merayakan-persahabatan-70-tahun-sindhunataPeringatan ulang tahun ke-70 Sindhunata di Omah Petroek. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Merayakan Persahabatan 70 Tahun Sindhunata

SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Hujan tipis membasahi tanah Kalurahan Hargobinangun malam itu, titik air yang menempel pada daun-daun kebun salak sepanjang perjalanan menuju Omah Petroek menambah hawa dingin menyelinap di balik baju hangat. Barometer digital perangkat pintar menunjukkan angka 27° Celsius, ini berarti terpaut empat angka lebih rendah ketimbang suhu di Kota Yogyakarta.


Di Desa Wonorejo ketinggian 646 meter di atas permukaan laut, berdiri Omah Petroek. Kawasan ini merupakan ruang berkesenian sekaligus tempat peristirahatan milik budayawan yang juga wartawan dan penulis dengan nama pena Sindhunata.


Tamu ramai berdatangan. Pemilik kendaraan roda empat harus dengan rendah hati berbagi lahan parkir di ruas jalan kampung yang sempit. Mereka juga harus sigap bila sewaktu-waktu diminta memindahkan kendaraan hanya karena jalur yang digunakan parkir akan dilewati kendaraan lain.

Warga sekitar sepertinya sudah terbiasa dengan keramaian di rumah ini. Tanpa aba-aba mereka berubah profesi menjadi juru parkir dan penunjuk jalan dadakan yang begitu fasih memberikan navigasi kepada tamu yang kebingungan arah.


Malam itu merupakan malam istimewa bagi Gabriel Possenti Sindhunata SJ. Pria yang lebih akrab disebut Romo Sindhu sedang memperingati ulang tahun ke-70. Beberapa seniman Yogyakarta ikut serta pada perayaan ulang tahun tersebut.

Maestro Joko Pekik, Nasirun, Bambang Heras, Astuti Kusumo, Ledek Sukadi hingga Nchik Krisna tampak hadir memberikan ucapan selamat kepada Romo Sindhu. Beberapa seniman memberikan lukisan sebagai hadiah ulang tahun.

Sahabat sesama wartawan dan masyarakat sekitar berdatangan merayakan ulang tahunnya. Tari-tarian kontemporer karya Bimo Wiwohatmo dan penampilan barongsai Jogja Chinese Art And Culture Centre (JCACC) bergantian tampil di Taman Yakoban, halaman rumah dan Museum Anak Bajang.

Panggung kecil pun disiapkan untuk mini talkshow seputar buku-buku baru karya Romo Sindhu yang diluncurkan bersamaan dengan peringatan hari jadinya ke-70.

Terdapat enam buku yang hampir bersamaan diterbitkan pada 2022. Yaitu buku berjudul Jalan Hati Yesuit, Sisi Sepasang Sayap, Anak-anak Ignatius, Anak-anak Semar, Kontemplasi dalam Aksi serta yang terakhir adalah Anak Bajang Mengayun Bulan.

"Saya mau tidak mau menulis di harian Kompas karena keharusan, karena kewajiban dan akhirnya juga karena minat dan kesukaan dengan hati lalu dari situ saya menulis," kata Sindhunata di sela-sela peringatan ulang tahunnya di Omah Petroek, Minggu (15/5/2022), di   Wonorejo Hargobinangun Pakem Sleman.

Menurut dia, koran itu yang memaksanya dari hari ke hari untuk betul-betul menulis. Tidak seperti penulis lepas yang harus menunggu waktu atau kapan pun. Tapi dengan deadline seperti (liputan) bola.

“Makanya saya mesti menulis dan bekerja dengan deadline. Artinya apa penulis atau wartawan? Tapi yang jelas seluruh perjalanan saya adalah perjalanan jurnalistik," lanjutnya.

Sindhunata lebih senang membuat tulisan atau liputan dengan turun langsung ke lapangan, karena lapangan merupakan inspirasi baginya. "Banyak hal yang tak terduga ada di lapangan, di situ kita berjumpa dengan manusia-manusia sebanyak mungkin yang dengan segala macam latar belakang pengalaman," tambahnya.

Buku Anak-anak Semar yang diluncurkan Sindhunata kali ini merupakan lanjutan dari Semar Mencari Raga yang diterbitkan 1996 silam.

Sekuel Anak-anak Semar ini diperpanjang lagi dengan berbagai hal baru. Buku-buku ini disebutnya sebagai Novel Essay dan Sindhunata mempercayakan seniman Nasirun mengerjakan ilustrasinya.

"Saya meminta Nasirun membuat ilustrasi buku tersebut. Saya selalu cerita tentang isi buku kemudian prosesnya seperti itu. Kemudian Nasirun membuatnya, kadang-kadang saya tidak menuntut harus sesuai dengan teks. Karena interpretatif untuk memperkaya seluruh buku," kata dia.

Bagi Romo Sindu, semar adalah lambang bagaimana mempertahankan kebudayaan dari serangan-serangan yang sekarang tidak pernah habis.

Sebagai seniman dan perupa, Nasirun punya interpretasi menafsirkan tulisan Anak-anak Semar milik Sindhunata ini. Bagi Nasirun, Anak-anak Semar itu semua punya gelar, menurutnya, Sang Hyang Ismoyo Jati adalah sejatine Dewa Kang mengejawantahkan jadi momong leluhur-leluhur.

"Jadi kita itu punya sanak sebenarnya, bahwa kristalnya kepada kebudayaan itu Punokawan. Sanak-nya anak-anak Semar itu adalah generasi kita kebetulan artinya itu adalah pamomong wiji ratu artinya apa yang diasuh Semar itu menjadi manusia yang berguna,” lanjut Nasirun.

Hal itu tentu akan berkembang. Nasirun mengibaratkan, mitologi tentang cikal bakal dunia yang dipercayai dan diyakini oleh masyarakat Jawa khususnya atau Nusantara itu akhirnya akan melahirkan Batara Guru dan akhirnya melahirkan Semar.

"Nah di situ itu lokal genia dan konon seorang Rabindranath Tagore itu heran kenapa kebudayaannya (kebudayaan Hindu-Buddha) seperti pohon beringin yang ada di India tetapi kok kuat di nusantara ini," lanjutnya.

"Berarti kan kita saling punya ikatan, saling kolaborasi itu yang hebat. Nah kenapa itu ada di dalam mitologi? Agar supaya menjaga warisan masa lampau. Kalau tidak ada carangan tidak ada tabib baru berarti sudah habis," sambungnya.

Menurut Nasirun, kenapa kebudayaan lampau sampai 150 tahun panjang? Karena ada tafsir-tafsir baru atau carangan. Anak-anak Semar mempunyai tugas menafsir sesuatu yang baru supaya menjaga warisan masa lampau yang disebut adiluhung itu.

Tidak ada perintah

Nasirun mengakui proses membuat ilustrasi buku Anak-anak Semar ini tidak biasa. Unik karena tidak ada meeting, tidak ada perintah tertulis dari Romo Sindhu.

"Semua hanya jawilan saja, kalau pas ketemu di mana Romo minta tolong bikinkan Semar Kehilangan Raga lalu saya berimajinasi dan menggambarkannya. Semua dikerjakan tidak sampai satu bulan," ungkapnya.

Romo Sindhu juga memberikan suatu rangsangan teks, misalnya Semar Membangun Khayangan. “Kemudian saya berimajinasi. Karena saya perupa maka saya akan realisasikan menjadi bahasa rupa," kata seniman kelahiran Cilacap ini.

"Justru karena kalau saya menggambar karya wayang seperti aslinya itu menjadi mandek karena Klasik. Klasik itu jika ditambah jadi kurang bagus, dikurangi juga kurang bagus. Wong itu merupakan karya yang paling Agung," lanjutnya.

Nasirun menyatakan, saat Romo Sindhu meminta dirinya membuat ilustrasi Semar Mencari Raga, seperti muncul suatu kesadaran bahwa usia 70 tahun itu dalam bahasa Kawi atau Sansekerta namanya Ki Kayantaka, adalah manusia yang menggunakan baju putih semua.

"Pada simbol perutnya yang buncit yang merupakan gambaran wujud dunia yang tidak pernah selesai kecuali jika sudah dikuncung atau dikafani," jelasnya.

Seseorang yang berusia 70 tahun seperti Romo Sindhu,  serta semuanya, artinya sedang menuju alam kepulangan yang sesungguhnya yaitu kematian.

“Jadi peringatan hari ini merupakan peringatan kita bersama merayakan peringatan bersama bahwa hidup adalah sesuatu yang menuju ke alam keabadian,"  tandasnya.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang turut hadir pada peringatan ulang tahun ke-70 Romo Sindhunata menyampaikan harapan-harapannya agar Sindhunata selalu sehat.

"Romo tetap bersemangat dan energik untuk menulis, tulisan Romo puisi Romo apapun yang Romo guratkan biasanya menceritakan tentang hal-hal yang kadang-kadang kita belum tahu, tetapi begitu baca tulisan Romo kita menjadi berasa dan tahu," kata Susi. (*)


TAGS: Omah  Petroek 

SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini