Jogja Punya Daya Tahan Kuat Lawan Teror

57
Eko Suwanto dan Noe pada acara Rembug Kebangsaan Menjaga Indonesia, Senin (12/02/2018), di Ingkung Robyong Yogyakarta.

KORANBERNAS.ID – Teror di gereja Bedog Jalan Jambon Sleman memang mengagetkan, tapi masyarakat Yogyakarta relatif punya daya tahan kuat melawannya. Warga tidak panik dan terbukti warung-warung makan tetap buka malam harinya usai aksi teror di pagi hari.

“Untuk melawan teror, percayalah Jogja punya daya tahan kuat. Kita punya Nyi Roro Kidul,” kelakar Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIY, pada acara Rembug Kebangsaan Menjaga Indonesia, Senin (12/02/2018), di Ingkung Robyong Yogyakarta.

Melalui acara yang diformat munyukan dengan suguhan pisang dan jagung godhog itu, Eko menyatakan daya tahan ini tidak lepas dari sikap dan kecerdasan warga memahami akulturasi. “Cara protes di Jogja ini cerdas. Level tertinggi adalah tapa pepe,” ungkapnya.

Dia mengakui, kemiskinan dan ketimpangan di DIY tertinggi di Indonesia. Para pakar sepakat, inilah sebenarnya akar masalah munculnya intoleransi dan benih-benih radikalisme.

Oleh sebab itu, DPRD DIY mendorong anggaran pemerintah termasuk Dana Keistimewaan (Danais) diarahkan ke program dan kegiatan untuk mengurai dua masalah tersebut.

Diskusi kali ini makin gayeng tatkala vokalis band Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe, memaparkan pandangannya seputar bahaya media sosial (medsos).

Putra budayawan Emha Ainun Nadjib itu menyebutkan, teknologi komunikasi digital yang berkembang luar biasa cepat apabila tidak diimbangi kesiapan, pasti menimbulkan salah langkah dan gagap.

Realitanya sekarang, budaya nongkrong dan medsos ibarat bensin bertemu api, bahkan semua bentuk rasan-rasan makin kencang ibarat pakai loudspeaker tanpa filter.

Alumnus University of Alberta Kanada ini prihatin, masyarakat seolah-olah tidak berdaya melawan medsos. Semua industri di dunia meletakkan konsumen dengan sebutan terhormat: pelanggan.

Namun faktanya hanya ada dua industri yang menyebut konsumennya sebagai pengguna yaitu medsos dan narkoba. Dia mencontohkan, pelanggan internet disebut pengguna, sama dengan sebutan pengguna narkoba.

“Pengguna hanya dipakai untuk sebutan pada industri internet dan narkoba karena basik dan motifnya sama, yaitu sama-sama cari duit. Satu jam saja kita tidak membuka notifikasi rasane gatel. Setelah membuka lega,” kata dia.

Noe mengakui sosmed memang punya dampak positif, hanya saja supaya tidak tersandera ada baiknya pengguna internet sadar dan menerapkan kontrol ketat pada dirinya sendiri.

“Melawan sosmed itu jihad, lho. Menurut Islam, musuh terbesar kita adalah diri sendiri. Kita harus menyadari kita ini sebagai komoditas,” paparnya.

Sependapat, Tri Martono Muliawan, netizen yang juga narasumber acara itu mengatakan perlunya memikirkan efek negatif medsos. Contohnya hoaks. “Yang buat hoaks itu orang pintar tetapi yang menyebarkan orang bodoh,” kata dia.

Dalam forum dialog, seorang peserta dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY mengakui medsos tidak memiliki batasan yang jelas antara hati nurani dan etika. “Hasrat kadang-kadang lebih didahulukan daripada etika dan moral,” ujarnya.

Ini berbeda dengan jurnalistik. Ruang gerak media-media mainstream tetap dibatasi etika dan moral sehingga berimbang. Ini yang tidak ada di medsos, sehingga sulit memverifikasi cuitan dan berita yang sebenarnya banyak sampahnya.

Yang pasti, media-media mainstream tetap menjaga narasumber yang berimbang. 5 W dan 1 H-nya terjaga. Demikian pula, etikanya tetap terjaga. (sol)