lebih-17-tahun-di-saluran-air-yuli-bingung-harus-berganti-rupa Yuli Lestari di depan warung makan milik bapaknya yang berada diatas saluran air. (wahyu nur asmani/koranbernas.id)


Wahyu Nur Asmani EW
Lebih 17 Tahun di Saluran Air, Yuli Bingung Harus Berganti Rupa

SHARE

KORANBERNAS.ID,PURWOREJO -- Yuli Lestari terdiam. Dia kebingungan menjawab apa saat ditanya harus mengubah mata pencairannya saat ini.


Perempuan 50 tahun ini sudah berjualan di warung milik ayahnya selama 17 tahun lebih di lapak yang berada di Gang Tegal.  Namun tiba-tiba dia harus mengubah usahanya karena kawasan saluran air itu akan ditata melalui program Kotaku. Padahal selama ini dia dan warga lain menggunakan bangunan tersebut untuk usaha dan tempat tinggal.


"Kami sudah lebih dari 17 tahun mengelola warung makan ini. Dulu dikelola bapak saya, setelah bapak meninggal dunia, usaha ini saya teruskan bersama adik," ungkap Yuli, Selasa (2/2/2021).

Istri dari Syamhuri tersebut sebenarnya menerima program penataan Kotaku. Namun dia berharap program Kotaku tidak serta-merta membuat mereka kehilangan mata pencaharian.


Ada lima Kepala Keluarga (KK) di saluran air itu yang rencananya akan direlokasi. Padahal selain untuk usaha, mereka juga menetap di kawasan tersebut.

Menurut Pemkab Purworejo, pemilik usaha di kawasan itu akan dipindahkan ke rumah susun. Namun bangunan untuk kandang ternak tidak akan mendapat ganti rugi. Bangunan yang mendapat ganti rugi hanya yang ada penghuninya.

"Penghuni kios relokasi semua ada 22 unit, sudah melakukan pengkocokan. Saya mendapat kios nomer 21," tuturnya.

Adik ipar Yuli,  Iwan Suyatno mengakui meski keberatan dipindahkan, dia menyetujui perbaikan saluran air tersebut. Sebab selama ini banyak masalah yang timbul di kawasan itu.

"Setiap ada hujan, air saluran penuh, namun dengan cepat biasanya surut kembali. Di sepanjang saluran tersebut tidak tahu apakah ada sampah atau tanah, karena diatas ada bangunan yang dihuni warga," urai Iwan.

Sementara Bogel (40) pemilik bengkel yang terletak di RW 11 Gang Tegal Kelurahan dan Kecamatan Kutoarjo juga merasa kebingungan harus berganti jenis usaha. Warga Kutoarjo yang enggan menyebutkan nama asli berujar dirinya membuka usaha bengkel yang terletak diatas saluran air tersebut sudah 16 tahun.

Niat baik pemerintah memberikan lahan pengganti pun disambut dengan baik. Dia bersama 22 pemilik usaha lainnya akan direlokasi diselter kuliner, selatan Kantor Bina Marga.

"Saya disini membuka usaha bengkel sudah 16 tahun, dan kalau tempat ini mau di tata, saya tidak keberatan. Dan kami pun akan diberi relokasi baru di selter kuliner, menurut informasi usaha bengkel belum di ijinkan di selter kuliner tersebut," terang Bogel.

Mantan anak punk tersebut merasa kebinggungan ketika dirinya harus banting stir ke usaha kuliner. Dia tidak memiliki pengalaman apapun dalam bidang tersebut selama ini. Menurut bapak 2 anak tersebut, dalam program relokasi tersebut ada dua usaha bengkel yang terdampak.

"Membuka usaha baru tidak semudah membalikan telapak tangan, saya binggung mau berjualan apa. Selain itu yang saya pikirkan alat-alat bengkel, mau dikemanakan," keluhnya.

Kepala Dinperkimtan Kabupaten Purworejo melalui Kabid Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman, Indah Herlawati sampai berita ini diturunkan belum bisa dihubungi terkait kebijakan larangan membuka usaha bengkel di selter kuliner baru.

Secara terpisah Kepala Dinas PUPR Purworejo, Suranto menanggapi program Kotaku tersebut. Menurutnya terkait untuk Kebijakan perumahan dan pemukiman menjadi kewenangan Dinas Perkimtan. Namun menurutnya drainase di kota dianggap enteng kalau tidak ada hujan. Sedangkan saat musim kering tidak ada kendala apa-apa.

"Tahun ini Kita membangun drainase di Jalan Mardi Utama Kutoarjo dengan biaya sebesar Rp 2,5 milyar sepanjang sekitar 500 meter di tahun 2020. Pada program Kotaku akan memindahkan PKL berada diatas drainase," ungkapnya.

Kedepan Kecamatan Purworejo direncanakan akan mendapatkan program Kotaku yaitu untuk kawasan Pandekluwih dan Baledono untuk pemukiman disepanjang sungai. Sungai Kedung Putri yang melintas Pandekluweh dan Baledono selalu terkontrol dan tidak berakibat banjir karena ada mantrinya. Mantri tersebut bertugas mengontrol air, jadi air tidak sampai meluap. Tetapi di tahun berikutnya di sungai Kedung Puteri akan ada normalisasi pengairan.

"Ada pembangunan irigasi yang rusak sepanjang 9,3 kilo dari hulu daerah irigasi (DI) Sejiwan Kecamatan Loano sampai Lengkong Pelahan Kledung Kradenan Kecamatan Banyuurip," jelasnya .

Pemkab Purworejo akan segera memulai penataan kumuh kawasan Kecamatan Kutoarjo dengan anggaran Rp 17 Miliar. Kawasan kumuh tersebut berada di Kelurahan Kutoarjo dan Kelurahan Semawung Daleman.

Camat Kutoarjo, Sumarjana membenarkan Kutoarjo akan melakukan penataan melalui menerima program Nasional Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) pada tahun 2021. Agenda Kotaku adalah untuk penataan kawasan kumuh, tidak saja berhubungan dengan hunian, tetapi juga Lingkungan, drainase (saluran air), proteksi kebakaran, seperti gang kecil harus bisa untuk akses.

"Kami melakukan persiapan pengkondisian wilayah dan masyarakat. Dan program Kotaku akan segera proses dengan anggaran bersumber dari APBN dan APBD," terang Sumarjana.

Menurutnya program Kotaku di Kelurahan Kutoarjo berada di Gang Tegal yaitu berupa bangunan di atas saluran air. Warga menggunakan bangunan tersebut untuk usaha dan tempat tinggal. Program Kotaku, imbuhnya digagas sejak tahun 2019, namun karena pandemi Covid-19, pembangunan Kotaku baru tahun 2021 terealisasi.

"Dampaknya warga yang memiliki bangunan di depan Kelurahan Kutoarjo (Gang Tegal), penghuni akan dipindahkan. Kawasan tersebut harus bersih karena akan di tata," jelasnya

Menurut nya yang hunian akan dipindahkan ke rumah susun, yang punya usaha akan dibuatkan selter kuliner di selatan Kantor Bina Marga untuk 22 kios karena data terdapat 22 pemilik usaha di wilayah Kelurahan Kutoarjo.

"Program tersebut sudah dirancang sejak tahun 2019, sehingga kami sudah melakukan dialog dengan warga. Dan, wargapun tidak keberatan," ujarnya.

Selain di Gang Tegal kawasan lainnya yang berada di Kelurahan Kutoarjo adalah di sekitar stasiun. Seluruh warga yang menempati bangunan diatas saluran air akan ditertibkan. Program berikutnya, lanjut Sumarjana berada di Ngaglik Kelurahan Semawung Daleman yaitu berupa akses jalan dari depan jalan stasiun kebarat.

"PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyediakan lahan Lebar 2,4 meter untuk jalan, namun untuk simpangan mobil tidak bisa. Kami melakukan rembugakan dengan warga Ngaglik agar jalan tersebut bisa diperlebar lagi 1 meter agar bisa untuk simpangan mobil," ujar dia.

Nantinya jalan tersebut di tembuskan kejembatan di Sudagaran sampai terminal baru yaitu bekas Kantor Pertanian Kutoarjo. Kantor Pertanian sendiri  yang membawahi Kecamatan Grabag dan Kecamatan Butuh akan pindah di Desa Tunggorono. Kutoarjo kedepan akan menjadi pintu gerbang Purworejo dari arah barat.

"Kami mendukung untuk penataan Kotaku di Kecamatan Kutoarjo, apalagi Kutoarjo sebagai pintu gerbang Purworejo sebelah barat," tandasnya.(*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini