merapi-sekarang-melandai-masHeru Suparwoko, Pengamat Gunung Merapi. (putut wiryawan/koranbernas.id).


Putut Wiryawan
Merapi Sekarang Melandai, Mas!

SHARE

“SEKARANG melandai, Mas!” Jawaban bersahabat itu diucapkan Suraji, pengamat Gunung Merapi di Pos Pengamatan Gunung Merapi Kaliurang, Kamis (10/03/2022) tengah malam kepada koranbernas.id yang datang. Ia ditemani pengamat Gunung Merapi senior, Heru Suparwoko yang sedang bersantai menyelonjorkan kaki di sofa. Sambil terus mencermati layar monitor, Suraji melanjutkan penjelasannya. Bahwa seharian itu, sejak Kamis pagi, aktivitas vulkanik gunung pembatas dua provinsi Jawa Tengah dengan DIY terus meluruh.


Beberapa layar monitor pengamatan CCTV di ruangan cukup lebar untuk dua pengamat itu memang menunjukkan tidak ada aktivitas vulkanik yang menonjol. CCTV yang dipasang di Kalurahan Tunggularum, Kapanewon Turi, menunjukkan hanya ada bara memerah di lereng barat Gunung Merapi. Menurut Heru Suparwoko, itulah pusat kubah lava yang muncul di lereng. “Masih di kawasan puncak. Tapi kubah tumbuh di lereng,” jelas Heru.

  • Siswa SMAN 10 Yogyakarta Pameran di TBY
  • Delapan Kecamatan di Jogja Ini Ramah Difabel

  • Ia menambahkan, kawasan puncak memang ada dua pusat aktivitas pertumbuhan kubah lava. Satu berada di dalam kawah, dan satunya lagi ada di lereng yang di bawahnya terdapat hulu Kali Bebeng, Kali Krasak, Kali Bedog dan Kali Boyong. Kubah lava utama di dalam kawah, memiliki bukaan celah untuk longsor ke arah tenggara atau ke hulu Kali Gendol. Celah ke arah hulu Kali Gendol, adalah satu-satunya bukaan yang saat ini ada. Di luar arah tenggara, dinding kawah yang terbentuk dari sisa-sisa kubah lava aktivitas vulkanik lama, masih terlalu kokoh untuk jebol.

    “Saya pernah matur pada Bu Hanik (Kepala BPPTKG Yogyakarta, red), bahwa kita ini diuntungkan oleh alam. Mengapa? Karena saat ini suplai magma dari bawah dirilis di dua titik. Tidak terkonsentrasi di satu titik. Lereng sisi barat daya yang labil, ditembus oleh magma dan menjadi titik pertumbuhan kubah lava. Akibatnya, begitu terbentuk kubah lava baru di lereng barat daya, tidak lama kemudian longsor menjadi guguran dan sering disertai awan panas. Jaraknya maksimal paling hanya 2.500 meter ke arah hulu Kali Bebeng dan Kali Krasak serta Boyong,” jelas Heru.


    Ayah tiga anak ini melanjutkan, yang terjadi Rabu malam (9/3/2022) dan Kamis dinihari (10/3/2022) itu, adalah runtuhnya sebagian kubah lava dari tengah kawah. Kubah lava yang tumbuh di tengah kawah lebih dari 3 juta meter kubik. Ketika ada desakan magma dari bawah, kubah ini terus naik ke atas dan ke samping. Sampai ketinggian tertentu, kubah lava ini akan mendesak tumpukan material di bawahnya. Akibatnya, kubah terus tumbuh menyamping.

    “Pertumbuhan ke arah timur, utara, barat dan selatan, material akan tertahan di dalam kawah menambah volume material di kawasan kawah. Nah, yang pertumbuhan menyamping ke arah tenggara, berada di depan bukaan kawah yang mengarah ke Kali Gendol,” tutur Heru.

    Menghitung hari

    Heru Suparwoko mengisahkan, pada hari Minggu (7/3/2022), Kepala BPPTKG Dr. Hanik Humaida bersama staf datang ke Pos Pengamatan Gunung Merapi Kaliurang. Ia membawa hasil foto udara melalui drone. Cuaca yang cerah di kawasan puncak, memungkinkan foto kawasan puncak bisa dipotret.

    “Pak Heru, ini foto kawah dari atas. Nampaknya ada crack (retakan, red) beberapa. Kalau menurut Pak Heru dengan pengamatan dari pos ini bagaimana? Wah, Bu Hanik. Ini berarti di tubuh kubah lava sudah muncul undakan. Dugaan saya posisinya sudah tidak stabil. Kita tinggal menghitung hari saja untuk longsor ke Gendol,” kisah Heru menceritakaan diskusi kecil di Pos Kaliurang.

    Heru Suparwoko memiliki pengalaman panjang sebagai pengamat Gunung Merapi. Ia sudah berdinas sejak tahun 1992. Tahun 2022 ini adalah tahun terakhirnya ia berdinas sebagai pengamat Gunung Merapi. Setelah 30 tahun berdinas, ia segera memasuki masa pensiun. “Tahun ini saya pensiun. Bareng sama Pak Bandriyo (mantan Kepala BPPTKG, red),” katanya.

    Berangkat dari pengalaman itu, Heru merasa yakin, kubah segera akan longsor ke arah Kali Gendol. Seberapa jauh dan seberapa besar awan panas yang terjadi tentu tidak bisa dipastikan. “Jadi, sejak Senin (7/3/2022), kami sudah tahu akan terjadi longsoran besar. Hanya kepastiannya kapan, kita tidak tahu,” kata Heru.

    Menurut Heru, sebenarnya bahwa Gunung Merapi akan mengalami krisis sudah terasa sekitar seminggu sebelum kejadian. Ia mencermati beberapa kali munculnya gempa vulkanik dangkal. Setelah itu, disusul gempa-gempa fase banyak (multiphase, MP) yang menandakan adanya pertumbuhan kubah lava. “Saya tidak berani menduga terlalu jauh. Hanya merasa ada perubahan yang signifikan dalam pasokan energi dari bawah,” tambahnya.

    Foto udara sebaran awan panas pada 9 dan 10 Maret 2022. (istimewa/BPPTKG)

    Tertutup kabut

    Ketika awan panas guguran mulai muncul pukul 23.18, Gunung Merapi tertutup kabut pekat. Layar monitor CCTV tak bisa menampilkan gambar gunung. Akibatnya, arah dan panjang awan panas guguran tak bisa terlihat. Seluruh Pos Pengamatan Gunung Merapi, tak bisa melihat visual awan panas. Pos Pengamatan Gunung Merapi, selain di Kaliurang juga ada di Ngepos, Babadan, Jrakah dan Selo.

    Komunikasi antarpetugas pengamat Merapi didapat keterangan, bahwa di sektor barat dan utara terjadi hujan abu tipis. Sementara di sektor selatan tidak ada siraman hujan abu.

    Munculnya awan panas secara berurutan, memaksa pengamat Gunung Merapi menghitung arah luncuran dan jarak yang ditempuh. Bagaimanapun, informasi terjadinya awan panas secepatnya harus disampaikan kepada warga masyarakat di lereng Merapi. Satu dan lain hal untuk mengurangi risiko bencana.

    “Kami menghitung berdasarkan rekaman seismograf di layar monitor. Durasi awan panas paling lama adalah 422 detik. Dibandingkan dengan besarnya amplitudo, kami bisa memperkirakan jarak luncur. Kami simpulkan sekitar 5.000 meter. Arahnya jelas ke Kali Gendol,” tutur Heru.

    Informasi yang cepat tersampaikan ke masyarakat dan instansi terkait, telah menggugah kesadaran masyarakat seputaran Kali Gendol untuk mengungsi ke tempat aman.

    Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, melalui laporan Tim Reaksi Cepat (TRC) Piket Regu 3, pada Kamis (10/3/2022) menjelang subuh, puku;l 03.20 mencatat, ada 4 RT warga di Pedukuhan Kalitengah Lor sekitar 400 jiwa mengungsi. Warga Kalitengah Kidul, hanya sebagian yang mengungsi. Lainnya bersiap di pinggir jalan dengan kendaraan roda 4 dan roda 2 untuk mengantisipasi perkembangan. Para pengungsi ditampung di Balai Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan.

    Berdasar laporan yang dibuat BPPTKG dan dirilis ke publik pada 11 Maret 2022, ada sekitar 646.000 meter kubik volume kubah yang runtuh dan menjadi awan panas guguran. “Berdasarkan analisis foto volume kubah lava barat daya terhitung sebesar 1.578.000 m3 dan kubah lava tengah sebesar 2.582.000 m3,” tulis laporan itu.

    Pada Kamis pagi (10/3/2022), para pengungsi itu sudah kembali ke rumah masing-masing. “Jumlah yang mengungsi tercatat 193 jiwa dari sekitar 400 jiwa penduduk Kalitengah Lor. Mereka mengungsi secara mandiri,” kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida kepada wartawan Kamis siang.

    Status aktivitas Gunung Merapi yang dipertahankan pada status “Siaga” sejak 5 November 2020, menjadi catatan penting bagi masyarakat, terutama di sepanjang aliran Kali Gendol. Bahwa sewaktu-waktu, mereka harus menyingkir agar tidak terimbas guguran awan panas yang biasa disebut wedhus gembel.

    Sampai kapan status ini bertahan? Agaknya, masyarakat harus sabar menunggu. (*)



    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini