jokowi-melepas-jenasah-buya-syafii-maarifPresiden Joko Widodo saat melepas jenazah Ahmad Syafii Maarif usai menshalatkannya bersama tokoh masyarakat dan warga Yogyakarta di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Jokowi Melepas Jenasah Buya Syafii Maarif

SHARE

KORANBERNAS.ID,YOGYAKARTA -- Sejumlah tokoh hadir melepas jenazah Ahmad Syafii Maarif di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Tampak diantaranya Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, Mensesneg Pratikno, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Presiden Joko Widodo.


Berdasarkan data dari Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Mendengar kabar duka atas meninggalnya Ahmad Syafii Maarif atau yang biasa dipanggil Buya, Presiden Joko Widodo memutuskan langsung bertolak ke Yogyakarta untuk bertakziah dan menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada segenap keluarga almarhum.

  • Alumni UGM Nyatakan Kepemimpinan Jokowi Layak Dilanjutkan
  • Jokowi Tanya LPj Dana Desa, Ribuan Kades Kompak Menjawab Sulit

  • Jokowi berangkat dari Istana Merdeka sekitar pukul 12.30 WIB selepas melaksanakan salat jumat di Masjid Baiturrahim, Kompleks Istana Kepresidenan, menuju hanggar milik Garuda Maintenance Facility (GMF) Kawasan Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang tempat Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 terparkir.

    Presiden Jokowi yang hanya didampingi perangkat terbatas lepas landas sekitar pukul 13.50 WIB menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 dan setibanya di Yogyakarta akan langsung menuju Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta pukul 15:05 WIB tempat disemayamkannya almarhum.

  • Laskar Mahasiswa Deklarasi Dukung Jokowi-Maaruf Amin
  • Ki Seno Nugroho Hibur Wisatawan Malioboro

  • Tiba di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta sekitar pukul 15.05 WIB, Presiden Jokowi disambut pihak keluarga almarhum Buya Syafii Maarif dan langsung menunaikan Ibadah Shalat Ashar berjamaah sebelum melakukan shalat jenazah. Tampak hadir Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

    Dalam penghormatan terakhirnya kepada Buya Jokowi secara pribadi menyampaikan, duka cita yang dalam atas kepergian Buya. Jokowi juga menyebut atas nama bangsa Indonesia. Buya Syafii Maarif adalah guru bangsa, dan yang lihat beliau hidup dalam kesederhanaa.

    "Beliau adalah kader terbaik muhammadiyah yang selalu menyuarakan tentang keberagaman, dan selalu menyuarakan tentang toleransi antar umat beragama. Beliau juga selalu menyampaikan pentingnya pancasila sebagai asas. Kita semua adalah milik Allah dan hanya kepadanya kita akan kembali," tutupnya.

    Sementara Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan, atas nama keluarga Ahmad Syafii Maarif serta keluarga besar persyarikatan Muhammadiyah menyampaikan rasa duka dan kehilangan atas wafatnya ayahanda kami Ahmad Syafii Maarif pada hari ini.

    "Saya tadi setengah jam tiba dan sempat menemani beliau menghembuskan nafas terakhir di hadapan Allah SWT. Saya menjadi saksi bahwa beliau dipanggil Allah dengan segala kesiapan yang luar biasa. Seakan-akan beliau sudah merasa sudah saat dan tiba waktunya," kata Haedar.

    "24 Februari lalu beliau menghubungi saya, yang mengagetkan perasaan saya, beliau memesan makam di makam muhammadiyah yaitu husnul khotimah Kulonprogo," lanjutnya.

    "Saya ingat 26 Februari Bapak Presiden dan Bapak Mensesneg menjenguk beliau keluar dari rumah sakit. Waktu itu segar bugar tapi 13 hari yang lalu beliau merasakan lagi sakit dan dirawat di RS PKU Muhammadiyah termasuk juga berkoordinasi dengan tim dokter kepresidenan," imbuhnya.

    "Kala itu kami selain menyampaikan rasa duka dan kehilangan, kami juga menyampaikan terimakasih sedalam-dalamnya kepada Presiden RI, Bapak Gubernur dan seluruh umat yang begitu mencintai beliau dengan segala bantuan dan dukungan takziah doa bahkan tadi jamaah yang menshalatkan beliau bergelombang tiada henti," terang Haedar.

    "Buya adalah tokoh dan sosok yang tulus dan sederhana, buya bersedia menerima kritik apapun. Buya selalu berpesan kepada kami agar menjaga keutuhan bangsa, keutuhan umat dan keutuhan muhammadiyah. Pesan ini selalu diulang-ulang, dan tentu pemikiran jejak langkahnya kita semua bisa mempersaksikan," tutup Haedar.(*)



    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini