Limbah Rumah Tangga Pengaruhi Kualitas Air Tanah

36
Saluran irigasi sering dijadikan tempat membuang air sedotan tinja. (nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Limbah rumah tangga menjadi salah sebab turunnya kualitas air tanah di Kebumen, terutama di permukiman padat.

Perlu ada langkah mendesak guna mengendalikan limbah domestik/rumah tangga, agar mampu mengurangi angka kesakitan penduduk karena kualitas air tanah menurun.

Hal itu terungkap pada rapat dengar pendapat umum (public  hearing) membahas Raperda Pengendalian Limbah Domestik, Selasa (07/08/2018).

Rapat dengar pendapat yang dipimpin Wakil Ketua Pansus I DPRD Kebumen, Suhartono, juga membahas Raperda Pencabutan Izin Gangguan dan Raperda Retribusi Izin Gangguan.

Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kebumen, Edi Rianto, mengungkapkan di permukiman padat, dengan luas permukiman terbatas, tidak memungkinkan pemilik rumah membangun septitank yang  jaraknya paling dekat 10 meter dari sumur. Kondisi semacam ini menimbulkan beberapa penyakit, seperti diare.

Baca Juga :  KONI DIY Buka Lowongan Ketum

Raperda yang diinisiasi eksekutif ini menjadi salah satu upaya mengurangi pencemaran air tanah. Pada Raperda itu diatur pula pengelolaan limbah rumah tangga sehingga pencemaran air tanah berkurang.

Selain itu, juga diatur larangan membuang limbah domestik sembarangan. Sanksi kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp 50 juta.

Koranbernas.id sering melihat petugas usaha sedot tinja membuang limbah beracun di saluran irigasi. Jika raperda itu menjadi perda, praktik semacam itu bisa dipidana.

Pemkab Kebumen sudah membangun Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) di Kaligending Karangsambung. Jarak yang cukup jauh, sekitar 10 km dari kota Kebumen,  menjadi alasan mereka membuang limbah tinja sembarangan.

Baca Juga :  Ribuan Taruna Seluruh Dunia akan Datangi Sleman

Sebenarnya, alasan ini tidak beralasan karena biaya sedot limbah tinja sampai Rp 250.000. (sol)