembahyang secara damai. Itu artinya, umat tidak perlu lagi beribadah di luar pagar kelenteng dan di pinggir jalanan.

Namun, dia juga mengingatkan agar umat yang beribadah tetap memperhatikan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran virus Corona.

“Pintu sudah dibuka, umat bisa sembahyang. Tetapi saya ingatkan untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan Covid-19,” tegasnya.

Seperti diberitakan, gerbang pintu kelenteng terbesar se-Asia Tenggara itu digembok akibat konflik kepengurusan dua kubu. Yakni, kelompok Alim Sugiantoro selaku pengelola demisioner dengan Tio Eng Bo atau Mardjojo.

Perselisihan sudah berlangsung lama dan masuk dalam proses hukum atau peradilan. Karena persoalan inilah, sejak tiga bulan silam, pintu pagar kelenteng ini digembok, sehingga umat tidak bisa beribadah di dalamnya.

Akibatnya, ritual sembahyang bersama dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) YM Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1.860 ditiadakan, Kamis, (13/8/2020). Selain itu, puluhan umat juga terpaksa menggelar ritual sembahyang bersama di depan gerbang atau trotoar TITD Kwan Sing Bio Tuban. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini