Kamis, 03 Des 2020,


kolaborasi-wayang-aluminium-dan-wayang-limbah-plastik-beginilah-hasilnyaPertunjukan wayang kolaborasi berbahan limbah plastik dan almunium di Royal House, Sleman, Yogyakarta. (istimewa)


Muhammad Zukhronnee Muslim

Kolaborasi Wayang Aluminium dan Wayang Limbah Plastik, Beginilah Hasilnya


SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Pertunjukan wayang punya penggemar tersendiri di wilayah mana pun di Indonesia. Tidak hanya wilayah yang banyak ditinggali oleh suku Jawa, wayang juga terdapat di bagian wilayah Indonesia lainnya seperti Palembang, Banjar, Kalimantan Selatan dan Lombok. Selain merupakan bentuk pelestarian budaya, pertunjukan wayang juga merupakan hiburan yang banyak digemari.

Jenis wayang yang beraneka ragam pun memperkaya khasanah budaya Indonesia. Setidaknya ada belasan jenis wayang yang paling populer di masyarakat. Wayang kulit Purwa, Wayang Golek Sunda, Wayang Orang, Wayang Betawi, Wayang Bali, Wayang Banjar, Wayang Suluh, Wayang Palembang, Wayang Krucil, Wayang Thengul, Wayang Timplong, Wayang Kancil, Wayang Rumput, Wayang Cepak, Wayang Jemblung, Wayang Sasak, dan Wayang Beber.

Di Yogyakarta, banyak seniman yang berekspresi dan bereksperimen dengan media baru untuk sebuah pertunjukan. Ki Ismoyo Bs, salah satunya. Dengan menggunakan wayang purwa berbahan limbah plastik, ia menggelar sebuah pertunjukan wayang kolaborasi yang mengangkat kisah Mahabharata di Royal House, Sleman, Yogyakarta, Kamis (15/10/2020).

Rupa wayang purwa berbahan plastik karya Ki Samijan dikolaborasikan oleh Ki Ismoyo BS dengan Wayang Milehnium Wae karya Ki Mujar Sangkerta yang menggunakan bahan logam dan alumunium, berukuran besar.

Saat Pandawa mengutus Prabu Kresna ke Hastina untuk meminta kembali hak-haknya dari Kurawa, apakah Prabu Kresna berhasil meluluhkan Prabu Duryudana mengembalikan semua hak-haknya kepada Pandawa? Kita semua tahu apa jawabnya. Itulah makanya kita sebut sebagai Duta Pungkasan.

"Cara penyajian yang lebih spontan, pakeliran eksperimental ditambah dengan sudut pandang yang tidak biasa, yaitu istana menjadi subyek. Kami coba menghadirkan sudut pandang ‘para kawula’ yang dalam konstelasi politik yang sebenarnya kerap jadi korban dari tingkah laku dan ambisi para penguasa," papar Ki Ismoyo Bs dalam siaran tertulisnya kepada koranbernas.id Kamis (15/10/2020).

Saat memasuki adegan goro-goro, Ponokawan muncul. Di sinilah kolaborasi dengan wayang berukuran raksasa karya Ki Mujar Sangkerta yang diperagakan oleh bintang tamu. Terjadi dialog dan gegojegan (candaan-red) saling bersautan interaktif dengan wayang limbah plastik karya Ki Samijan yang dimainkan oleh Ki Ismoyo Bs.

"Pementasan ini sebenarnya terjadi mengalir begitu saja, bisa disebut agak spontanitas. Dari pertemuan dan bincang antara pegiat seni dari beragam disiplin ilmu dan latar belakang seninya, munculah salah satunya gagasan kolaborasi ini," ujar Ki Mujar Sangkerta saat dihubungi Jumat (16/10/2020).

"Semangat dari kolaborasi ini juga didorong oleh beberapa hal. Pertama, saling memberi semangat untuk terus berkarya di tengah situasi pandemi. Kedua, membangun komunikasi antara pegiat seni budaya, selain menjawab tantangan jaman," imbuhnya.

Sebagai seniman yang juga memberikan ilustrasi musik dalam pertunjukan ini, Ki Mujar Sangkerta memanfaatkan barang-barang antik koleksi Royal House, seperti kotak koper besi tua, dandang tembaga, mesin ketik usang, klunthung sapi dan lain-lain.

"Dengan merespon barang-barang bekas yang banyak berserakan di sekitar, saya tertantang untuk membuat sumber bunyi yang saat dikomposisikan ternyata menjadi ilustrasi bebunyian yang apik dan perkusif. Sesekali juga diselipi iringan siter jawa, kecapi Sunda dan suling untuk memberi suasana nglangut saat dalang berdialog," tutupnya. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini