kenapa-air-prosesi-siraman-dari-satu-sumurM Riyo Dwijo Hutomo (kanan), Nyi MT Sestrorukmi (tengah) dan Mas Ngabei Citro Panembahan (Mas Bagus) dalam jumpa pers di komplek Pura Pakualaman, Jumat (4/1/2019). (w asmani/koranbernas.id)


asmani
Kenapa Air Prosesi Siraman dari Satu Sumur?

SHARE

KORANBERNAS.ID – Pernikahan agung atau Dhaup Ageng putra sulung KGPAA Paku Alam X yaitu BPH Kusumo Bimantoro dan dr Maya Lakshita Noorya, dilaksanakan Sabtu Kliwon 5 Januari 2019 di Pura Pakualaman Yogyakarta.


Sebelum melaksanakan Dhaup Ageng, kedua calon pengantin terlebih dahulu harus mengikuti prosesi siraman. Jumat (4/1/2019).

  • Polres Purbalingga Bongkar Peredaran Kosmetik Ilegal
  • Komas Memilih Cara Bergerilya

  • Ternyata, air yang digunakan untuk prosesi siraman kedua calon pengantin berasal dari satu sumber yang sama. Kenapa?

    Menjawab pertanyaan itu saat konferensi pers di komplek Pura Pakualaman, Jumat (4/1/2019), Mas Ngabei Citro Panembahan (Mas Bagus) selaku Pranatan Lampah Dhaup Ageng menyatakan, tradisi seperti ini sudah berlaku sejak dulu.

  • Gambar Wajah-wajah Wartawan Dipamerkan di Tembi
  • Bupati Temanggung Ingatkan Rencana Pembangunan Harus Realistis

  • “Sumber air untuk tradisi siraman harus berasal dari satu sumber mata air. Ini berlaku juga di Pura Pakualaman dan kerajaan di Jawa lainnya,” terangnya.

    Kali ini, pihak Pura Pakualaman memilih menggunakan air dari sumur yang berada di lokasi tersebut. "Untuk siraman menggunakan air sumur di belakang Bangsal Parangkarso," kata Mas Bagus.

    Hadir pula dalam konferensi pers kali ini Nyi Mas Tumenggung (Nyi MT) Sestrorukmi dan M Riyo Dwijo Hutomo. Keduanya adalah tim penulis buku Dhaup Ageng Sabtu Kliwon 5 Januari 2019 Pura Pakualaman Ngayogyakarta Hadiningrat.

    Mereka juga sebagai panitia yang bertugas dalam prosesi siraman untuk dua calon pengantin BPH Kusumo Bimantoro ST dengan dr Maya Lakhsita Noorya.

    Nyi Mas Tumenggung (Nyi MT) Sestrorukmi menjelaskan prosesi siraman calon pengantin putri, dr Maya Lakhsita Noorya, dilaksanakan di Nalem Kepatihan Pura Pakualaman pada pukul 07:30.

    Siraman bagi calon pengantin putri diawali mengantar uba rampe yang ditata di dalam lima baki berisi handuk, ratus dan kebaya dan lainnya. “Baki-baki tersebut kami antar ke Ndalem Kepatihan Pakualaman,” terangnya.

    Sebelumnya, calon pengantin putri dr Maya Laksita Noorya yang akrab dipanggil Sita, melakukan sungkeman ke ayah dan ibunya. Ini bermakna, Sita sebagai calon pengantin memohon doa restu kepada dua orang tuanya.

    Kemudian Sita masuk kamar berganti ageman (pakaian) dengan rikma (rambut) yang diurai dan mengenakan roncean melati menutupi bagian dada atas.

    Prosesi menyiramkan air diawali oleh ayah kandung Sita, yaitu Mandiyo Priyo, dilanjutkan ibu kandungnya, Rini Mandiyo Priyo.

    Berikutnya GKBRAA Paku Alam atau eyang putri dari calon pengantin putri, BRAy Prabukusumo, BRAy Indrokusumo, KRAy Widianti Puspitaningsih, Hj Sudiyati dan Hj Wuryaningsih.

    Usai siraman, calon pengantin putri melakukan potong rikma (kerik rambut pada bagian tengkuk) yang dilakukan oleh calon mertua yaitu Gusti Putri (GKBRAy Paku Alam X). Sita masih mengenakan tata rias biasa, belum dengan cengkorangan (tata rias paes ageng).

    Begitu prosesi siraman calon pengantin putri selesai, Gusti Ratu meninggalkan Ndalem Kepatihan Pura Pakualaman menuju Bangsal Parangkarsa untuk prosesi siraman pengantin kakung.

    M Riyo Dwijo Hutomo menjelaskan, persiapan siraman calon pengantin pria BPH Kusumo Bimantoro yang akrab dipanggil dengan nama kecilnya, Mas Suryo, dilaksanakan di Bangsal Parangkarsa. Uba rampe Mas Suryo berupa tiga baki berisi perlengkapan prosesi siraman.

    "Gusti Putri yang pertama melakukan prosesi siraman kepada  calon pengantin kakung," terang Dwijo, sapaan akrab M Riyo Dwijo Hutomo.

    Berikutnya GKR Hemas, kemudian RA Harnadi (eyang dari pengantin kakung/ibunda dari GKBRAy Paku Alam X), GBRAy Retno Murtani, BRAy Retno Rukmini, BRAy Poeger, GKR Galuh Kencana dan GKR Wandasari (Gusti Mung) (keduanya dari Keraton Surakarta) serta Ny Arifin Panigoro.

    Usai siraman, ibunda dari Mas Surya (pengantin kakung) melakukan muloni atau wuduni (mensucikan diri).

    Lebih jauh Dwijo menjelaskan pada upacara panggih setelah ijab kabul, Sabtu (5/1/2019), dipastikan Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla hadir.

    Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga sudah konfirmasi. Kebetulan Pratikno dari Yogyakarta sedangkan Lukman Hakim Saifuddin merupakan teman sekolah KGPAA Paku Alam X yang kini jadi Wakil Gubernur DIY itu.

    Mas Ngabei Citro Panembahan (Mas Bagus) selaku pranatan lampah Dhaup Ageng menambahkan kain Grompol yang dikenakan kedua calan pengantin maknanya supaya pengantin hidup guyub rukun.

    “Setelah melakukan prosesi ijab kabul, keduanya sudah sah sebagai suami istri, bisa guyub rukun. Upacara ijab kabul merupakan ritual sakral pernikahan," terang dia.

    Sesuai adat Jawa, upacara panggih kedua mempelai juga sesuatu yang sakral. Dulu, sepasang pengantin awalnya belum bertemu sama sekali, karena dijodohkan keduanya bertemu di proses panggih. "Makna upacara panggih untuk pengantin sekarang untuk simbolisasi," terangnya.

    Pada Jumat malam, calon pengantin putri melakukan midodareni, kemudian ditanting kedua orang tuanya apakah sudah siap memasuki jenjang pernikahan.

    Selain tantingan, malam midodareni juga diisi cengkorongan yaitu menyiapkan tata rias paes ageng. Midodareni dilakukan di Ndalem Kepatihan Pakualaman.

    Sementara di Kagungan Dalem Pracimasana, calon mempelai kakung diwejang oleh kedua orang tuanya yaitu KGPAA Paku Alam X.

    Digelar pula malam lek-lekan (tidak tidur) untuk memohon kepada Allah SWT. Semua prosesi diiringi dengan wilujengan. "Pagi sebelum akad nikah ada wilujengan terlebih dahulu," terang Pranatan Lampah. (sol)



    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini