atas1

Jelang Pemilu Saatnya Gelorakan Bhinneka Tunggal Ika

Jumat, 08 Feb 2019 | 15:11:43 WIB, Dilihat 581 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Jelang Pemilu Saatnya Gelorakan Bhinneka Tunggal Ika Sinau Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Kantor Kecamatan Mergangsan Kota Yogyakarta, Jumat (7/2/2019). (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Saat Ibu-ibu Kolaborasikan Kulintang dan Angklung


KORANBERNAS.ID – Manusia tak bisa memilih sesuai keinginannya lahir sebagai ras dan suku apa. Perbedaan merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang patut disyukuri bersama, bukan sebaliknya menjadikan perpecahan.

“Kita ini tidak bisa memilih jadi suku apa. Kita ini sudah beda dari lahir. Kenapa sekarang menjelang pemilu, beda pilihan politik saja kok muncul hoax. Stop hoax dan hargai perbedaan pilihan politik. Ayo bareng-bareng menggelorakan Bhinneka Tunggal Ika. Kita bersama rakyat punya komitmen sama untuk mewujudkan Pemilu damai,” ujar Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIY, Jumat (8/2/2019), di Kantor Kecamatan Mergangsan Yogyakarta.

Saat berbicara sebagai narasumber kegiatan Sinau Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang digelar Badan Kesbangpol DIY serta didukung oleh Komisi A DPRD DIY, dia menyampaikan masyarakat Yogyakarta juga sudah terbiasa dengan segala perbedaannya.

“Meski kita ini berbeda suku, agama, ras, golongan namun harus tetap satu Indonesia. Masyarakat Yogyakarta sudah biasa dengan perbedaan. Lha kok saiki beda spanduk saja sudah kayak bukan saudara. Ini menurut saya harus diluruskan,” papar alumni Lemhannas itu.

Bagi Yogyakarta, kota dengan beragam julukan salah satunya Kota Pendidikan, perbedaan dan keberagaman merupakan keindahan. Tiap tahun ratusan ribu mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia masuk kota ini untuk belajar.

“Jadi, tidak ada lagi di Jogja ini cerita soal primordialisme. Yogyakarta ini sudah Indonesia. Kita nikmati dan kita jaga harmoni dan kedamaian Jogja dengan segala keindahan perbedaannya,” kata Eko Suwanto, anggota DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan itu.

Kalau pun kemudian muncul konflik kita harus punya sikap bijak untuk menyelesaikannya. Tinggal cara menyikapi dan penyelesaiannya bagaimana yakni tetap menjaga dan memegang kuat Bhinneka Tunggal Ika.

Dia mencontohkan, pasangan suami istri saat berada di depan loket tiket bioskop pun sering beda pilihan film yang akan ditonton. Begitu pula saat sarapan, satu ingin pecel satunya lagi ingin gudeg.

“Apalagi perbedaan saat memilih calon pemimpin. Beda pilihan itu biasa saja. Perbedaan harus bisa membuat semua bersatu padu dan tetap rukun. Mari kita jaga kerukunan di Jogja. RK, RW dan RT kita harap menjadi  juru kerukunan warga,” kata Eko Suwanto.

Narasumber lain pada kesempatan itu Kepala Bidang (Kabid) Bina Ideologi dan Kewaspadaan Nasional Badan Kesbangpol DIY, Eko Susilo SIP MSi serta Kasi Ter Korem 072/Pamungkas, Letkol Inf Jaelan.

Di hadapan peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat dan perwakilan pelajar, Letkol Inf Jaelan menyampaikan Indonesia merupakan negara besar dan kaya. Sangat disayangkankan apabila hanya beda pilihan, kemudian ribut.

“Indonesia ini sempalan surga. Tanaman apa yang tak bisa hidup di Indonesia? Kurma bisa tumbuh dan berbuah. Pohon dari hutan Amazon bisa hidup di Indonesia, sebaliknya pohon dari Indonesia tidak bisa hidup di Amazon. Negara kita ini besar. Semua ada di situ. Sayang kalau hanya karena pilihan berbeda jadi ribut,” paparnya.

Itu sebabnya Indonesia menjadi incaran. Sejak zaman Belanda coba dipecah-pecah tapi nyatanya tidak berhasil. Inilah pentingnya seluruh komponen bangsa berkomitmen dan secara bersama-sama menjaga keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila. (sol)



Jumat, 08 Feb 2019, 15:11:43 WIB Oleh : Arie Giyarto 584 View
Saat Ibu-ibu Kolaborasikan Kulintang dan Angklung
Kamis, 07 Feb 2019, 15:11:43 WIB Oleh : Sholihul Hadi 788 View
Widyaiswara Profesi yang Menarik
Kamis, 07 Feb 2019, 15:11:43 WIB Oleh : Sholihul Hadi 1403 View
Bulus Raksasa Sempat Dijual

Tuliskan Komentar