Pilkada Jateng Bukti Kemenangan Generasi Milenial

99
Bambang Arianto . (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Proses hitung cepat yang dilakukan lembaga survei dalam Pilkada 2018 di Jawa Tengah akhirnya menempatkan pasangan Ganjar-Yasin sebagai pemenang hitung cepat.

Selain itu beberapa Lembaga Survei seperti Indo Barometer misalnya, Ganjar-Yasin menang 56,84 persen atas Sudirman-Ida 43,16 persen. Data masuk 91,00 persen.

Sementara itu, SMRC mencatat Ganjar-Yasin unggul dengan 59,14 persen atas Sudirman-Ida dengan 40,86 suara. Identifikasi tersebut semakin menegaskan kemenangan pasangan Ganjar Yasin tersebut merupakan kemenangan generasi milenial yang memiliki suara tersebar saat ini dengan penetrasi internet yang mencapai 81,7 persen.

Pendapat itu disampaikan oleh pengamat Politik Digital dan Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Bambang Arianto MA, di kampus UNU Yogyakarta Jumat (27/06/2018).

“Menurut saya kemenangan Ganjar-Yasin di Jawa Tengah, sebagai bukti kemenangan generasi milenial. Artinya, pasangan ini menjadi salah satu pasangan yang bisa merebut ceruk pemilih dari generasi milenial. Hal itu disebabkan pasangan ini bisa menampilkan model kampanye kreatif terutama di media sosial. Bahkan saya lihat, para relawan digital dan buzzer pasangan ini tidak terpancing untuk menggunakan kampanye hitam seperti hoax dan ujaran kebencian. Padahal dalam leksikon politik digital, penggunaan kampanye kreatif tentulah bisa menarik simpati generasi milenial dan swing voter,” paparnya.

Baca Juga :  Mereka Terpanggil Ringankan Beban Korban Bencana

Menurut dia, ada dua hal mengapa generasi milenial lebih menyukai kampanye kreatif dalam langgam politik digital. Pertama, pasangan ini mampu membaca perilaku pemilih generasi milenial yang merupakan generasi rasional, memiliki watak kritis, partisipatif, komunikatif dan berjejaring sesuai hobi dan komunitas.

Dengan watak demikian, generasi milenial tentu mendambakan kehadiran para pemimpin egaliter, sederhana, merakyat, tanpa embel-embel protokoler serta memiliki kedekatan dengan harapan kaum muda.

Kedua, generasi milenial merupakan generasi yang memiliki sifat populis dan transformatif. Hal itu dapat dilacak dari kebiasaan para generasi milenial sebagai generasi yang kreatif dan menyukai inovasi.

“Kedua aspek tersebut yang bisa dibaca dan dimanfaatkan dengan baik oleh tim sukses pasangan Ganjar-Yasin. Beberapa materi kampanyenya bisa menarik perhatian dan keinginan generasi milenial. Hal itu berbeda dengan Sudirman Said dan Ida Fauziah yang belum membaca peluang ini. Bahkan beberapa materi kampanyenya terkesan masih sangat ilusif dan sangat sulit diterima oleh generasi milenial. Padahal generasi milenial itu merupakan pemilih cerdas yang selalu mengedepankan rasionalitas, termasuk dalam materi kampanye,” kata dia.

Dia mengatakan, inilah pelajaran penting bagi semua. Pilkada serentak 2018 membuktikan kandidat politik yang tidak bisa menguasai politik digital dipastikan akan terdepak. Bahkan di Jawa Barat pasangan Ridwal Kamil juga bisa memenangi kontestasi karena mampu menarik atensi pemilih dari generasi milenial.

Baca Juga :  Dai Ini Pesan, Anak Jangan “Dicekeli” Motor

Begitu pula di Jawa Timur pasangan Khofifah Indar Parawansa bisa memenangi kontestasi ini karena bisa menarik atensi kaum milenial.

“Saya juga menghimbau untuk para kandidat politik dan partai politik yang akan bertarung pada Pemilu 2019 bisa menampilkan tim relawan digital atau buzzer dengan berbagai model kampanye kreatif. Hal itu bisa digunakan sebagai jalan untuk mendekati segmen ceruk pemilih milenial melalui berbagai konten kreatif kekinian di media sosial. Seperti, mengunakan meme ilustrasi, video, musik, hingga aplikasi game,” terangnya.

Bila kemudian kontestasi politik kedepan selalu diwarnai oleh kampanye kreatif terutama di media sosial, maka secara tidak langsung kita bisa menutup ruang gerak dari para “buzzer-buzzer hitam” yang seringkali menyebarkan hoax dan ujaran kebencian.

“Dengan cara itu pula bisa dipastikan kontestasi politik di Indonesia dapat menjadi salah satu pembelajaran dan pendidikan politik bagi warga,” Jelas Bambang Arianto, yang juga pengajar di UNU Yogyakarta ini. (sol)