kisah-sepetak-kebun-sayurKepala Desa Plawikan, Lilik Ratnawati, bersama anggota Paguyuban Ngudi Makmur usai penilaian lomba ketahanan pangan. (heru cn/koranbernas.id)


Heru Catur Nugroho
Kisah Sepetak Kebun Sayur

SHARE

LETAKNYA tak jauh dari jalan raya Jogja-Solo. Sekitar 100 meter sebelah selatan jalan, berseberangan dengan Pabrik Gula Gondang Baru yang kini tak lagi berproduksi.


Luasnya juga tak seberapa. Hanya sekitar 80 meter persegi, terhimpit  di antara rumah penduduk. Pada pintu masuk kebun terpampang tulisan “Paguyuban Ngudi Makmur”.

  • Warga Keluhkan Gundukan Tanah Bekas Galian
  • Para Bupati Bertemu Bahas Wisata Lokal

  • Pada sepetak tanah itulah, aneka sayuran ditanam. Ada cabai, terong, tomat, kacang panjang, buncis, bayam, kangkung dan sawi. Sebagian sayuran itu ditanam langsung di hamparan tanah. Sebagian lagi ditanam di polybag yang dijajar di atas rak bambu.

    Namun, jangan membayangkan aneka sayuran yang ditanam itu tumbuh subur dan buahnya melimpah.  Meski sudah digelontor dengan berbagai jenis pupuk, mulai pupuk kandang, pupuk kimia hingga pupuk organik cair, banyak tanaman terlihat “enggan” tumbuh. Maka, buah yang dihasilkannya juga “ala kadarnya”. Cabai, terong, tomat, ukuran besarnya juga “ala kadarnya”. Tidak sebanding jika disandingkan dengan cabai, terong dan tomat hasil budidaya petani di sawah atau di ladang.

  • Pedagang Pasar Gentongan Terganggu Bau Sampah
  • Sering Banjir, Gorong-gorong Jatinom Dibongkar

  • Maklum, pemilik sepetak kebun sayur yang tak lain adalah warga RT 02 RW 04 Minggiran Utara, Desa Plawikan Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten yang tergabung dalam Paguyuban Ngudi Makmur. Tak satu pun warga Paguyuban Ngudi Makmur yang punya latar belakang sebagai petani. Mereka adalah para pekerja swasta, PNS dan pensiunan.

    Maka, tak perlu ada yang merasa bersalah jika kebun sayur yang mereka garap, hasilnya tidak maksimal. Anggota Paguyuban Ngudi Makmur tetap bersemangat mengolah lahan, merawat, mengganti tanaman yang mati dan menyemai bibit baru jika ada jenis sayuran tertentu yang sudah habis dipanen. Ibu-ibu juga bisa memetik sayuran untuk keluarganya. Meski tidak bisa setiap hari memetik sayuran di kebun, minimal sudah bisa mengurangi pengeluaran kebutuhan rumah tangga mereka.

    Sepetak kebun sayur itu bahkan punya posisi istimewa bagi warga. Mengolah tanah, merawat tanaman, dan memanen justru menjadi sarana bagi warga untuk saling berinteraksi, menjadi sarana bersosialisasi. Warga bahkan sering berlama-lama ngobrol di kebun. Sepetak kebun sayur itu seolah menjadi “rumah kedua” bagi warga.

    “Kebun ini jadi sarana untuk berkumpul, bermusyawarah, bahkan kami bisa bertukar pikiran sehingga kami bisa lebih dekat dengan tetangga, bisa hidup rukun di RT kami,” kata Lodewijk Lumbantoruan, Ketua Paguyuban Ngudi Makmur.

    Koko, panggilan sehari-hari Lodewijk Lumbantoruan, tidak mengada-ada. Selama dua tahun belakangan ini, sepetak kebun sayur di samping rumahnya itu menjadi saksi bisu kerukunan dan dan kekompakan warga. Apalagi, ide membuat kebun sayur warga itu justru muncul saat pandemi Covid-19 mulai melanda negeri ini, tahun 2019 lalu. Sepetak kebun sayur itu tetap bertahan hingga saat ini.

    Kades Plawikan, Lilik Ratnawati, bersama Ketua RT 02 Minggiran Utara, Heriyadi, sedang memberi makan ternak lele di kebun sayur Paguyuban Ngudi Makmur. (heru cn/koranbernas.id)

    Menginspirasi

    Luas kebun sayur Paguyuban Ngudi Makmur itu memang tidak seberapa. Tanaman di kebun itu juga tidak istimewa. Keistimewaannya justru terletak pada spirit di balik keberadaan sepetak kebun sayur itu. Hal inilah yang kemudian menginspirasi Kepala Desa Plawikan, Lilik Ratnawati SPd M IP, untuk menyelenggarakan lomba ketahanan pangan. Apalagi, ketahanan pangan juga menjadi program pemerintah pusat sebagai salah satu upaya menanggulangi dampak pandemi Covid-19.

    Maka, masing-masing RT di Desa Plawikan mulai sibuk membuat kegiatan yang terkait dengan lomba ketahanan pangan. Bentuknya, kebun sayur yang dipadukan dengan budidaya ikan dan peternakan. Penilaian lomba ketahanan pangan tingkat RT se Desa Plawikan hingga saat ini masih berlangsung.

    Tentu saja, sepetak kebun sayur Paguyuban Ngudi Makmur juga menjadi salah satu peserta, mewakili RT 02 Minggiran Utara. Kolam terpal berisi lele serta kandang berisi ayam, melengkapi tanaman sayur sayuran di kebun.

    “Menang atau kalah, tidak masalah. Yang terpenting adalah warga tetap kompak dan rukun. Kebun sayur ini menjadi sarana membina kekompakan dan kerukunan warga,” kata Heriyadi, Ketua RT 02 Minggiran Utara yang juga anggota Paguyuban Ngudi Makmur.

    Konsistensi warga RT 02 Minggiran Utara untuk menjalankan program ketahanan pangan, membuat Kepala Desa Plawikan, Lilik Ratnawati S Pd M IP, tak segan menggelontorkan dana untuk Paguyuban Ngudi Makmur. Kali ini untuk kegiatan budidaya jamur, dua bulan lalu.

    Kades Plawikan, Lilik Ratnawati, sedang berada di kebun sayur Paguyuban Ngudi Makmur. (heru cn/koranbernas.id)

    Beberapa hari lalu, wajah Lilik Ratnawati terlihat sumringah saat melihat budidaya jamur di area kebun sayur Paguyuban Ngudi Makmur mulai panen.

    “20 persen dana desa tahun 2022 dialokasikan untuk program ketahanan pangan. Pemerintah Desa Plawikan mengemasnya dalam budi daya jamur yang diberikan kepada Paguyuban Ngudi Makmur yang ada di RT 02 RW 04 Desa Plawikan. Ini bagian dari pengembangan ketahanan pangan yang 20 persennya harus dialokasikan. Harapannya adalah bagaimana pemberdayaan masyarakat di tingkat RT itu bisa berkembang dengan adanya budidaya jamur ini. Dan warga bisa mendapatkan hasil dari budidaya jamur ini, khususnya bagi warga Paguyuban Ngudi Makmur,” papar Lilik Ratnawati di lokasi budi daya jamur Paguyuban Ngudi Makmur.

    Sepetak kebun sayur yang dimulai saat warga harus tinggal dan bekerja dari rumah akibat pandemi Covid-19 itu kini semakin “kaya”. Tidak hanya sayur mayur, namun juga ada kolam lele serta budi daya jamur Tiram. Warga Paguyuban Ngudi Makmur mulai memetik hasil dari jerih payah, kesabaran, kekompakan dan kerukunan.

    Pandemi Covid-19 justru membawa hikmah bagi warga RT 02 RW 04 Minggiran Utara, Desa Plawikan. Bukan tentang kebun sayur, kolam lele, dan budi daya jamur Tiram. Bukan pula tentang gelontoran dana ketahanan pangan dari Pemerintah Desa Plawikan. Hal utama justru warga telah menemukan sarana untuk membina kekompakan dan kerukunan. (*)


    TAGS: ngudimakmur klaten 

    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini