Kesalehan Sosial

80

PUJI SYUKUR ke hadirat Allah ‘azza wa jalla, yang telah memberikan pertolongan dan kesempatan kepada kita dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan pada tahun ini. Tak lupa shalawat serta salam semoga tercurah ke hadirat Nabi Muhammad Saw, sang panutan umat sepanjang masa.

Pembaca yang dirahmati Allah

Bulan Ramadhan 1439 H merupakan sebuah momentum mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqqarrub Ilallah) dan membangkitkan semangat bermental kaya dengan melatih diri berjiwa filantropisme, perilaku suka memberikan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain sebagai wujud peduli sesama demi kemanusian secara ikhlas. Apa itu ikhlas? Ikhlas adalah beramal semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain.

Pada dasarnya, puasa Ramadhan berasal dari kata shaum dalam bahasa Arab artinya menahan diri. Dalam hal ini, Rasulullah Saw bersabda sebagai berikut:

“Bulan Ramadhan adalah sepuluh hari pertama adalah rahmah (kasih sayang), sepuluh hari ke dua merupakan maghfiroh (ampunan) dan sepuluh hari yang ketiga adalah itqun minan nar (terbebas dari api neraka)”.

Hadits di atas mengajarkan bahwa sepuluh hari pertama merupakan kasih sayang. Hal ini sebagai salah satu aspek agar kita semangat berbagi kepada sesama yang sudah meningkatkan tradisi di setiap Ramadhan tiba. Nilai-nilai pendidikan dari menjalankan ibadah puasa adalah menyebarkan virus bermental kaya dengan meningkatkan rasa kesalehan sosial.

Membangun Kesalehan Diri

Islam mengajarkan dua demensi kesalehan, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) mempopulerkannya dengan dua macam istilah kesalehan, yaitu kesalehan ritual (Hablumminallah) yang mengatur pola hubungan dengan Tuhannya dan kesalehan sosial mengatur pola hubungan sesama manusia (Hablumminannas) secara total (kaffah). Islam mengajarkan tentang keseimbangan (equilibrium) antara ibadah yang bersifat vertika dan horizontal.

Baca Juga :  Lebaran

Konsentrasi pada upaya penguatan rasa empati dan peduli yang diperoreh dari pelajaran pada bulan “syahrul Muwassah” ini yaitu bulan bermurah tangan dan bulan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan. Sebagaimana kita diingatkan dari istilah “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”. Kata itu setidaknya dapat menggelitik hati setiap umat muslim untuk menjadi pelaku ringan tangan. Perilaku ini tidak harus menunggu kaya terlebih dahulu, melainkan mulai dari diri sendiri (ibda’ bin nafsika), latihan bermental kaya di atau bulan memberi atau syahrul Jud. Ini merupakan kunci kesalehan sosial.

Dimensi kesalehan sosial adalah konteks kesalehan Hablumminannas hubungan langsung antara seseorang hamba atau manusia dengan sesama manusia yang melaksanakan ibadah, seperti; memberi makan kepada kaum duafha, fakir miskin, musyafir dan lainnya. Selain itu menahan diri dari gaya hidup konsumtif dengan menu lebih spesial dari biasanya mengajarkan kepekaan sosial terhadap saudara seiman. Sabda Rasulullah Saw tentang bermental kaya dengan melakukan kepedulian kepada masyarakat sekitar, sebagai berikut :

“ tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri untuk kebaikan”. (HR. Bukhari Muslim).

Islam menganjurkan kita untuk memiliki kepeduan kepada orang lain, sebagaimana kata “waman ahyaha fakaannama ahyannasa jamii’a” (QS. Al-Ma’idah : 32), “Barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia”.

Ayat di atas menggandung nilai-nilai solidaritas, betapa nilai kesalehan sosial (sense of responsibility) atau kepedulian sosial seseorang kepada orang lain, pahalanya sama dengan peduli dengan semua orang. Menurut KH. M. Maksum Machfoedz, bahwa kepedulian sesama dalam bentuk membayar zakat dan alokasi pemanfaatan rezi untuk memenuhi HAP, dalam puasa terdapat HAP (Hak Atas Pangan) yang tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah, badan amil zakat ( BAZNAS, NU CARE-LAZISNU, LAZISMU dan lainnya) dan struktural lainnya. Melainkan juga, setiap manusia yang melakukan puasa turut melunasinya dengan membayar zakat sebelum shalat Idul Fitri. Pembayaran zakat itu esensinya membersihkan dan mensucikan diri, sebagaimana Firman Allah Swt dalam QS. Al-A’alaa : 14-15 dan 17 sebagia berikut “ sungguh beruntung orang yang mensucikan diri dan kemudian mengingat Tuhannya, lalu dia shalat; …. dengan mengingat kehidupan akherat itu lebih baik”.

Dengan demikian, selain amaliah kesalehan ritual, tidak kalah pentingnya kita mengaplikasikan kesalehan sosial yang menginternalisasi diri kita. Adapun manfaatnya, kita telah berpartisipasi membangun kehidupan sosial dengan turut andil mengurangi angka kemiskinan yang melanda negeri yang kita cintai. *** (Rustam Nawawi Al-Lampungi, Penulis Buku Islam)

Baca Juga :  Babak Baru Penegakan Hukum