mulai-oktober-65-persen-penerbangan-pindah-ke-yiaRaker DPD RI dengan Pemda dan instansi terkait DIY, Selasa (13/8/2019) di Kantor DPD RI DIY. (sholihul hadi/koranbernas.id)


sholihul

Mulai Oktober, 65 Persen Penerbangan Pindah ke YIA

SHARE

KORANBERNAS.ID – Pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) mendekati selesai. Direncanakan mulai Oktober 2019, 65 persen penerbangan di Bandara Adisutjipto Yogyakarta ADS akan dipindahkan ke YIA.

Kepastian ini disampaikan Pelaksana Tugas Sementara (Plt) General Manager YIA, Agus Pandu Purnama, saat menghadiri Rapat Kerja (Raker) Anggota DPD RI DIY dengan Pemda dan Instansi Terkait dalam Rangka Menindaklanjuti Aspirasi Masyarakat tentang Infrastruktur di Wilayah DIY, Selasa (13/8/2019), di Ruang Rapat 1 Kantor DPD RI DIY Jalan Kusumanegara.


Baca Lainnya :

Di hadapan anggota DPD RI GKR Hemas, Afnan Hadikusumo dan Hafidh Asrom, lebih jauh Pandu menyatakan over capacity Bandara Adisutjipto tidak bisa tertangani lagi sehingga perlu alternatif bandara dengan kapasitas tinggi.

“Sekarang ini sudah ada 14 penerbangan di YIA. Kami berharap akses menuju YIA harus segera diselesaikan, tol menjadi kebutuhan utama diharapkan 2020 sudah siap digunakan,” ungkap Pandu kepada wartawan usai raker.


Baca Lainnya :

Yang juga perlu dipikirkan adalah keberadaan rumah sakit internasional dekat YIA.

Pandu menambahkan, berbagai persiapan pemindahan penerbangan sudah dilakukan antara lain menyangkut tenaga kerja 70 persennya  diambilkan dari masyarakat terdampak bandara. Selain itu, juga akan dibangun terminal kargo dengan kapasitas 500 ton per hari.

Dia memastikan, sebelum pembangunan bandara sudah dilakukan kajian ancaman bahaya alam berupa pembuatan green belt 5 km selatan bandara dan saat ini masih berlangsung.

Pihaknya juga menyediakan crisis center serta tempat aman dengan kapasitas 10.000, ketinggian 15 meter. “Bandara YIA dibangun dengan konstruksi tahan sampai dengan 8,8 SR,” ucap dia.

Selain bandara, pada raker kali ini juga dibahas beragam masalah infrastruktur di antaranya kawasan Bintaran Wetan Piyungan pascabanjir 2017. Jembatan terutama talud sungai di lokasi itu sangat menghawatirkan dan mengancam permukiman warga.

Anggota DPD RI Afnan Hadikusumo diwawancarai media usai raker. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Penataan Kota Yogyakarta mulai dari Underpas Kentungan, Flyover Jombor,  JJLS, kemacetan lalu lintas, PKL, penataan Malioboro maupun infrastruktur sungai, juga dibahas secara intens. Khusus untuk underpas YIA ditargetkan 2020 selesai dibangun.

Dalam kesempatan itu secara detail Kompol Purnomo dari Polda DIY memberikan masukan mengenai kemacetan pada beberapa titik di DIY terutama sekitar Malioboro, Maguwo dan Kentungan.

Ini terjadi karena faktor penambahan jumlah kendaraan bermotor baru di DIY rata-rata mencapai 9 ribu per bulan. Belum lagi ditambah kendaraan yang dibawa mahasiswa dan pelajar dari daerah asal maupun mutasi dari luar daerah.

“Ini masalah klasik. Kayaknya di Yogyakarta itu-itu saja. Pelebaran jalan tidak berpengaruh signifikan paling hanya menambah maksimal setengah sampai satu meter,” kata dia.

Soal parkir Malioboro, dia mengakui daya tampungnya tidak mencukupi. Karena tidak tersedia parkir di pertokoan dan hotel, badan jalan digunakan untuk parkir.

Pelaku usaha banyak memanfaatkan trotoar dan fasilitas umum bahkan di badan jalan untuk berjualan.

Ditambah lagi banyak persimpangan dengan jarak sangat dekat. “Saya dari rumah melewati lebih dari sepuluh lampu merah dan banyak gang sempit,” ujarnya.

Menurut dia, problem kemacetan merupakan tanggung jawab bersama tidak hanya Polri dan Dinas Perhubungan saja. Selama ini sudah dilakukan rekayasa lalu lintas namun kemacetan justru berpindah ke tempat lain.

“Malioboro ini sudah kita rekayasa bolak balik. Tetapi orang dari luar Jogja enjoy saja, yang penting bisa sampai Malioboro. Kami tidak mendengar mereka (wisatawan) mengeluh macet. Enjoy saja muter-muter di Malioboro,” ujarnya.

Menurut Purnomo, Kapolda DIY sudah memerintahkan untuk menurunkan 2/3 kekuatan personel mem-back up Polres Sleman dan Polresta Yogyakarta terutama saat jam-jam sibuk pulang kantor.

Menanggapi beragam aspirasi yang disampaikan ke DPD RI, GKR Hemas menyatakan sangat mendukung pemindahan penerbangan dari Bandara Adisutjipto ke YIA Temon Kulonprogo hingga 100 persen.

Menurut dia, jumlah pekerja  lokal YIA perlu ditambah serta dibangunnya rumah sakit modern bertaraf internasional.

“Saat ini yang sudah siap RS PKU Muhammadiyah. Ada lahan sekitar 5 kilometer dari YIA. Sudah dimulai pembangunannya,” sambung Afnan Hadikusumo.

Sedangkan Hafid Asrom menyampaikan pihaknya sangat mendukung dibangunnya terminal kargo. Fasilitasi itu akan bermanfaat bagi UMKM serta sektor perikanan. Ikan langsung diekspor ke Singapura.

Secara terpisah, Cholid Mahmud yang tidak bisa menghadiri raker karena kesripahan, menyampaikan rapat kerja ini merupakan rapat kerja terakhir periode 2014 - 2019.

“Masukan rapat kerja ini bisa menjadi bahan yang akan disampaikan untuk rapat-rapat periode mendatang,” kata dia. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini