Senin, 18 Jan 2021,


kini-pedoman-protokol-kesehatan-terbit-dalam-77-bahasa-daerahPedoman protokol kesehatan Covid-19 yang diterjemahkan ke dalam 77 bahasa daerah. (istimewa)


Sholikul Hadi

Kini Pedoman Protokol Kesehatan Terbit dalam 77 Bahasa Daerah


SHARE

KORANBERNAS.ID, JAKARTA – Pemerintah terus menggalakkan kampanye pencegahan Covid-19. Salah satu caranya dengan menerbitkan pedoman protokol kesehatan (prokes) ke dalam 77 bahasa daerah. Tujuannya supaya pesan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan serta menjaga jarak, benar-benar sampai di masyarakat.

Secara resmi, Pedoman Perubahan Perilaku Protokol Kesehatan 3M dalam 77 Bahasa Daerah yang diterbitkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 itu diluncurkan di Jakarta, Selasa (1/12/2020), oleh Mendikbud Nadiem Anwar Makarim dan Ketua Satgas Penanganan Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo.


“Kampanye pencegahan penyebaran Covid-19 harus mudah dipahami masyarakat. Tantangan yang besar adalah menyangkut kebahasaan terkait isi kampanye. Ini harus cepat ditangani,” ujar Mendikbud.

Hingga saat ini, pemerintah terus gencar menyosialisasikan sosialisasi “Pesan Ibu” agar 3M lebih masif diterapkan.


Pada acara virtual yang dipandu moderator Prof E Aminudin Aziz MA Ph D selaku Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud itu, Mendikbud memaparkan strategi Kemendikbud mengubah pesan-pesan itu ke dalam bahasa daerah.

Bahasa daerah sebagai bahasa ibu dinilai sebagai sarana yang lebih efektif untuk mendekatkan isi pesan secara emosional kepada para pendengarnya.

“Semoga masyarakat tergerak menerapkan pedoman ini dalam hidup sehari-hari. Saya berterima kasih pada inisiatif yang diambil Kepala Badan Bahasa yang bekerja sama dengan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19,” kata Mendikbud.

Doni Monardo mengapresiasi terobosan Kemendikbud mengingat bahasa daerah sangat strategis untuk mempercepat tersampaikannya informasi ke masyarakat.

“Istilah-istilah yang dipakai dalam konteks Covid-19 seringkali merupakan bahasa asing atau serapan dari bahasa asing seperti adaptasi, asimptomatik, new normal dan social distancing,” katanya.

Doni Monardo meyakini, penjelasan tentang Covid-19 dengan bahasa yang mudah akan cepat dimengerti masyarakat, sekaligus menunjukkan kebesaran bangsa Indonesia dari sisi keragaman budaya. “Saya harap, masyarakat lebih cepat mempelajari tentang Covid-19 dan tahu cara melawannya,” kata Doni.

Aminudin Azis menambahkan proses penerjemahan dilakukan sangat hati-hati. “Kami uji coba juga pada ahli bahasa daerah setempat, lalu kami perbaiki, baru kami uji coba lagi kepada masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Aminudin, awalnya Satgas Covid-19 memohon bantuan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menerjemahkan pedoman perubahan perilaku pada masa pandemi Covid-19 ke dalam 34 bahasa daerah.

Mengingat luasnya wilayah dan beragamnya bahasa di Indonesia, pihaknya merasa perlu menerjemahkan pedoman ini ke dalam lebih banyak bahasa, semulai 34 bahasa sesuai jumlah provinsi akhirnya berkembang menjadi 77 bahasa.

“Jumlah ini besar kemungkinan akan bertambah karena masih ada balai dan badan yang melakukan proses penerjemahan di daerah,” kata dia.

Dengan bahasa daerah, panduan tersebut mudah dibaca. “Kita terjemahkan ke dalam bahasa awam atau bahasa sehari-hari masyarakat kebanyakan,” kata dia. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini