Meramadhankan Kehidupan

63

HADIRNYA bulan suci Ramadhan pada saat tahun politik (Tahun 2018 dan 2019)  bak penyejuk bagi bangsa ini. Harus jujur kita akui pasca pilpres tahun 2014, pilkada Jakarta tahun 2017 dan puncaknya menghadapi tahun politik 2018 dan 2019, menjadikan bangsa ini terbagi dalam dua kelompok besar pendukung Jokowi (pemerintah) dan oposisi pemerintah.  Dan pertentangan ini tidak hanya terjadi pada elit politik, tetapi sudah menyentuh tataran masyarakat. Lihatlah, bagaimana setiap kejadian selalu saja dijadikan alat untuk saling menjatuhkan; kasus Car Free Day, meninggalnya seorang anak karena antri sembako di monas, kasus bentrokan di Mako Brimob dan yang terakhir bom maut Surabaya.

Entah masih berapa banyak lagi momentum ke depan yang akan dijadikan alat saling bertengkar, menjatuhkan, dan jika tidak hati – hati, energi bangsa ini habis hanya untuk saling menegasikan. Kita lupa untuk membangun peradaban bangsa ini. Dalam suasana batin tahun politik seperti ini, ujaran kebencian gampang diucapkan, fitnah, saling klaim kebenaran marak di tengah masyarakat, terutama media sosial. Hadirnya Bulan suci Ramadhan 1439 H sejatinya dapat menjadi penyejuk bagi bangsa Indonesia yang mayoritas umat Islam.

Meramadhankan Kehidupan

Perintah puasa di bulan Ramadhan (QS: 2; 183) sesungguhnya tidak hanya perintah untuk tidak makan, minum, merokok, berhubungan suami-istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari, melainkan perintah mulia untuk mensucikan diri, mengendalikan nafsu duniawi agar mencapai derajat kemuliaan d sisi Allah, yaitu ketakwaan. Nabi pernah bersabda kepada para sahabatnya sehabis perang, bahwa meraka akan menghadapi perang yang lebih besar, para sahabat nabi bingung dan bertanya perang apalagi yang lebih besar dan dahsyat, dijawab nabi perang melawan hawa nafsu. Berpuasa bermakna juga berkuasa atas hati, pikiran, perkataan yang positif dan konstruktif.

Baca Juga :  Memuliakan Anak Yatim Mencari Ridha Allah

Ketika umat Islam berpuasa, dan mengendalikan dari segala yang membatalkan puasa dan menghindari perbuatan negatif yang dapat mengurangi pahala puasa, berkuasa atas bisikan setan dan kesenangan duniawi, itulah yang dapat memberikan makna dalam kehidupan dan dapat meramadhankan kehidupan. Ibadah ramadhan yang dilaksanakan selama satu bulan penuh, siang hari berpuasa, malam hari melaksanakan ibadah sholat tarawih, tadarus dan berbagai Ibadah lainnya, sesungguhnya mengajarkan kepada kita setiap nafas kehidupan kita ini adalah ibadah kepada Tuhan. Dalam ibadah puasa, umat Islam tetap bisa mengerjakan aktvitas kesehariannya, tanpa menganggu dan membatalkan puasanya. Hubungan kemanusiaan juga tetap bisa berjalan dalam kondisi tetap beribadah puasa. Ini menandaskan Tuhan hadir bersama hambaNya di mana pun dan dalam aktivitas apa pun.

Meramadhankan kehidupan sama artinya “menghadirkan” Tuhan dalam kehidupan kita. Ramadhan akan kehilangan makna, ketika sedang berpuasa tetapi melakukan kegiatan-kegiatan yang mengurangi pahala puasa. Saat berpuasa tetapi mengumpat, melakukan ujaran kebencian, menegasikan orang lain, maka hilang makna puasanya. Hilang kesucian Ramadhan, karena Allah yang Maha Suci tentu tidak akan bersama dengan hambaNya yang ucapan dan tindakannya kotor.

Berat memang untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan, tidak hanya fisik, tetapi batin juga ikut berpuasa. Karena beratnya, Nabi Muhammad mensinyalir banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan haus belaka. Umat Islam yang berhasil meramadhankan kehidupannya merasa bahwa kehidupannya mulia, mendapatkan bimbingan dari Allah SWT, sehingga ketika bertindak dan berfikir dalam koridor kebaikan agama dan kemanusiaan, orang yang sedang berpuasa tidak berani melakukan tindakan–tindakan yang bisa merusak makna puasanya, walaupun itu tidak membatalkan puasa. Inilah salah satu makna ibadah puasa yang penting dalam konteks kehidupan kita berbangsa dan bernegara saat ini. Puasa ingin mengajarkan bahwa kehidupan akan damai dan tenang jika kita bisa meramadhankan kehidupan.

Baca Juga :  Menjaga Keistimewaan

Derajat Takwa

Ketika umat sedang berpuasa pada siang hari dilanjutkan malamnya bermunajat kepada Tuhan dengan khusuk, tujuannya adalah untuk mendapatkan derajat takwa, suatu derajat tertinggi manusia di hadapan sang Pencipta.

Ketakwaan yang didapatkan tentu tidak berada di menara gading yang hanya soleh secara pribadi belaka, tetapi takwa yang diperoleh dari proses berpuasa adalah ketakwaan yang mengakar ke bumi, yang terlihat jelas dalam kehidupan kesahariannya, sebagaimana ibadah puasa yang dilaksanakan juga dalam aktivitas keseharian. Bangsa ini membutuhkan manusia–manusia Indonesia yang berhasil ditempa dalam ibadah puasa Ramadhan, sehingga mencapai derajat ketakwaan yang haqiqi, bukan ketakwaan yang formalis apalagi aksesoris, yang siap menghadapi Tahun Politik Bangsa ini. Selamat meramadhankan kehidupan 1439 H. *** (Penulis adalah Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY dan Guru Matematika SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta).

(Tulisan ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi Minggu IV Mei 2018/28 Mei 2018)