Pelaku Ekonomi Kreatif Jogja 172 Ribu, Baru 594 Yang Terdaftar di BISMA

80
Wawan Rusiawan, Josua dan Sabartua memberikan keterangan pers, terkait kegiatan BIGGER di Yogyakarta, Selasa (10/07/2018). (Surya Mega/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Jumlah pelaku ekonomi kreatif di Jogja yang terdaftar dan masuk ke BEKRAF Information System in Mobile Application (BISMA) masih sangat rendah. Dari 172 ribu pelaku ekonomi kreatif, sampai sekarang baru sekitar 500 yang menjadi member BISMA.

Kondisi ini patut disayangkan, karena BISMA didesain oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) sebagai database, yang nantinya akan menjadi bagian dari strategi kebijakan pemerintah terkait pengembangan potensi ekonomi kreatif nasional.

“Kita berharap, para pelau ekonomi kreatif semakin banyak yang memanfaatkan aplikasi ini dan masuk mendaftar menjadi member. Ini akan memudahkan pemerintah menangkap masalah, memonitor perkembangan usaha dan menyusun strategi guna mendorong perkembangan pelaku ekonomi kreatif kita,” kata Deputi Pemasaran Bekraf Josua Puji Mulia Simanjuntak, disela-sela acara BISMA Goes to Get Member (BIGGER) di Yogyakarta, Selasa (10/07/2018).

Josua mengatakan, database pelaku ekonomi kreatif ini akan menjadi bagian penting dalam upaya pemetaan dan membangun ekonomi kreatif serta menyusun kebijakan dan menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang kondusif.

Baca Juga :  Peluncurkan Nova Series dengan Fitur 4 Kamera AI Sedot Perhatian

Pelaku ekonomi kreatif yang terdaftar di BISMA, akan lebih mudah dalam mengakses fasilitas ataupun mendapat dukungan Bekraf dalam pengembangan usaha kreatif mereka.

Direktur Riset dan Pengembangan Bekraf, Wawan Rusiawan mengungkapkan, sosialisasi BISMA di Yogyakarta ini tercatat menjadi yang ke enam secara nasional. Roadshow ini adalah bagian dari kerja keras Bekraf untuk menghimpun para pelaku ekonomi kreatif dalam wadah BISMA.

Upaya ini dipandang penting, karena hanya plaftform digital inilah yang memungkinkan bagi pemerintah untuk mampu menjangkau keberadaan dan berkomunikasi dengan para pelaku ekonomi kreatif nasional.

“Satu contoh kecil saja, kalau kita ada kesempatan pameran d manca negara misalnya, kita sering dikomplain pelaku ekonomi kreatif yang tidak ikut. Ini hanya karena kita tidak punya database mereka. Padahal kita sendiri kadang juga kesulitan menemukan pelaku ekonomi kreatif yang pas untuk diikutkan pameran tersebut. Dengan aplikasi ini, ke depan kami berharap memiliki databse yang lengkap tentang usaha kreatif di Indonesia. Bukan hanya bidang garapnya, tapi juga sampai detail usahanya,” kata Wawan.

Baca Juga :  New SX4 S-Cross Sudah Ready Stock di Jogja

Sementara, Direktur Harmoninasi Regulasi dan Standarisasi Bekraf, Sabartua Tampubolon menambahkan, terkait keberadaan pelaku ekonomi kreatif, salah satu hal yang penting dan menjadi pemikiran adalah persoalan HAKI.

Berdasarkan  data, tahun 2016, hanya 11 mendapat perlindungan HAKI atas produk-produk atau karya mereka.

“Kami meyakini bahwa hak kekayaan intelektual adalah jantungnya pelaku ekonomi kreatif. Persoalannya, sangat banyak dari mereka yang belum mengurus HAKI. Padahal sekarang ini, biaya bukanlah persoalan. Banyak departemen dan lembaga yang memfasilitasi pengurusan HAKI. Termasuk kita,” katanya.

Terkait hal ini, pihaknya, kata Sabartua, sedang menyiapkan RUU Ekonomi Kreatif dan Sertifikasi Profesi, untuk memberikan perlindungan bagi para pelaku.(SM)