panggung-politik-di-indonesia-penuh-kebencianSuasana diskusi buku, Rabu (31/03/2021) sore, di RM Mertamu. Dari kiri ke kanan: Eko Sulistyo, Candra Gautama, Gendhis, Arie Sujito dan Halim HD. (putut wiryawan/koranbernas.id)


Putut Wiryawan
Panggung Politik di Indonesia Penuh Kebencian

SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN – Bangsa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam membangun demokrasi. Persoalan ini juga harus dipahami oleh generasi milenial yang sampai dewasa ini masih saja disuguhi panggung politik yang penuh kebencian.


Tantangan besar itu adalah menghadirkan demokrasi dengan perspektif kebudayaan. Kalau ini dapat diwujudkan, maka demokrasi ke depan tidak hanya diisi oleh caci maki dan kebencian. Demokrasi ke depan harus diwarnai dengan perdebatan wacana yang menyehatkan dan perpektif budaya yang kental.


Sosiolog UGM, Arie Sudjito, mengemukakan hal itu dalam diskusi buku karya Eko Sulistyo berjudul Dari Jokowi Hingga Pandemi, di RM Mertamu, Jl. Sumberan 2, Ngentak, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Rabu (31/3/2021) sore. 

Diskusi juga menghadirkan budayawan Halim HD, editor dari Kepustakaan Populer Gramedia Candra Gautama dan Gendis Syari Widodari yang pernah menjadi asisten peneliti Youth Studies Center Fisipol UGM dan sekarang sebagai jurnalis di media online westo.id sekaligus mewakili kaum milenial.


Menurut Arie, dunia politik di Indonesia sekarang mengalami pendangkalan. Tidak ada ruang perdebatan yang sehat. Semestinya, silang pendapat dalam politik cukup diselesaikan melalui perdebatan dan adu argumentasi.

“Yang terjadi sekarang, setiap ada perbedaan diselesaikan dengan cara lapor polisi. Ini sangat tidak baik. Sedikit-sedikit lapor polisi. Persoalan politik, selalu bermuara ke penyelesaian hukum,” kata Arie. Perdebatan yang harus dibangun, adalah perdebatan dengan menggunakan perspektif kebudayaan.

Akibat dari semua itu, lanjutnya, ruang publik sekarang dipenuhi nuansa kebencian. Makin kumuh. Masyarakat kemudian membenci politik. Sebaliknya, pada saat pemilu, orang berbondong-bondong untuk memberikan suara.

“Ini sebenarnya cerminan masyarakat ingin dan berharap ada perubahan. Tapi setelah pemilu usai, tidak juga berubah,” tandas Ketua Departemen Sosiologi Fisipol UGM ini.

Genre baru

Menurut Arie, Eko Sulistyo yang cukup lama berada di dalam lingkaran Presiden Jokowi, bahkan sejak Jokowi masih menjabat Walikota Surakarta, berhasil memotret apa yang sudah dilakukan Jokowi dari dalam.

“Saya melihatnya, dari kumpulan esai Eko Sulistyo, nampak bahwa Jokowi menawarkan genre baru dalam politik di Indonesia. Ini akan menjadi bahan kajian dan diskusi yang menarik bagi para akademisi serta para intelektual,” kata Arie.

Genre baru yang dimaksud Arie adalah warna politik yang memiliki perspektif kebudayaan. Ia tampil sebagai sosok pemimpin yang mengesankan humanis.

Budayawan Halim HD mengatakan, pada masa lalu, zaman perjuangan, banyak orang-orang muda pada usia 20-an tahun berani tampil ke depan untuk mendirikan partai politik. Banyak lainnya pada usia yang sama tampil di berbagai panggung kebudayaan. “Ini yang sekarang tidak cukup nampak!”.

Eko Sulistyo, penulis buku, antara lain mengungkapkan bahwa pada masa mendatang dunia akan terus bergeser ke arah politik hijau. Banyak negara di dunia mulai mengambil kebijakan ke arah pelestarian alam dan lingkungan. Ini antara lain ditandai dengan kebijakan untuk mengurangi penggunaan energi fosil. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini