Gunung Air Merapi

Merapi pasca erupsi 5 November 2010 (KORANBERNAS/V.KIRJITO)

SELAMA 18 tahun terakhir ini (2000–2018) saya tinggal di lereng Merapi. Sebelas tahun di Merapi Barat (Kabupaten Magelang, 2000-2011). Tiga tahun di Merapi Timur (Kabupaten Klaten, 2011–2013). Empat tahun di Merapi Barat lagi (Muntilan, 2014 sampai sekarang).

Denyut-denyut kegunungapian khas Merapi saya alami sebagaimana ditulis oleh Kepala BPPTKG, Subandrio, dalam buku “Hidup Bersama Merapi”, 2013:

“Tahun 2001, awal bulan Februari, Pos Babadan dipenuhi oleh para juru foto berita yang sudah berhari-hari bahkan berminggu-minggu menunggu saat-saat kritis Merapi akan meletus. Pada 10 Februari 2001 dini hari, akhirnya penantian itu berkahir. Merapi mengeluarkan awan panas ke arah barat sejauh 6,5 kilometer, setelah kurang lebih satu bulan lamanya memberikan tanda-tanda bakal erupsi, dan memunculkan kubah lava kecil di sisi barat laut puncak. Setelah erupsi tersebut, guguran-guguran batuan dan aliran lava terutama pada malam hari menambah meriah kegiatan Merapi yang bahkan berlangsung satu tahun lamanya.

Dalam sepuluh tahun sejak tahun 2001, Merapi meletus kembali tahun 2006 dan 2010. Erupsi katastrofik 2010 bahkan disebut sebagai paling dahsyat selama seratus tahun terakhir, setara dengan letusan 1872 yang terkenal itu. Dua letusan terakhir mengarah ke selatan mengakhiri dominasi arah barat yang sebelumnya hampir selalu menjadi favorit arah awan panas Merapi.”

Pasca erupsi 2010, Merapi tidur delapan tahun. Tidak pernah ada api di puncaknya. Tidak ada wedhus gembel atau awan panas.

Namun, tanpa ada tanda-tanda dan peringatan, masyarakat dikejutkan oleh letusan kolom vertikal setinggi 6000 meter, tanggal 11 Mei 2018 pagi hari, disusul letusan serupa 24 Mei dan 1 Juni 2018. Letusan disertai getaran suara gemuruh yang mengagetkan dan membuat cemas warga yang berdomisili di area rawan erupsi Merapi.

Para saintis gunungapi di BPPTKG intensif lagi mengamati secara saintifik-instrumental fenomena Merapi “baru”. BPPTKG menaikkan status Merapi, dari “normal” ke level “waspada”, berdasarkan pengamatan, penelitan istrumental-saintifik dan analisa ilmiahnya. Merapi “baru” itu nampaknya perlu sikap baru juga, urip anyar nganggo nalar di Merapi. Sikap yang lebih relevan bagi generasi milenium yang makin akrap dengan iptek, data dan analisa rasional.

Air di Lereng Merapi 

Di samping senang memerhatikan aktivitas kegunungapian, saya senang campur kagum dengan kesuburan lereng Merapi, baik sisi barat, selatan, timur maupun utara. Terbentang hamparan warna hijau yang menawan mengelilingi Merapi, mungkin sampai ketinggian 2000 m dpl. Lahan pertanian sayuran, padi maupun buah-buahan. Pemukiman padat juga mengelilingi Merapi. Kekayaan vegetasi yang tumbuh subur menjadikan penduduk suka memelihara ternak sapi, kambing, domba, ayam. Beraneka rumput dan semak, bunga edelweis, jambu gunung, pisang gunung, ilalang, dan sebagainya. Hanya area yang selalu dilewati guguran lava dan awan panas saja yang tidak ada vegetasi, tampak putih dan gersang.

Baca Juga :  Kodam IV/Diponegoro dan Polda Jateng Kirim Puluhan Truk Bantuan untuk Korban Gempa Lombok

Padahal pada ketinggian di atas 1000 m dpl sangat sedikit air yang keluar dari dalam tanah, lalu mengalir menjadi sungai. Hampir tidak ada air terlihat mengalir. Tidak ada genangan-genangan. Tidak ada air yang disebut dengan kata sifat bening atau keruh, jernih atau kotor, berasa atau tidak, berbau atau tidak, tidak berwarna, kecuali air dalam kemasan, atau di dalam bak-bak penampungan air hujan maupun air tanah dari beberapa titik yang memunculkan rembesan air yang kemudian disalurkan menggunakan pipa air.

Air yang Berbeda

Matahari terbit dari timur Merapi. Kabut tipis dan asap dari kawahnya ditembus cahaya. Sinarnya menerpa daun-daun. Dan… ini dia, pemandangan dahsyat. Pantulan sinar berkilau di ujung daun. Waah… AIR! Gelembung air sebesar biji jagung. Itulah air yang tidak berasal dari tanah. Malah air yang belum bersentuhan dengan tanah. Air yang nampaknya dihimpun dari butiran-butiran tak tampak mata, yang biasa disebut dengan istilah kelembaban udara lereng Merapi yang dingin (bersuhu 15-20 C). Air itu setiap pagi membasahi daun-daun dan melembabkan tanah lereng Merapi.

Air lereng Merapi itu jelas merupakan jenis dan kualitas air yang berbeda dengan air sumur, air sungai, air umbul yang menyembul ke permukaan tanah. Tidak sama dengan air PDAM. Jauh berbeda dengan air dalam kemasan plastik pabrikan merk apapun. Bahkan tidak sama dengan air suling buatan pabrik. Jika diukur dengan TDS (Total Disolved Solid) rata-rata di bawah 50 ppm. Sedangkan air sumur, air sungai, rata-rata di atas 100 ppm. (Menurut Permenkes tahun 2010, TDS tertinggi air layak minum 500 ppm).

Kita hanya akrab dengan air dalam bentuk cair. Mudah diukur jumlahnya. Mudah digunakan untuk segala keperluan, dari minum, mencuci, masak, hingga menyiram tanaman. Padahal air bisa dalam wujud padat, yaitu es batu. Bisa berwujud gas, seperti uap, awan, kabut yang berwarna putih. Kalau awan kehitaman kadar airnya tinggi, tanda-tanda mau menjadi benda cair yaitu hujan.

Air dalam bentuk gas itu yang paling banyak beredar menggenangi udara, di atas permukaan tanah dan permukaan laut, di lereng-lereng gunung hingga pada ketinggian ribuan meter, termasuk di gunung Merapi. Air yang tidak tampak sebagai benda cair itu yang membuat kesejukan udara. Air yang menghidupkan segala makhluk di lereng Merapi.

Tidak mengherankan jika mendaki lereng Merapi merasa nyaman dan krasan. Tubuh menikmati air wujud gas itu. Tidak lewat mulut dan tenggorokan, melainkan lewat pori-pori kulit tubuh dan lewat hidung ke paru-paru. Mungkin air seperti itulah yang memiliki kandungan oxigen (O2) murni dari alam. Air itulah yang sangat mungkin mempengaruhi kualitas darah dalam tubuh. Enerji fisik ketika mendaki gunung, terjaga oleh air yang justru tidak nampak wujud benda cair, yang tidak mudah terlihat mata. Maka ingin menghirup sebanyak-banyaknya.

Baca Juga :  Kanal Komunikasi Harus Munculkan Ide “Fresh”

Air Langit

Di Merapi itulah saya digugah untuk lebih “mencintai air”. Mulai dari tidak berpikir negatif terhadap air. Terbuka pikiran saya dengan air yang tidak dalam wujud cair. Kabut pagi di lereng Merapi, itulah air. Di langit ada banyak awan, itu air. Bila berubah menjadi hujan, itulah benda cair paling bersih dan jernih. Tidak ada air hujan keruh, sebelum jatuh di tanah dimana segala kotoran ada.

Di langit tidak ada tumpukan benda padat. Tidak ada tempat sampah padat. Kadang ada pesawat terbang melintas kecepatan sampai 800 km per jam. Tidak sempat badan pesawat itu menghimpun butiran molekul air. Kadang terlihat kaca pesawat basah oleh hujan. Tanpa weeper, kaca pesawat langsung kering dan bersih lagi. Tidak ada debu yang mengotori kaca jendela. Itu bukti bahwa udara yang dilintasi pesawat itu tidak banyak debu. Kalau ada debu letusan Merapi, penerbangan dihentikan. Artinya, udara dimana hujan terjadi sungguh sangat bersih.

Air sumur, itu air dari dalam sumur. Air sungai, adalah air dari sungai. Air laut, asalnya dari laut. Air tanah, diambil dari dalam tanah. Yang turun dari langit, mari kita sebut air langit.

Gunung Merapi selalu digenangi air langit. Pada musim kemaraupun air langit  menyelimutinya. Maka udaranya dingin dan sejuk. Pada musim penghujan, banyak sekali air langit dicurahkan. Tidak ada alasan untuk tidak mengagumi dan mencintainya. Terlalu sayang, kalau tidak ditumbuhkan budaya memanfaatkanya sebagai sumber air bersih untuk kehidupan.

Lereng gunung Merapi tidak akan menjadi hunian yang nyaman jika tidak ada air langit yang amat berlimpah dan berkualitas tinggi. Air langit yang menyelimuti, menggenangi sepanjang tahun. Itulah faktor konstitutif (penentu) kehidupan Panas matahari kemarau pun tidak mampu mengering-kerontangkan gunung Merapi dari genangan air langit.

Kesuburan Merapi lebih dikenali dari faktor mineral seperti abu Merapi. Bagaimana jadinya, kalau hujan abu dahsyat seperti erupsi 2010 itu tidak dibarengi dengan musim Hujan, musim Air Langit sekitar Oktober sampai Mei-Juni? Jadi suburkah? Tentu tidak. Maka, marilah memperkaya nama Merapi dengan sebutan “Gunung Air Merapi”. (***)

V. Kirjito, Pemerhati budaya air

(Tulisan ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi No. 19/2018, 29 Juni – 11 Juli 2018)