nasib-mahasiswa-perantauan-harga-tiket-mudik-dan-warmindo-naik-ada-takjil-gratis-dari-kampusPembagian takjil gratis di kampus UMY. (istimewa)


Sariyati Wijaya
Nasib Mahasiswa Perantauan, Harga Tiket Mudik dan Warmindo Naik, Ada Takjil Gratis dari Kampus

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Ramadan 1443 H sudah berjalan hampir dua pekan. Mahasiswa perantauan sudah mulai berburu tiket mudik lebaran. Apalagi sudah dua lebaran mereka  tidak pulang ke kampung halaman. Momentum lebaran tahun ini sangat dinanti untuk berkumpul dengan sanak saudara.


Bayang-bayang kegembiraan itu terpaksa pupus  begitu mereka cek harga ternyata tiket mudik sudah baik. “Harga tiket bus naik, ada teman-teman mahasiswa yang batal mudik dan memilih tetap tinggal di Jogja,” kata Chaedar Ahmad Qordowie, Presiden Mahasiswa Universitas Alma Ata,  saat dihubungi koranbernas.id, Sabtu (15/4/2022).


Memang kondisi di lapangan saat lebaran dipastikan harga  tiket angkutan mudik naik, belum lagi kelangkaan solar dan pembatasan pembelian. Tidak tiket, mahasiwa asal Lampung ini maupun  sesama anak perantau merasakan pengeluaran mereka bertambah.

“Saya itu suka jajan ke Warmindo. Sekarang naik Rp 1.000-Rp 2.000. Kalau dikalikan beberapa kali jajan  jumlahnya  jadi besar bagi kami,” katanya.


Mahasiswa Fakultas Farmasi semester VI ini berharap pemerintah mengambil kebijakan menurunkan harga berbagai kebutuhan pokok  dan bisa  menstabilkan. Dengan demikian pedagang, masyarakat dan mahasiswa terkurangi beban hidupnya.

Takjil gratis

Di tengah situasi yang serba  sulit  ini, kebahagiaan tersendiri dirasakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pihak kampus menyediakan 3.250 takjil setiap hari bakda Ashar untuk mahasiswa.

“Jadi kalau sore, mahasiswa sudah datang ke kampus untuk mengambil takjil gratis ini,” kata Muhammad Ibnu Ramhata,  Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMY, kepada koranbernas.id secara terpisah.

Takjil gratis menghemat pengeluaran mahasiswa khususnya mereka yang hidup di perantuan. “Ibaratnya kalau sore cukup beli gorengan saja, karena takjil berbuka puasa sudah ada dari kampus,” katanya.

Presiden Mahasiswa Universitas Alma Ata, Chaedar Ahmad Qordowie. (istimewa)

Menurut Ibnu, kondisi saat ini dampaknya dirasakan tidak hanya mahasiswa, namun juga pedagang makanan, ibu rumah tangga dan sektor usaha. Selain harga minyak goreng naik, BBM  jenis Pertamax juga naik. Begitu pun harga kebutuhan pokok serta Pajak Pertambahan Nilai (PPn)  mengalami hal yang sama.

Sejak dua tahun terakhir, sektor usaha banyak yang terpuruk akibat hantaman pandemi. “Sekarang kasus Covid sudah tidak seperti dua tahun silam, namun dampaknya masih dirasakan,” kata mahasiswa semester VIII Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam tersebut.

Sama dengan rekannya, Ibnu berharap pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok dan menstabilkan. Mahasiswa merasa perlu menyuarakan   harapan dan aspirasi tadi. Di antaranya melalui konten sosial media serta aksi turun jalan 11 April silam.

“Kami juga akan menggelar aksi susulan, namun detail  belum dirapatkan. Kami adalah bagian dari masyarakat, maka kami juga menyuarakan kondisi yang ada,” katanya. (*)


TAGS: Alma  Ata 

SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini