Sabtu, 22 Jan 2022,


kupat-kikil-surabaya-menu-legenda-yang-nyaris-musnah-kini-bisa-ditemui-di-jogja Gilang dengan semangkuk kupat kikil, menu legenda dari Surabaya yang kini hadir di Jogja. (warjono/koranbernas.id)


Warjono
Kupat Kikil Surabaya, Menu Legenda yang Nyaris Musnah Kini Bisa Ditemui di Jogja

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL—Tahun 1980-an, ada menu tradisional yang cukup dikenal khalayak Surabaya. Menu itu adalah Kupat Kikil. Sesuai namanya, menu ini terdiri dari potongan kupat atau ketupat, lengkap dengan irisan kikil sapi yang diberi kuah. Kuahnya bukan santan. Tapi air yang diberi bumbu aneka rempah, sehingga cita rasanya cukup kuat tapi tidak membikin nek. Di bagian atasnya, biasa dikasih toping berupa gerusan kacang goreng sehingga berasa sensasi kranci. Untuk mereka yang menggemari, irisan kikil sapinya juga bisa ditambah irisan jeroan sapi, entah iso, babat, paru atau yang lain.


Berawal dari menu keluarga turun temurun, Ny Mulyati, kala itu kemudian membuka warung yang menjual menu ini. Pelanggan pun terus berdatangan, sehingga Mulyati kemudian membuka warung lagi hingga total ada di 3 lokasi. Semuanya diberi nama Budi Mulia. Satu warung Kupat Kikil di Jalan Banyu Urip. Sisanya masing-masing di Pasar Sore Jalan Pandigiling serta di Jalan Dukuh Kupang di depan Hotel Santika dulu.


Bagi keluarga, kupat kikil bikinan Ny Mulyati, juga menjadi menu andalan. Awang Soe Narsihsetyawan  salah satu putrinya serta cucunya Rahardja Gilang Dewangkara yang kini menetap di Tamanan Bantul, sangat suka menu racikan ini. Bersama anggota keluarganya yang lain, mereka nyaris tak pernah terlewat bersantap bersama setiap Idul Fitri.

“Iya menu kesukaan seluruh keluarga. Setelah tidak lagi mengurusi warung, nenek biasa memasak kupat kikil hanya ketika semua anak cucunya berkumpul saat Lebaran. Rasanya belum lengkap, kalau saat kumpul keluarga kita belum menyantap kupat kikil bikinan nenek,” kata Gilang saat ditemui di warung CakJo di Jalan Mawar No B 20 Tamanan Wetan, Banguntapan Bantul. Di rumah yang ia tinggali bersama ibunya inilah, Gilang membuka warung berkonsep kafe alami dengan menu andalan kupat kikil.


Meski begitu disuka seluruh keluarga, nyatanya sepeninggal Ny Mulyati, menu kupat kikil ini nyaris tak ada lagi yang mencoba menghidangkannya di meja makan keluarga. Bukan hanya Awang Soe Narsihsetyawan atau yang lebih dikenal dengan nama Awang Kagunan, saudara-saudaranya yang lain juga tak pernah memasak menu istimewa ini.

“Jadi memang perjuangan banget ketika saya mencoba untuk menyuguhkan lagi menu keluarga ini di Jogja. Saya sama ibu perlu waktu 3 bulan untuk menemukan racikan yang pas. Terus mencoba dan mengingat apa saja bumbu-bumbunya. Ibu juga harus bertanya ke saudara-saudara yang lain. Akhirnya ketemu juga,” kata Gilang senang.

Selain kupat kikil, Gilang juga menyuguhkan menu-menu lain Jawa Timuran. Ada Nasi Goreng Djawatimuran, Nasi Goreng Krengsengan, Mie Goreng dan Mie Godok Djawatimuran, serta Bihun Goreng dan Bihun Godok Djawatimuran. Harganya cukup terjangkau. Untuk kupat kikil dibanderol dengan harga Rp 25 ribu per porsi, sudah termasuk minuman khusus yakni Jasareh (jahe, salam, sereh), yang memang pada zamannya dulu menjadi padanan tak terpisah dari menu kupat kikil Ny Mulyati.

Adapun aneka nasi goreng dan mie serta bihun, rata-rata dijual dengan harga Rp 22 ribu dan Rp 20 ribu per porsi. Untuk menu ini, Warung CakJo menawarkan aneka minuman alternatif mulai teh tawar, teh manis dan jeruk nipis yang tersaji panas maupun dingin, serta ada lagi kopi rempah.

Tantangan

Membuka warung atau kafe, awalnya tak terbayangkan oleh Gilang, mahasiswa semester 7 di Instintut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini. Dulu, Gilang lebih banyak bergelut dengan aktivitas di dunia teater, sesuai jurusan yang ia pilih di ISI. Belajar membuat projek, berlatih teater, dan segala aktivitas yang menunjang talentanya di dunia peran, menjadi kegiatan keseharian Gilang dan kawan-kawan kampusnya.

Hingga akhirnya datanglah pandemi Covid-19 yang membuat segalanya berubah. Perkuliahan harus dilangsungkan secara daring, aktivitas-aktivitas atau kegiatan keseharian juga dibatasi.

"Mungkin lantaran melihat aktivitas keseharian yang kerap di rumah saja inilah, ibu suatu ketika ngobrol dengan saya. Beliau ngasih tantangan. Beliau bilang: Gilang, sukses di masa muda itu keren lho. Cobalah kamu memanfaatkan waktu dengan belajar bisnis kecil-kecilan,” kata Gilang menirukan ucapan ibunya kala itu.

Aksi teatrikal untuk mempromosikan Warung CakJo di Tamanan Banguntapan Bantul. (istimewa)

Ditantang seperti itu, Gilang sempat terbersit membuka warung dengan menu utama berupa nasi jagung yang memang ia suka. Tapi ide itu kemudian berubah, ketika dia teringat dan merasa kangen dengan menu kupat kikil sang nenek. Pilihan menu inipun, kemudian dilengkapi dengan menu-menu lain, tapi tetap dengan memberikan sentuhan Jawa Timuran.

“Jadi menu utamanya tetap kupat kikil. Tapi barangkali saja ada yang kurang suka, ada alternatif menu lain yang bisa dipilih,” terang Gilang.

Baru buka beberapa hari, warung CakJo kata Gilang mulai dikenal. Di awal, kebanyakan yang membeli adalah kawan-kawannya di kampus. Tapi seiring waktu, pesanan juga mengalir dari orang lain. Ada yang langsung datang untuk bersantap di tempat, tapi tak jarang juga datang pesanan online dari GoFood maupun GrabFood.

Gilang berpesan, agar siapapun yang ingin mencicip menu ini dengan cara pesan online, mengetik kata kupat kikil dengan cara digandeng menjadi kupatkikil.

“Iya soalnya kan banyak menu dengan bahan dasar kikil. Biar mudah saja mas,” katanya tersenyum.

Belum sesuai target, tapi Gilang mengaku optimistis dengan bisnis yang ia rintis ini. Dukungan terus mengalir terutama dari ibunya dan juga kawan-kawannya di kampus. Bahkan, untuk mempromosikan warungnya ini, ia bersama kawan-kawannya sempat membuat aksi teatrikal di sejumlah titik di Jogja.

Makanan Tiyang Sepuh

Menurut Awang Soe, menu kupat kikil memang berbeda dengan menu-menu sejenis dari daerah lain termasuk Jogja. Umumnya, menu sejenis dimasak dengan kuah santan, atau justru sebaliknya di masak bening mirip dengan soto.

Kupat kikil Surabaya tersaji dengan kuah yang pekat, tapi bukan lantaran santan. Kuah kupat kikil kaya dengan rempah-rempah yang membuat rasanya sungguh nikmat. Rupanya, rempah-rempah yang banyak dipakai untuk bumbu masakan ini, bukan semata untuk penyedap.

Awang mengungkapkan, penggunaan aneka rempah ini ternyata juga dimaksudkan untuk menetralisir kolesterol yang diketahui banyak terkandung pada kikil dan jeroan.

“Di Surabaya, menu ini dulu dikenal kegemaran tiyang sepuh (orang tua-red). Ini bukti, kalau kupat kikil aman. Jadi tidak perlu khawatir dengan kolesterol. Apalagi, ada Jasareh yang melengkapi menu ini. Minuman ini kan dikenal berfungsi menetralisir lemak,” kata Awang.

Awang sendiri mengaku senang, Gilang anak sulungnya sekaligus cucu tertua dari Ny Mulyati, berani melangkah dan mencoba menggeluti bisnis yang yang dulunya melegenda di Surabaya. Dia berharap, menu dari Warung CakJo bisa memperkaya sajian kuliner di Kota Wisata Yogyakarta.

“Saya dan Gilang memang sepakat memulai dari rumah di Tamanan ini. Kebetulan lokasinya di tengah perkampungan, jauh dari kebisingan kota meskipun lokasinya sangat terjangkau dan mudah diakses. Di sini, semua kita desain agar pengunjung nyaman dan berasa makan di rumah. Bisa duduk di luar di rerimbunan pohon dan pendaran lampu kalau malam hari, atau bisa juga duduk lesehatan di teras dan di dalam rumah. Yang suka baca, juga ada library dengan koleksi buku yang cukup beragam. Kemudian tamu yang suka dengan batik, juga bisa ngobrol soal teknik ecoprint pounding. Kebetulan saya punya karya cukup banyak,” kata pencetus teknik ecoprint pounding ini. (*)

 

 

 



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini