Merdeka dengan Air Minum Tirta Amerta

KORANBERNAS — Minum itu kebutuhan dasar. Perlu dihayati sebagai hak azasi. Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 tahun 2010, mencantumkan salah satu parameter keamanannya, yaitu total zat padat terlarut (Total Dissolved Solid/TDS) maksimum 500 ppm (part per million). Bandingkan dengan air murni yang dipergunakan medis dan farmasi, TDS 000 ppm. Bagi orang biasa, bukan ilmuwan, air dengan TDS di bawah 500 ppm, apalagi yang mendekati 000 ppm, adalah air yang aman sebagai bahan baku air minum.

Namun, ada saja yang aneh. Uji lab air (di Jakarta, Depok Bogor, Yogyakarta, Semarang) masih menggunakan Permenkes 1997, dengan TDS maximum 1.500 ppm. Tampak tidak ada konsistensi praktik pengujian di Kementerian Kesehatan. Itu pertanda bahwa pemerintah belum serius memerhatikan kualitas air minum masyarakat.

Mandiri Air Minum

Relevankah membudayakan kemandirian air minum untuk mengisi kemerdekaan? Memilih, meneliti, memroses sendiri air di sekitar kita (entah dari sumur, mata air, dan khususnya air hujan) untuk mencukupi kebutuhan air minum? Air hujan itu air suling alami. Anugerah alam pada musimnya. Jumlahnya amat sangat banyak.

Nenek moyang bangsa Indonesia, sangat mandiri air minum. Tanah dan lingkungan di mana ada air masih belum tercemar. Air dimasak, disimpan dalam kendi. Mereka lebih sehat dan  panjang umur sampai seratus tahun lebih.

Sekarang, makin kekinian, kemandirian itu terancam oleh perilaku konsumerisme air tawar dalam kemasan industri. Masyarakat di mana saja, kapan saja, di kota maupun di desa, pejabat maupun pengamen jalanan, anak-anak maupun dewasa,  membeli air kemasan.

Isu pencemaran udara, tanah, sungai, danau hingga laut, telah menggiring masyarakat tidak percaya lagi dengan air yang tersedia di alam sekitar tempat tinggal. Kepercayaan itu digantikan oleh wadah plastik bening, kasat mata, gelas maupun botol 300 mili hingga 1,5 liter. Itulah yang langsung memengaruhi pikiran yang tidak kritis, bahwa pasti paling aman diminum. Sejauh mana berbuah peningkatan kesehatan, stamina, daya konsentrasi, dan sebagainya, belum ada publikasi berbasis penelitian ilmiah maupun eksperimental. Bahkan, cerita gethok tular, testimoni pengalaman pun tidak pernah ada. Merasa lebih bergengsi saja dengan kemasan bermerk popular dan mahal.

Memroses dan memastikan air putih aman, bahkan sehat, tidak sangat rumit seperti memroses makanan. Memilih bahan baku juga mudah. Air yang jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa, itu cukup bagi awam. Lain lagi bagi akademisi. Kemungkinan ada kuman, cukup ampuh diatasi dengan memanaskan sampai mendidih. Kalau perut tidak sakit, berarti aman. Cara itu sudah berlangsung sejak dulu sampai sekarang.

Baca Juga :  Naik Turun Tangga Pasar, Sepikul Air Dihargai Rp 4 Ribu

Ada banyak cara lain, yang inovatif-saintifik namun tetap mudah, murah, mandiri. Namun kerepotan langsung menghadang. Mengurusi air minum sendiri dianggap tidak penting. Membuang waktu, tenaga dan pikiran. Ngurusi air minum tawar secara mandiri agar berkualitas, aman, tubuh sehat, tidak termasuk kegiatan penting manusia merdeka. Tujuh puluh tiga tahun rakyat Indonesia merdeka, tetapi kebutuhan dasar air minum makin tergantung pada industri yang mewadahi air dengan kemasan. Memang menarik dan praktis.

Pemerintah Singapura, Australia, tetangga sebelah itu, menjamin air minum tawar berkualitas bagi warganya. Di mana saja tersedia air kran layak minum. Di Indonesia, hingga 73 tahun merdeka ini belum pernah terjadi!

Makna Biologis

Umumnya, minum air tawar hanya memenuhi rasa haus saja. Tidak dipikirkan hubungannya dengan kualitas kesehatan. Maka, air minum tawar sangat kurang dihargai. Lihat saja, selalu ada sisa air dalam botol kemasan. Di tempat hajatan, rapat, mudah dijumpai kemasan masih utuh yang dibuang di tempat sampah, hanya karena sudah jatuh atau berdekatan dengan sisa makanan.

Anjuran dokter agar sekurang-kurangnya minum air tawar dua liter per hari diabaikan. Maksud anjuran itu agar tidak mengalami dehidrasi, yaitu kehilangan banyak cairan tubuh. Cairan tubuh itu adalah darah, hasil metabolisme tubuh mengolah makanan, oksigen dari udara, panas dan air yang jumlahnya paling banyak. Hematologi, ilmu tentang darah, menyebutkan bahwa  91 % plasma darah manusia itu adalah air, H2O. Jadi, minum air tawar sangat berperan menjaga kualitas dan kuantitas plasma darah. Kalau darah sehat, tentu seluruh tubuh akan sehat. Itulah sebabnya, mendiagnosa penyakit secara akurat perlu tes lab darah. Kalau fungsi ginjal gagal sehingga darahnya kotor, harus cuci darah! Mendingan kalau sekali cuci saja. Kenyataannya, bisa seminggu dua kali. Tidak jarang malah berujung pada kematian.

Cairan tubuh yang asalnya dari air minum itu menjadi regulator, pengatur suhu badan, pembawa oksigen ke miliaran sel tubuh, distribusi sari-sari makanan, melancarkan pembuangan sisa metabolisme dalam bentuk urin, BAB, keringat, sendawa, kentut, dan sebagainya. Kesadaran makna biologis air minum ini semestinya merupakan pola hidup sehat berbasis air minum berkualitas. Kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan makanan. Buktinya, makin tua, — makin kaya juga — makin banyak jenis makanan yang perlu dikurangi dengan diet makanan.

Dalam merenungkan makna 73 tahun kemerdekaan tahun ini, pantaslah bertanya kepada diri sendiri: Apakah sudah merdeka untuk menyediakan sendiri air minum berkualitas? Baik juga bertanya kepada pemerintah/negara: Kapan menjamin ketersediaan air minum berkualitas untuk 250 juta rakyatnya?

Sains Eksperimental.

Kreativitas memilih dan mengolah air minum mulai tumbuh di masyarakat akhir-akhir ini. Dasar keilmuannya adalah elektrolisa, karya besar ilmuwan Inggris Michael Faraday. Air ditempatkan dalam dua bejana berhubungan dialiri listrik searah (DC) dengan tegangan antara 30–100 volt, tanpa menambahkan bahan campuran apapun, baik herbal maupun bahan kimia, sehingga aman dari efek samping negatif.

Baca Juga :  Batik Lipatan Karya Umi Shibori Indah dan Menakjubkan

Elektrolisa air (Electrolyse Reduced Water) itu, secara teori elektrokimia, menghasilkan dua jenis air. Listrik positif menghasilkan air dengan ion bermuatan listrik positif sekian mili volt yang bersifat asam dan air dengan ion bermuatan listrik negatif, minus sekian mili volt, yang bersifat basa. Mineral, keasaman dan kadar ion harus diukur dengan alat ukur saintifik yang mudah didapat di toko daring.

Air yang dihasilkan dari sains eksperimental (pengetahuan berbasis percobaan) itu kemudian diuji lab resmi. Terbukti merupakan air minum yang sangat bermutu. Wakijo dari Bekasi, misalnya, air hujan yang dielektrolisa sendiri, diuji lab oleh temannya yang kebetulan seorang dokter kepala rumah sakit. Hasilnya mengejutkan. Air minum kualitas A. Keluarga Wakijo pun dengan mantap dan percaya diri, terus “mengolah” air hujan secara elektrolisis. Air hujan dipanen dan dikumpulkan dalam puluhan ember, ratusan botol plastik bersih. Wakijo merdeka dari keharusan membeli air galon kemasan. Berkuranglah biaya beli air, plus bonus lebih sehat sekeluarga. Bonus yang membahagiakan.

Wakijo, guru SD di Bekasi itu bergabung dengan ratusan teman di grup WhatsApp “KandhangUdan”. Anggota grup, — di mana penulis sebagai admin — tekun bereksperimen mandiri air minum dengan metoda elektrolisa. Beberapa anggota grup rela mengeluarkan biaya test lab darah. Hasilnya, makin sedikit yang diberi tanda bintang (*). Itulah literasi ilmiah efek minum air yang berkualitas.

Putut Wiryawan, pemimpin redaksi KORAN BERNAS, terkejut dan bersyukur melihat hasil lab darahnya. “Lebih baik daripada hasil tes dua belas tahun yang lalu,” ungkapnya. Padahal belum genap satu tahun rutin minum air hujan diionisasi. Penulis sendiri rutin melakukan tes lab darah. Benar, hasilnya makin baik, setelah hampir lima tahun minum air hujan diionisasi.

Memanen dan menyimpan air hujan tidak ada sanksi hukumnya. Air hujan diberikan oleh langit di atas kita untuk semua makhluk. Tidak akan konflik saling berebut siapa kuat siapa menang. Benar-benar merdeka untuk mencukupi kebutuhan air minum berkualitas. Mungkin air seperti itulah yang dalam sastra wayang disebut tirta amarta, air kehidupan.

Merdeka! (ed.iry)

V. Kirjito, pemerhati budaya air hujan

(Tulisan ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi No. 23/2018, tanggal 21 Agustus – 12 September 2018).