atas1

Memprihatinkan, Hanya Ada Tiga Manuskrip Kuno yang Tertinggal

Jumat, 08 Feb 2019 | 15:37:51 WIB, Dilihat 744 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Memprihatinkan, Hanya Ada Tiga Manuskrip Kuno yang Tertinggal GKR Hayu(kiri), ketua panitia simposium internasional "Budaya Jawa dan Naskah Keraton Yogyakarta" dalam rangkaian Mangayubagya 30 Tahun Masehi Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di Bale Raos, Jumat (8/2/2019). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Jelang Pemilu Saatnya Gelorakan Bhinneka Tunggal Ika


KORANBERNAS.ID -- Jawa, termasuk Daerah Istimewa  Yogyakarta (DIY) kental dengan nilai-nilai sejarah berupa naskah-naskah kuno atau manuskrip. Namun sayangnya, saat ini hanya tinggal sedikit peninggalan manuskrip asli yang tersisa dan tersimpan di museum atau 

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sebut saja manuskrip tentang "Teaching of Hamengku Buwono (HB) I" yang berisi tentang cara memimpin dan pelajaran-pelajaran yang diajarkan raja pertama Kraton Mataram tersebut.

Naskah kuno tersebut selama ini hilang dan baru ditemukan di British Library di Inggris. 

Selain itu naskah kuno yang berisi tentang ajaran leluhur sejak peristiwa Geger Sepehi tahun 1812. Naskah-naskah tersebut selama lebih dari 207 tahun berada di Inggris.

"Ketika hanya tinggal tiga naskah kuno yang tersisa, maka kita kehilangan nilai luhur. Sayang bila generasi muda sekarang tidak tahu kehilangan apa," papar GKR Hayu, ketua panitia simposium internasional "Budaya Jawa dan Naskah Keraton Yogyakarta" dalam rangkaian Mangayubagya 30 Tahun Masehi Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di Bale Raos, Jumat (8/2/2019).

Karena itulah, menurut puteri keempat Sri Sultan HB X ini, Keraton mencoba mengembalikan naskah-naskah kuno tersebut ke Indonesia. Salah satunya dengan membawa pulang manuskrip dalam bentuk digital.

Sebanyak 75 manuskrip pun mulai didigitalisasi saat ini. Naskah-naskah tersebut saat ini selain berada di Inggris juga di Belanda.

Melalui simposium yang digelar selama dua hari pada 5-6 Maret 2019 mendatang, diharapkan Hayu dapat menjadi sarana edukasi dan penyebaran nilai budaya Jawa yang terkandung dalam naskah-naskah lama tersebut.

Selain simposium, naskah-naskah kuno juga akan dipamerkan pada 7 Maret hingga 7 April 2019 di Keraton Yogyakarta.

"Momentum digitalisasi ini dianggap penting untuk diperingati dengan kegiatan akademik agar pengetahuan Jawa yang telah lama hilang bangkit kembali," tandasnya.

Sementara Ketua panitia Mangayubagya 30 Tahun Masehi Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, GKR Bendara menjelaskan, digitalisasi naskah kuno ini sebagai titik awal mengembalikan manuskrip dari berbagai belahan dunia. Keraton mencoba mengumpulkan jejak sejarah yang selama ini hilang.

"Kami ingin mengingatkan pada masyarakat kalau keraton Yogyakarta dulu mempunyai aturan-aturan sendiri yang membuat kota ini istimewa. Hal ini yang perlu dibanggakan masyarakat," imbuhnya.(yve)



Jumat, 08 Feb 2019, 15:37:51 WIB Oleh : Sholihul Hadi 582 View
Jelang Pemilu Saatnya Gelorakan Bhinneka Tunggal Ika
Jumat, 08 Feb 2019, 15:37:51 WIB Oleh : Arie Giyarto 584 View
Saat Ibu-ibu Kolaborasikan Kulintang dan Angklung
Jumat, 08 Feb 2019, 15:37:51 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 565 View
Berkat Renang, Valeria Harumkan Kampus

Tuliskan Komentar