Nikmatnya Tiga Jajanan Unik Khas Purworejo

960
Ema memamerkan kue lompong hasil olahannya. (heri priyantono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Jika Anda berkunjung ke Kota Purworejo, jangan lupa mencicipi tiga jajanan khas asal Kota Pensiunan ini. Terasa belum sempurna jika Anda singgah ke kota yang berbatasan langsung dengan Kulonprogo DIY ini, jika belum mencicipi Dawet Ireng, Clorot dan Kue Lompong. Ketiganya terbuat dari bahan dasar berasal hasil bumi yang dikelola oleh para petani lokal.

Clorot, misalnya. Kue ini sangat unik bentuk dan kemasannya. Clorot yang berbahan dasar tepung beras dan gula merah ini, pada bagian bungkus luarnya dililit daun kelapa atau janur. Kue ini biasa diproduksi oleh masyarakat Pesisir Selatan Purworejo, tepatnya di Kecamatan Grabag.

Pembuatan kue Clorot cukup sederhana. Adonan berupa tepung beras dan gula merah dimasukkan dalam sebuah wadah dari daun kelapa muda (janur) yang sudah dibuang batangnya, dipilin melingkar membentuk kerucut, kemudian dikukus.

Cara menyantap kue ini pun cukup unik yaitu pada bagian bawah kerucut kita tekan dengan jari. Setelah isinya terlihat keluar, baru dimakan. Atau, bisa juga dengan dibuka simpul janurnya.

Ada gerakan khusus untuk membuka sebelum memakan clorot. “Cara makan clorot yang benar adalah dengan cara kita tekan dan diputar-putar dengan kedua telapak tangan dulu. Setelah dirasa sudah tidak lengket, baru didorong dengan telunjuk jari kanan kita,” ucap Bu Siti Boniyah, Sesepuh sekaligus Pemerhati Jajanan Tradisional Purworejo ini.

Clorot bisa dijumpai hampir di setiap pasar-pasar tradisional di Purworejo. Bahkan warga setempat sering menggunakannya sebagai sajian wajib setiap acara resepsi hajatan atau acara-acara pemerintahan.

Clorot, makanan khas yang unik. (hery priyantono/koranbernas.id)

Kue Lompong

Kue lompong terbuat dari tepung beras ketan yang berwarna hitam dan terbungkus daun pisang kering (klaras). Untuk pewarnaan hitam diambil dari tangkai padi (merang) yang dibakar diatas wajan tertutup. Setelah terbakar, diremas-remas  dicampur air dan disaring.

“Langkah berikutnya, merebus gula hingga mendidih dan mengental, kemudian campurkan tepung ketan dan air bakaran merang, diuleni dan dicampur air panas hingga adonan bisa dibentuk,” papar Ibu Yulaika Wakidin (50), pembuat kue Lompong asal Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Purworejo.

Untuk menyiapkan isi, dibutuhkan kacang tanah yang disangrai, ditumbuk kasar dan kemudian dicampur gula yang sudah mengental. Bumbu yang dipakai hanyalah merica bubuk. “Untuk pembungkusnya menggunakan daun pisang kering yang disebut klaras,” terangnya.

Baca Juga :  Angin Pembaruan 2019 Terasa Makin Kuat

Ia selalu menggunakan klaras dari pisang kepok kuning, karena lebih lembut teksturnya sehingga mudah untuk dilipat. “Pengalaman saya, kalau membuat sedikit klaras saya cari setelah salat subuh sebelum matahari keluar, karena klaras kalau sudah kena sinar matahari bakal keras dan tidak bisa dilipat,” ujarnya.

Yulaika atau Ema yang sudah 8 tahun menggeluti pembuatan kue lompong, pernah menjadi ‘instruktur’ dadakan di Desa Bapangsari Kecamatan Purwodadi.

“Ketika itu keponakan saya yang menjadi lurah desa tersebut menggelar hajatan dan memesan kue lompong buatan saya. Menurut warga di sana, kue buatan saya enak, berbeda dengan kue lompong lainnya. Warga Bapangsari minta kepada pak Lurah untuk belajar kue Lompong dari saya. Jadilah saya instruktur dadakan. walaupun grogi, saya tetap membagikan ilmu,” urai ibu 3 anak ini.

Satu lagi pembuat kue lompong yang juga terkenal adalah Sulima atau Ema Supriyono. Warga Pangen Juru Tengah RT 04 RW 01 Jalan Brigjen Katamso 50 A Purworejo itu sudah sepuluh tahunan menggeluti usaha tersebut.

Ema, sapaan akrabnya, mengawali usahanya mulai dari memasarkan kue lompong di warung nasi miliknya. “Kue lompong yang saya pasarkan diproduksi oleh pemilik salon Happy,” kata dia.

Kebetulan, tetangganya itu memberinya kesempatan, bersama ibu-ibu PKK di lingkungannya, untuk belajar dan praktik membuat kue-kue termasuk kue lompong.

Kala itu, istri dari Supriyono ini langsung mempraktikkan resep kue lompong tersebut. “Hasil produksi pertama kue lompong saya, rasanya langsung oke,” ujarnya saat berbincang dengan koranbernas.id.

Karenanya, wanita berusia 50 tahun ini optimistis menggeluti usaha tersebut. Orang-orang mulai membeli kue lompong buatannya. Pesanan demi pesanan selalu datang silih berganti.

“Pesanan terbanyak yang pernah saya terima sejumlah 5.000 kue lompong, saya minta bantuan tetangga,” tutur pemilik industri rumahan kue lompong berlabel LA ini.

Kue lompong terbuat dari tepung beras ketan yang diolah dengan warna hitam dan berisi kacang tanah.  Ciri khas kue ini dibungkus daun pisang kering atau klaras.

“Saya sudah punya sekitar tiga orang suplier klaras, jadi saya tidak kebingungan menyiapkan pesanan partai besar. Jenis klaras bisa dari daun pisang apapun, asal kering,” ungkap Ema.

Baca Juga :  Dua Kelompok Bentrok, Satu Luka Kena Bacok

Supriyono selaku suami dari Ema menambahkan, dirinya membantu menyangrai kacang tanah untuk isi kue lompong. “Kacang saya sangrai selama tiga jam, dengan api sedang agar tingkat kematangan maksimal,” kata Supriyono.

Bumbu kacang (isi kue lompong) terdiri dari merica, garam, gula dan bawang merah goreng. Sedangkan pewarna hitam kue ini berasal dari larutan air merang yang tersedia di pasaran.

Hartati, penjual dawet ireng wetan Jembatan Butuh Purworejo Jawa Tengah. Pewarna dawet ini terbuat dari tangkai batang padi. (hery priyantono/koranbernas.id)

Dawet Ireng

Jika Anda berkendara melintasi Kabupaten Purworejo bagian barat, tepatnya melintas di Jalan Raya Purworejo-Kebumen, di Desa Butuh Kecamatan Butuh atau sebelah timur persis Jembatan Butuh, di sisi jalan, Anda akan melihat gubuk sederhana penjual Dawet Ireng bernama Wagimin.

Dawet ireng tersebut pertama kali dijual oleh Almarhum Amad Dansri pada tahun 1960-an. Kini usaha tersebut dilanjutkan oleh cucunya, Wagimin (37) dan istrinya Hartati (32).

Hartati menuturkan, dia dan suaminya memutuskan berjualan dawet ireng karena memang sudah diminati masyarakat. “Saya membantu suami saya berjualan dawet ireng ini. Karena ini bisnis kakek, kami ingin mempertahankannya,” tutur Hartati.

Dawet Ireng yang dia jual berbahan dasar sagu dan pewarnanya berasal dari oman (tangkai padi, Red). Kemudian sebagai pemanisnya gula merah yang sudah dicairkan ditambah santan.

Karena banyaknya permintaan, Dawet Ireng yang persis berada di timur Jembatan Butuh ini dicampuri tape. “Kadang ada yang minta diberi tape, tapi banyak juga yang minta murni dawet saja,” ujarnya.

Dalam sehari dia mampu menjual satu kilogram dawet. Banyak warga lokal maupun pengendara luar kota singgah untuk melepas dahaga dengan meminum Dawet Ireng ini. Dengan merogoh kocek Rp 4.000,  Anda sudah bisa merasakan sensasi dawet aseli Purworejo ini.

“Rasanya enak, legit dan unik, tidak seperti dawet-dawet yang lain,” ucap Erna, asal Purwokerto yang sengaja mampir membeli Dawet Ireng di warung tersebut. (sol)