Pemuda Muhammadiyah dan NU Ikut Bersihkan Gereja Bedog

96
Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI memimpin apel kegiatan bersih-bersih yang dilakukan FKUB Kabupaten Sleman di Gereja St Lidwina Bedog Trihanggo Gamping Sleman, Selasa (13/02/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Pasca-insiden berdarah yang mengakibatkan 3 umat dan 1 pastor terluka saat sedang melakukan ibadah Misa pagi di Gereja St Lidwina Bedog Trihanggo Gamping Sleman, Minggu (11/02/2018), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sleman yang terdiri dari tokoh dan ormas keagamaan melakukan gotong-royong bersih-bersih gereja tersebut.

Kegiatan ini diawali dengan apel yang dipimpin Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, Selasa (13/02/2018).

Ketua Gereja St Lidwina, Soekatno, menjelaskan kegiatan gotong-royong ini diikuti kurang lebih 120 orang dari unsur warga dan berbagai ormas yang ada di Gamping, di antaranya Pemuda Muhammadiyah, NU, Aisyah, dan MUI.

Soekatno berharap melalui kegiatan gotong royong bersih-bersih ini dapat memberikan dukungan moral pada umat yang ada di Bedog pasca-insiden.

Baca Juga :  UMY Luncurkan Prodi Program Profesi Insinyur

Dirinya bersama umat Gereja Lidwina sangat membuka tangan untuk menerima bantuan dalam bentuk apapun dari ormas maupun warga yang ada di Gamping untuk bersama-sama dapat menurunkan stres umat.

“Dengan adanya kebersamaan ini,  umat merasa nyaman dan menunjukkan bahwa kami tidak sendiri,” katanya.

Bupati Sleman, Sri Purnomo menyampaikan sebagaimana yang diterangkan Kapolda DIY, pelaku penyerangan bukan warga Sleman. Seluruh jajaran Pemeritah Kabupaten Sleman bersama warga menolak dan mengutuk aksi radikalisme tersebut.

“Melalui kegiatan bersama FKUB ini kami ingin tunjukkan pada masyarakat  Indonesia bahwa Sleman itu sebenarnya damai dan tertib,  kita menolak aksi radikal seperti yang terjadi pada hari Minggu lalu,” kata Sri Purnomo.

Baca Juga :  Tari “Jati Diri Sang Petruk” Juara

Lebih lanjut Sri Purnomo mengingatkan kepada warga masyarakat khususnya warga Sleman untuk terus semakin merapatkan barisan dan cerdas dalam memilah informasi atau berita agar masyarakat tidak berspekulasi ataupun terprovokasi dengan kejadian tersebut.

“Mari kita merapatkan barisan agar tidak mudah terpancing isu-isu yang dapat memperkeruh suasana,” tambah Sri Purnomo.

Aktivitas bersih-bersih ini menurut rencana berlangsung hingga Kamis (15/02/2018), sehingga Jumat dapat digunakan kembali untuk kegiatan keagamaan.

Kegiatannya meliputi pembersihan lingkungan gereja, pengecatan ulang dinding gereja, dan perbaikan barang-barang. (sol)